
Kim Dan bahkan tidak menyangka, jika wanita yang kini menjadi miliknya itu pernah hamil anaknya, namun sayangnya keduannya tidak berjodoh dengan bayi mereka.
Lagi-lagi takdir mempermainkan kedua insan itu,
Bagi Audi... tidak ada alasan lagi untuk menolak Kim Dan, yang nyatanya pria itu menerimanya apapun masa lalunya. Bahkan belum sepenuhnya pria itu mengetahuinya, akankah jika benar-benar pria itu ketahui, dia akan di perlakukan sama seperti ini? Ataukah dia akan kembali ke masa-masa dulu?
Namun... di dalam hati Kim Dan, amarah dan benci kini menjadi satu. Mengingat tentang Audi yang keguguran. Jika anak yang di kandung oleh Audi tidak keguguran, mungkin anak itu kini berusia tiga tahun, entah selucu apa anak itu jika dia lahir, entah bagaimana rupa anak itu, mirip Audi kah atau mirip Kim Dan. Pikiran-pikiran seperti itu tengah terlintas di pikirannya.
"Audi... aku tidak akan ikut campur tentang masa lalu... Tapi... di Masa depanmu hanya boleh ada aku..." kata Kim Dan menegaskan.
Tapi apakah bisa? Setelah keluarga itu menghancurkan kehidupan gadis yang ada di depannya itu, dan kehilangan janin yang di kandungnya. Apakah bisa, dia tidak akan ikut campur masa lalu Audi?
Audi hanya terdiam, tidak membantah. Kata-kata yang baru saja di katakan oleh Kim Dan, ada sesuatu yang harus di patuhinya, dan juga sesuatu yang tidak bisa dilanggarnya.
Perasaannya sudah mulai lega, karena nyatanya pria pada malam itu adalah Kim Dan;tunangannya saat ini. Entah takdir membawa keuntungan, ataukah sesuatu yang besar tengah berada di depan mereka.
Audi tiba-tiba terpikirkan, mengapa dia tidak bisa melihat masa lalu Kim Dan, bahkan saat tadi dia melihat masa lalu Kim Dan, alhasil dia melukai dirinya sendiri dengan masuk ke dalam masa lalu Kim Dan. Di depan sana, anak-anak di panti asuhan terlihat begitu bahagia.
"Kak Audi..." beberapa anak-anak datang mengerumuni Audi.
"Bagaimana kabar kalian?" tanya Audi.
"Iya, kami baik-baik saja," kata mereka dengan serentak.
Mobil yang berada di belakang mobil yang di naiki Audi, telah datang satu per satu. Audi mengendong dua anak kecil sekalian, mungkin umurnya bisa di taksir usia anak itu 2-3tahun, sedangkan anak-anak kecil lainnya mengikutinya dari belakang.
"Itulah yang membuatnya spesial..." kata Louis pada Maona, ketika melihat Audi tengah di kerumuni anak-anak kecil. "Hal yang membuatnya menarik seperti yang kau lihat di sana, bahkan anak-anak kecil begitu menyukainya," kata Louis sambil melihat ke arah Audi.
Leon manatap pria itu, dia yakin jika pria yang berbahaya itu menyukai adiknya.
"Hhmm... Kakakmu, sepertinya memiliki lawan cinta," kata Leon sambil menunjuk ke arah Louis.
Audi tampak menjadi dirinya sendiri, ketika di kelilingi dengan anak-anak kecil. Kim Dan mengamati dari kejauhan.
Masih teringat jelas, bagaimana hubungan mereka di awal pertunanganmu, walaupun semuanya berawal dari kontrak, tapi nyatanya mereka saling terhubung satu sama lain.
Mengingat kehidupan mereka sehari setelah bertunangan, seperti kehidupan dua musuh yang tengah berperang. Audi yang memiliki emosi stabil, ketika bertemu dengan Kim Dan, dia malah semakin meledak-ledak karena di buat oleh Kim Dan.
