
Pria yang di hadapannya itu, begitu sempurna untuk ukuran seorang manusia menurut Audi, paras yang tampan rupawan seakan tengah menjelma menjadi malaikat. Rambutnya berwarna perak, bola matanya yang berwarna merah, aura dingin mengelilinginya, peragainya yang tengah memegang garpu dan pisau itu, menambah kesempurnaan seorang Kim Dan.
Audi terhipnotis dengan sosok itu, namun dia berada di sisi pria itu tidak lebih untuk menyembuhkan penyakit yang di deritanya, walaupun kini statusnya adalah tunangan pria itu.
Beberapa bulan setelah pindah ke negara gingseng itu, dia pun mengganti kewarganegaraan. Dia ingin melupakan hal tentang masa lalunya yang begitu menyakitkan, walaupun tidak sepenuhnya benar-benar dia lupakan.
“Aku akan ke Luar Negeri dua minggu lagi, kau harus ikut denganku,” kata Kim Dan.
“Kemana?”
“Indonesia,” jawab pria itu.
Tubuh Audi bergetar hebat, ketika mendengar hal itu, bagaimana tidak negera itu memiliki kesan buruk untuknya.
“Bisakah aku tidak ikut?” tanya Audi dengan terbata-bata.
“Kau harus ikut denganku. Kau adalah tunanganku,” kata Kim Dan dengan nada tegas apalagi memberikan tekanan pada kata tunangan, seakan gadis itu wajib ikut dengannya.
Audi hanya terdiam, dia tidak bisa menahan dirinya lagi, rasa takut dan kenangan buruk itu tiba-tiba muncul di pikirannya.
“Aku ke toilet dulu,” kata Audi sambil melangkah pergi meninggalkan pria itu.
Langkah kakinya agak sempoyongan karena rasa pusing dan mual, ketika mendengar nama negera itu di sebutkan oleh orang lain dia sangat ketakutan.
Dia membasuh wajahnya dengan air sambil mengatur nafasnya dengan benar dan mencoba untuk menenangkan pikirannya.
“Huh!” Audi mengempaskan dengan sangat kasar nafasnya itu. “Kau akan baik-baik saja, Audi...” gumamnya sendiri. “Kau harus bisa menahannya, kau sudah melewatinya, kau jangan lemah hanya karena masa lalu itu,” gumamnya lagi sambil merilekskan pikirannya agar tidak memikirkan hal itu.
Audi kembali ke meja makan, dengan wajah yang sedikit pucat. Masih memikirkan hal-hal yang buruk tentang kejadian di negara itu. Bagaimana dirinya, di jatuhkan dan di bunuh secara perlahan-lahan, hingga jatuh ke dasar paling dasar di bawa jurang. Hingga keinginan untuk bunuh diri selalu datang.
Mungkin, dia harus berterima kasih kepada rasa dendam yang muncul di hatinya, yang membuatnya ingin hidup dan bertahan sampai beberapa tahun ini. Namun, dendam yang di simpan di dalam hatinya itu berkembang menjadi trauma yang begitu menyakitkan, rasanya seperti hidup engan, mati tak mau.
“Aku menyuruh mereka untuk menyiapkan ruangan untukmu. Pastinya, berdekatan dengan ruanganku,” kata Kim Dan.
Audi tidak mendengarkan apa yang di katakan oleh Kim Dan, pikirannya melayang.
“Au... Audi... apa kau mendengarkanku,”
“Eee... apa yang kau katakan? Aku tidak mendengarnya,”
“Apa yang kau pikirkan, sampai melamun dan wajahmu pucat seperti itu?”
“Sudahlah, ini masalah perempuan, kau tidak boleh tahu,”
“Mengapa aku tidak boleh tahu?”
“Memangnya, jika aku menyuruhmu membelikan keperluan perempuan kau mau?”
“Tidak ada yang tidak bisa ku lakukan,” kata Kim Dan dengan nada sombong tengah memamerkan dirinya sendiri sambil menyerup teh miliknya.
