
Di ruang Interogasi Hanna duduk sambil berhadapan dengan penyidik. Hyun Joo tidak berani menintrogasi sahabatnya sendiri.
Penyidik itu keluar dari ruang introgasi, sambil membisikkan sesuatu pada Hyun Joo. Membuat Hyun Joo masuk ke dalam ruangan yang berukuran kecil itu, apalagi dengan suhu ruangan yang agak dingin dan lampu yang redup.
"Kau ingin tahu mengapa aku menyukainya?" tanya Hyun Joo pada sahabatnya itu.
Tatapan mata Hanna terasa penasaran, sebenarnya apa kekurangan dirinya, sampai pria di hadapannya itu sama sekali tidak pernah menyukainya.
"Sebenarnya... Aku tidak benar-benar menyukainya. Aku dengan Audi hanyalah sebatas teman, tidak lain. Mungkin, jika aku menyukainya aku hanya bisa memendam perasaanku, karena tidak ada diriku di dalam hatinya,"
"Kau ingin tahu mengapa aku tidak pernah menyukaimu, jawabannya bukan aku tidak pernah menyukaimu, hanya saja aku takut kehilanganmu sebagai sahabatku, Aku takut jika di masa yang akan datang hubungan kita retak, dan aku tidak bisa menjadi sahabatmu lagi,"
Hanna menatap pria yang telah lama di sukainya dengan tatapan rasa bersama. Dia tidak pernah berpikir jika sebenarnya, pria yang dia sukai takut kehilangan dirinya.
"Cinta tidak bisa di paksakan, aku hanya mengikuti kata hatiku," kata Hyun Joo. "Aku tidak ingin kau membunuh orang lain lagi yang berada di dekatku, karena kau adalah sahabat terbaikku," kata Hyun Joo sambil meninggalkan gadis itu.
"Tunggu... aku ingin bertanya sesuatu lagi..."
"Apa kau menyukai gadis itu?"
Hyun Joo terdiam sejenak, kemudian memasang senyum di wajahnya. "Ya, aku menyukainya." kata Hyun Joo kemudian menghilang dari pintu ruangan itu.
Audi menatap pria yang baru saja turun dari mobil itu. Rambut Perak, mata merah, dan wajah yang tampan rupawan. Para Asisten yang baru melihatnya langsung terpesona, sama halnya dengan Audi.
Hadirnya Kim bersaudara di kehidupannya, membuat hidupnya agak berbeda dari sebelumnya. Selalu terdapat masalah, dan juga kejadian yang membawa bahaya. Apalagi statusnya yang saat ini adalah tunangan seorang Kim Dan.
Pria berambut perak itu berjalan penuh dengan karismanya di bawa sinar matahari. Seperti seorang pangeran yang baru saja turun dari kudanya. Sayangnya pria itu mengendarai mobil bukan seekor kuda.
Tangannya langsung meraih pinggang ramping milik Audi, memasukkan Audi masuk ke dalam Pelukannya.
"Aku mencarimu semalaman," ucap pria itu. "Bisakah kau tidak marah lagi padaku?" tanya Kim Dan sambil mengangkat dagu milik Audi.
Ada kekhawatiran ketika gadis itu pergi tidak meninggalkan pesan untuknya.
Seketika Audi menangis di pelukan Kim Dan, sebenarnya waktu tidak tepat untuk menangis hanya saja air mata milik gadis itu, langsung tumpah ketika memeluk pria berambut perak itu.
"Apa yang terjadi?" tanya Kim Dan.
"Jul... Julian... Bagaimana kabarnya?" tanya Audi dengan terbata-bata.
"Dia baik-baik saja, lagi pula dia mencarimu," kata Kim Dan. "Aku akan mengantarkanmu menemuinya," kata Kim Dan lagi sambil mengelus lembut pipi Audi.
Entah apa yang ditakuti oleh gadis itu? Dia akan di khianati lagi atau kah tidak akan ada yang percaya padanya atau dia tidak bisa menghadapi apa yang akan terjadi di depannya. Semalam dia berpikir, kemudian dia mendapatkan jawaban atas pertanyaan yang mengusiknya selama ini. Dia bukan takut di khianati lagi, bukan pula tidak sanggup menghadapi kenyataan yang akan datang di depan sana, tapi yang dia takutkan adalah tidak bisa melindungi orang-orang yang di sayanginya, mereka yang hadir di hidupnya, dia takut tidak menjaga mereka. Itulah yang sebenarnya dia takutkan.