"Audi... lama tidak bertemu nak," sapa seorang wanita, pakaiannya melambangkan keagamaan, dia adalah suster di sana.
"Suster Anna..." sapa Audi sambil memberi hormat. "Aku sibuk belakangan ini, jadi tidak bisa datang seperti sebelumnya. Apa barang yang aku kirimkan pekan lalu, sudah di terima?" tanya Audi.
"Semuanya sampai, kau bahkan tidak memberitahu agar aku menyiapkan makanan untuk kalian..." kata suster Anna.
"Tidak perlu... Aku datang, untuk memasakkan makanan enak untuk mereka. Aku sudah berjanji pada mereka," kata Audi.
__ADS_1
"Mereka..." Suster Anna melihat ke arah belakang Audi, begitu banyak orang yang datang.
"Hallo Suster Anna.. Saya ibu mertua Audi..."
Suster Anna tertegun sejenak, mendengar ibu itu memperkenalkan diri. Suster Anna agak menitikan air matanya membuat Nyonya Kim bingung. "aku baik-baik saja, aku terlalu bahagia,"
"Suster Anna... itu... aku... aku..."
Audi berusaha untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
"Tidak apa-apa, sekarang kau sudah bahagia, tidak perlu menjelaskan apa-apa," kata Suster Anna.
Beberapa asisten dan pengawal tengah membantu menyediakan segala keperluan di sana, ada yang mendirikan panggung, dan ada pula yang bermain dengan anak-anak.
Louis melihat Audi yang tengah mengiris bahan-bahan makanan, pikirannya tetap pada gadis itu. Apa pesona seorang Audi pada dirinya? Dia pun berkali-kali bertanya hal demikian, dia bertanya apakah karena gadis itu milik Kim Dan ataukah karena dia benar-benar tertarik pada gadis itu.
Dia mengerutkan keningnya, ketika dia ingat saat dia membaca informasi tentang Audi. Begitu bodohnya mereka yang mementingkan harga diri mereka sendiri, dan membuang kristal yang langka hanya untuk sebuah mutiara murahan, itu yang di pikirkan oleh Louis.
Maona masih belum percaya jika Audi mendapatkan begitu banyak Jackpot di banding dirinya, rasa iri kini semakin bersarang di dalam hatinya. "Harusnya aku yang di sana," kata Maona membatin.
Kim Dan, tengah berdiri di samping Audi dia memilih untuk lebih dekat dengan wanitanya. Di depan begitu banyak orang yang berkunjung di sana, untuk beribadah ketika melihat sepasang kekasih tengah bersama itu, mereka ikut terpukau, bahkan banyak yang memilih untuk tinggal untuk mencicipi makanan kedua orang itu.
"Biar aku bantu.." kata Louis mendekat.
Kim Dan memberikan tatapan tidak suka pada Louis, seakan tengah mengajak untuk berperang.
"Apa boleh aku membantu?" tanya Maona tiba-tiba ingin ikut membantu.
"Tolong potong-potong daging ini," kata Audi.
Minyak panas tengah mendidih di kompor, Audi berencana akan mengoreng ayam, dengan saous pedas.
Ketika Audi ingin mengoreng, Maona tiba-tiba mendorong Audi dengan sengaja. Audi menaikkan bibirnya, tersenyum rupanya gadis itu ingin bermain dengannya. Audi menghindar, membuat Maona mencelupkan tangannya ke dalam minyak panas itu, membuat tangannya melepuh.
"Auuwww..." rintih Maona ketika tangannya menyentuh minyak panas.
"Kau baik-baik saja?" tanya Audi.
Maona menepis tangan Audi. "Kau seharusnya jangan bermain-main denganku lagi. Tunggu setelah kita pulang dari sini, aku akan menyelesaikanmu," kata Audi berbisik, kata-kata begitu dingin membuat Maona merinding.
Ini pertama kalinya dia merasakan ada aura membunuh dari seorang Audi. Tiap-tiap kata yang keluar begitu mengandung arti hingga membuatnya begitu ketakutan.