“Aku butuh pembalut,” kata Audi dengan tiba-tiba membuat pria itu menyemburkan keluar minuman miliknya itu.
David yang berada di sekat sebelah, tertawa terbahak-bahak mendengar apa yang dikatakan oleh Audi. Pastinya, gadis itu hanya ingin mengisengi pria itu.
“Kau boleh meminta yang lain, seperti membelikanmu pakaian...”
“Jika pakaian dalam bagaimana?” tanya Audi sambil menahan tawanya.
__ADS_1
Wajah pria itu merona, dia menyadari jika tengah di jahili gadis itu.
“Aku bercanda...” kata Audi sambil tertawa, dia bisa melihat dengan jelas bagaimana wajah pria yang tengah di jahilinya itu. Walaupun dia seorang pria yang memiliki sifat dingin seperti kebanyakan yang orang katakan, tapi di mata Audi pria itu hanyalah seorang pria biasa.
“Apa kau sedang menggodaku?” tanya Kim Dan sambil mendekatkan wajahnya ke arah gadis itu.
Senyuman sinis penuh kejahilan kini terukir di wajah pria itu. Mereka berdua seperti air dan api yang tidak bisa bersatu, saling berbenturan di saat yang bersamaan.
Audi yang menghadirkan sifat dingin, sama halnya dengan Kim Dan yang memiliki sifat sedingin milik Audi.
“Sebaiknya kita kembali,” kata Audi berusaha untuk mengalihkan pembicaraan.
Dia bukannya tidak tergoda dengan pesona pria itu, namun untuk jatuh cinta dia tidak ingin lagi terjatuh dan menjadi seseorang yang sangat hina seperti dirinya yang dulu. Mengatasnamakan cinta, dan menjunjung nilai cinta begitu tinggi. Rasanya kini terbeku di dasar hatinya entah kapan akan terlepas dari kebekuan.
“Apa kau sedang mengalihkan pembicaraan?” tanya Kim Dan sambil menarik kembali wajah Audi yang di palingkan ke samping.
“Dan-ah...” panggil Audi dengan nada pelan membuat pria itu terdiam.
“Beraninya kau memanggilku seperti itu...”
Audi tertawa.
David yang sedang berada di antara mereka itu hanya bisa terdiam, menyaksikan apa yang tengah di lihatnya.
“Apa kau suka aku memanggimu seperti itu?” tanya Audi.
Pria itu langsung pergi tidak menjawab pertanyaan Audi.
“David, ayo kita kembali ke kantor,” kata Kim Dan.
Ada rasa kesal karena gadis itu memanggilnya seperti tengah memanggil seorang anak kecil saja. Namun panggilan gadis itu masih terngiang di kepalanya.
“Em. Sebanyak yang aku tahu, dia baru saja memiliki kewarganegaraan korea selatan sekitar tiga tahun ini, kehidupannya biasa-biasa saja, kuliah, dan kerja. Tidak pernah memiliki teman di kampus, yang ada hanyalah musuh yang tidak menyukainya. Aku rasa ada yang berbeda dengan gadis itu,”
“Cari tahu lebih tentang kehidupannya sebelum di sini,” perintah Kim Dan, David hanya bisa mengikuti perintah yang di berikan untuknya. “Dimana dia?” tanya Kim Dan ketika melihat jika gadis itu tidak ada bersamanya.
“Nona mengatakan dia ingin menemui temannya,”
“Teman?” tanya Kim Dan mengertutkan hatinya. “Apa dia punya teman?” tanya Kim Dan dengan nada aneh dan bingung, setahunya gadis itu tidak memiliki teman.
“Nona ada teman, tapi bukan teman kampusnya. Tuan Hyun Joo adalah teman yang sering aku lihat bersamanya,” kata David.
Kim Dan mengepalkan tangannya dengan sangat erat mendengar nama itu. “Hyun Joo?”