__ADS_1
"Sebelum ke rumah sakit, apa kita bisa ke kantor polisi dulu?" tanya Audi. "Aku ingin bertemu dengan Hanna,"
"Tapi... bagaimana jika...."
"Kau bisa menemaniku..."
"Baiklah..."
Audi menatap ke luar jendela, hari itu langit Seoul begitu bersih, tidak ada sedikit pun awan di langit, Beberapa burung-burung tengah terbang bebas di angkasa. Udara masuk ke dalam mobil yang tengah melaju itu, sesekali Audi memejamkan matanya menikmati angin yang tengah berhembus lembut itu.
"Tutup kembali kacanya, kau akan masuk angin," kata Kim Dan.
"Aku sudah memikirkannya,"
"Eeee.. apa yang kau pikirkan?"
"Selama ini, aku terfokus pada diirku yang takut akan di khianati, sebenarnya hal paling aku takutkan adalah kehilangan mereka yang menyayangiku, mereka yang ada di kehidupanku saat ini. Begitu ketakutannya diriku, sampai aku takut tidak bisa melindungi apa yang seharusnya aku lindungi," kata Audi dengan nada pelan sambil meremas jari telunjuk kiri miliknya.
"Dulu aku hanya sendiri, jadi tak ada yang harus ku lindungi kecuali diriku sendiri dan juga hasil kerja kerasku. Kehadiran kalian di hidupku saat ini, sedikit berwarna, aku takut tidak bisa menjaga yang saat ini ada," kata Audi sambil melihat ke arah Kim Dan.
Pria berabut perak itu mengerti tentang apa yang di katakan oleh Audi, dia paling mengerti tentang perasaan gadis itu, tentang apa yang terjadi pada gadis itu.
"Daripada aku terus bersembunyi, lebih baik jika aku berusaha untuk menjaga apa yang aku miliki,"
Kim Dan memberhentikan mobilnya kemudian melihat gadis itu. Dia mendekat ke arah gadis itu membuat detak jantungnya kembali berdegup.
Kim Dan melihat wajah yang salah tingkah itu.
"Aku memasangkan sabuk untukmu," kata Kim Dan, seakan dia tengah menjahili gadis itu.
"Hhm... tapi kau bisa katakan saja padaku," kata Audi, wajahnya mulai panas dan memerah, hingga membuatnya memalingkan wajahnya ke arah jendela.
Kim Dan tersenyum melihat tingkah gadis itu. Kemudian mencium lembut kepala milik gadis itu. Membuat Audi mengepalkan tangannya.
"Kita berangkat sekarang," kata Kim Dan sambil kembali menyetir. "Oh iya, hari ini bukankah hari pertama Leon di perusahaan?" tanya Kim Dan.
"Iya, aku tidak ingin bertemu dengannya. Biarkan berjalan apa adanya," kata Audi.
Hanna berada di balik kaca ruang tunggu tahanan.
"Untuk apa kau datang?"
"Aku ingin mengatakan beberapa hal padamu. Aku benar-benar ingin berteman denganmu, aku tidak bermaksud untuk membuatmu masuk ke dalam penjara, hanya saja aku juga tidak bisa membiarkan orang lain terluka. Jojo mengatakan padaku, jika kau adalah sahabat terbaiknya, dia tidak ingin kau berada pada jalan yang salah,"
__ADS_1
"Kita berdua sama-sama seorang dokter, sama-sama seorang perempuan. Aku ingin mangatakan, jika cintamu tidak salah, hanya saja kau salah dalam hal mencintai, mencintai adalah sesuatu yang harus mengalir seperti air, kau harus mendapatkan perhatiannya dengan tindakanmu. Kau seharusnya mengungkapkan perasaanmu padanya lebih awal, tidak masalah untuk seorang wanita mengungkapkannya. Ego terkadang harus di buang,"
Hanna hanya menatap Audi, dia tidak bisa berkata apa-apa lagi. Sepertinya apa yang di katakan oleh Audi adalah hal yang benar, jika menyukai harusnya di ungkapkan bukan di simpan di dalam perasaan.
Waktu berlalu, Audi hanya bisa menatap layar ponselnya.