"Biar aku bantu..." kata Audi lagi, entah kenapa Maona menggigil, dan tidak berani untuk membantah, gadis itu malah mengikut apa yang di katakan oleh Audi.
Respon yang cepat, ketika Louis melihat kejadian itu. Kim Dan, memang tengah fokus dengan masakannya, dia kurang memperhatikan Audi yang hampir saja terluka.
__ADS_1
"Apa kau terluka?" tanya Louis, tatapan pria itu langsung berubah dingin ke arah Maona.
"Tidak apa-apa," kata Audi.
Begitu banyak orang yang datang di sana, karena hari yang mereka pilih adalah hari libur, dan hari di mana para jemaat begitu banyak yang datang.
Audi, Kim Dan, dan beberapa orang asisten tengah memasak untuk mencukupi makanan untuk di hidangkan untuk mereka.
"Kau pergilah, aku yang akan mengurus di sini. Bukankah kau bilang, kau ingin melakukan pelayanan medis," kata Kim Dan mengingatkan Audi.
Sebuah panggung, di sana tengah di kelilingi oleh anak-anak dan juga orang dewasa, mereka ingin melihat seorang Joona-Bobo, sang artis terkenal tengah tampil di sana.
Pelayanan Medis, menghibur anak-anak, memberikan banyak hadiah, dan masih begitu banyak kegiatan yang mereka lakukan di sana.
Pesona Kim Dan, Hyun Joo, Louis, serta Loen yang tengah mengambil alih dapur untuk memasak, membuat para wanita-wanita baik tua ataupun muda duduk di hadapan mereka. Sepertinya mereka begitu terhipnotis. Sedangkan Audi tengah memberikan pelayanan medis di bantu oleh beberapa orang di sana.
"Audi..." panggil seorang wanita pada Audi yang tengah berbincang-bincang dengan Hyun Joo.
Audi menengok ke arah asal suara, seorang gadis menggunakan pakaian mewah serta kacamata hitam bertengger di hidungnya itu menambah kesan seorang wanita yang menyukai fashion.
Audi memicingkan matanya, seakan Audi tidak menyukai wanita yang datang itu. Audi memang tidak menyukainya.
"Aku tidak tahu kau bersembunyi di sini setelah keluar dari penjara. Lihatlah, kau masih saja sampah seperti dulu, Hansen sepertinya benar-benar beruntung tidak menikah denganmu,"
"Audi... siapa Hansen?" tanya Hyun Joo.
Audi menundukkan kepalanya, seakan dia benar-benar tengah mengontrol emosinya, ketika mengingat bagaimana gadis di hadapannya itu tidak pernah berhenti menghinanya terus menerus sejak dulu.
"Ah... benarkah? Sepertinya aku yang benar-benar beruntung tidak menikah dengan Hansen, daripada dia menikah dengan seokor siluman rubah," kata Audi sambil menatap wanita itu.
Wanita itu gemetar hebat, dia baru pertama kali melihat sosok Audi yang begitu berani melawannya.
"Kau... tunggu saja, aku akan membalasmu..." kata wanita itu segera pergi dari hadapan Audi.
Audi langsung berjongkok, karena dia begitu gemetar ketika mengeluarkan beberapa kata untuk wanita yang dulu selalu menghina dan membully-nya.
Rasa takut dan juga rasa trauma, dia benar-benar masih merasakan hal itu. Obat penenangnya di ambilnya dari kantong untuk menenangkannya.
Audi duduk di kursi yang mereka sediakan untuk menenangkan pikirannya, wajahnya pucat, dan tubuhnya masih gemetar ketakutan.
"Kakak dia gadis yang menghinaku..." rupanya wanita itu pergi merengek pada kakaknya.
"Dia gadis itu?" tanya pria itu, sambil memegang dagu Audi, namun di tepis oleh Audi.
Audi melihat ke arah pria yang tengah berdiri di hadapannya itu. Audi dan pria itu sama-sama begitu terkejut ketika melihat satu sama lain.
__ADS_1
"A... aa... Audi?" pekik pria itu.