"Julian akan mengadakan jumpa pres hari ini. Tidak ada yang merekam wajahmu kemarin jadi kau tidak perlu khawatir. Dia ingin menjelaskan tentang kejadian itu, tenang saja Louis juga akan memberikan pernyataan yang sama kok,"
Audi hanya terdiam, tidak berkomantar, ataupun mengatakan apapun terkait dengan apa yang tengah terjadi.
"Setelah Julian sembuh dia ingin mengekpsos hubungan ke publik," kata Kim Dan. "Kau tahu siapa pacarnya?" tanya Kim Dan, Audi hanya mengelengkan kepalanya pertanda tidak tahu tentang pacar Julian.
"Kau benar-benar tidak tahu?" tanya Kim Dan ingin meyakinkan.
"Iya, karena aku tidak ingin melihat tentang Julian,"
"Pacar Julian adalah Tiandra Anggara," kata Kim Dan memuat mata Audi membulat.
Kim Dan mengerti tentang ekspresi Audi seperti itu.
"Julian ingin segera bertunangan dengan Tiandra," kata Kim Dan. "Apa yang ingin kau lakukan sekarang? Keluarga Anggara akan menjadi besan keluarga Kim, Identitasmu pasti akan segera di ketahui oleh mereka,"
"Aku hanya berencana untuk tidak memakai identitas sebagai tunanganmu, jika Julian ingin menikahi gadis itu, aku ingin Julian mengetahui dengan benar sifat gadis itu, setelah Julian mengetahuinya biarkan dia yang memutuskan," kata Audi dengan nada tenang. "Aku hanya akan memakai identitasku bekerja di perusahaanmu, soal Maona biarkan saja dia bertindak seperti yang dia inginkan,"
"Kau seperti tengah menjualku untuk di goda oleh gadis-gadis lain,"
"Aku hanya ingin membuatnya malu karena terlalu berharap pada sesuatu yang bukan miliknya. Saat dia membuat rumor tentang diriku yang memiliki sugardady, serta foto yang bertebaran di grup kampus, aku terlalu malu. Tidak pernah ada orang yang membuatku semalu itu,"
"Tidak masalah jika mereka ingin menghinaku lebih dulu, setidaknya aku akan mengumpulkan kekuatan yang banyak untuk membuat mereka kalah sepuluh kali lipat dari apa yang telah mereka lakukan padaku. Sampai saat itu, aku ingin menyembunyikan segala kemampuan yang aku miliki," kata Audi dengan nada penuh dengan ketenangan dan juga ketegasan di dalamnya.
Beberapa wartawan tengah berada di depan rumah sakit, mereka ingin mendengarkan pernyataan yang resmi dari Julian Kim serta Presdir Louis Choi, mengenai gadis yang mereka lindungi sampai rela menerima tusukan pisau untuk menyelamatkan Audi.
Audi teringat tentang bagaimana kelakuaan Tiandra padanya dulu, seorang Tiandra hanya mementing status sosial saja, bahkan selalu menghina dan bersikap sombong pada orang yang lebih rendah darinya.
"Oh iya, Julian ingin Tiandra berada di naugan agensi yang sama dengan Bobo," kata Kim Dan.
"Gadis itu begitu sombong, jika seseorang punya latar belakang yang tidak bagus dia akan merendahkan orang itu," kata Audi.
"Hhm... Apa aku menyuruh direkturnya untuk tidak menerima gadis itu?" tanya Kim Dan.
"Tidak, lebih bagus jika dia ada di sini, akan lebih muda membantunya memperlihatkan dirinya yang sebenarnya,"
"Sepertinya kau membenci gadis itu?"
__ADS_1
"Aku bersalah pada seseorang, tiga tahun lalu Tiandra memintaku mengirimkan sebuah undangan pernikahanku dengan Hansen pada seseorang, kedudukannya tinggi, bisa membantu mereka untuk urusan perusahaan, mereka ingin menjebak pria itu agar menikah dengan Tiandra. Aku tidak tahu apa yang terjadi pada pria itu, yang jelas setelah aku keluar dari penjara Tiandra belum menikah, mungkin dia gagal menjebak pria itu," ucap Audi dengan nama penyesalan.
Ya, Kim Dan pun tahu hal itu. Karena pria itu adalah dirinya, dan lebih lucunya adalah gadis itu adalah dirinya, namun Audi belum menyadari tentang pria yang duduk di sampingnya itu adalah pria yang di kirimkannya undangan.