Entah apa yang membuat pria itu, sangat membenci adiknya itu, alasannya bukan tentang mereka berebutan kursi COE, bukan pula tentang seorang gadis, namun hal lain. Mungkin lebih rumit dari perkiraan.
Audi duduk sambil memejamkan matanya, dia meminum obat tidur agar tidak memikirkan hal yang mengganggu pikirannya sejak tadi.
Evye datang dengan cepat saat Audi hampri terlelap, untung saja masih bisa mengenali Evye.
“Evy, memberi tahu jika nona sudah pulang ke Apartement mu,”
“Suruh dia untuk membeli bahan makanan dan keperluan wanita,” kata Kim Dan sambil merapikan jasnya. “Kita kembali ke kantor,” kata Kim Dan lagi sambil memejamkan matanya.
Audi dengan pulasnya tertidur di kursi penumpang. Hari yang begitu berat untuk di laluinya, dia merasa jika tidur adalah hal yang tepat untuk melewati hari ini.
Evye meminta bantuan Hyun Joo untuk menggendong gadis itu masuk ke Apartement milik Kim Dan. Mungkin daripada mengatakan Apartement, lebih tepatnya sebuah Penthouse, dengan ukuran yang sangat luas, bagian atasnya pun terdapat taman.
__ADS_1
Kamar dengan ukuran cukup luas, dan juga miniatur serta cat dinding yang berwarna merah muda menambah kesan feminim.
“Terima kasih atas bantuanmu saat ini,” kata Evye.
“Hanya bantuan kecil, tidak masalah,” kata Hyun Joo. “Tapi, kenapa dia...”
“Dia minum obat tidur,”
“Hm, obat tidur. Kenapa siang hari minum obat tidur,” gumam Hyun Joo membatin.
Kim dan, begitu sibuk mendekorasi ruangan yang akan di tempati tunangannya itu.
Di lantai bawah seorang wanita tengah menerobos masuk.
“Hei, biarkan aku masuk. Aku ini tunangan direktur kalian,” kata gadis itu.
Kabar tentang jika direktur mereka telah memiliki tunangan memang telah tersebar di perusahaan itu. Membuat para pengawal itu memberikan izin, mereka takut jika akan bernasib sama dengan kedua orang yang sebelumnya.
“Tuan David, tunangan direktur ingin bertemu,” kata seorang gadis.
David agak sedikit aneh, mengapa gadis yang seharusnya ada di rumah sedang berada di sini.
“Biarkan di masuk,” kata David memberikan perintah. “Nona muda ada di sini,” kata David sambil membisik pada Kim Dan.
“Bukannya tadi, kau bilang dia lagi di rumah? Kenapa ada di sini?” tanya Kim Dan dengan perasaan aneh juga.
Suara langkah kaki terdengar dengan angunnya, pakaiannya pun agak terbuka dengan dres langsung yang santai.
“Kim Dan...” panggil seorang wanita sambil membuka pintu ruang kerja milik Kim Dan.
Seorang gadis yang membuat wajah Kim Dan berubah, dan memicingkan matanya menatap dingin gadis itu.
“Jessica Kang, bagaimana kau ada di sini, bukankah kau ada di Amerika?” tanya David melihat gadis yang baru saja datang itu.
“Aku baru tiba, dan langsung ingin bertemu denganmu karena aku merindukanmu,” kata gadis yang di panggil Jessica oleh David.
Kim Dan menepis tangan milik Jessica yang tengah memegang bahunya itu.
“Mengapa kau dingin sekali padaku, aku datang dengan cepat karena aku mendengar kau bertunangan dengan seorang gadis yang tidak di ketahui asal usulnya itu,” kata Jessica dengan tatapan kesal penuh dengan kebencian.
Jessica Kang, adalah adik dari COE Kang dan gadis itu yang seharusnya bertunangan dengan Kim Dan. Kim Dan tidak menyukai gadis sejak dulu, karena itu dia memilih Audi sebagai tunangannya.
David menunggu di luar ruangan karena hal yang tengah terjadi bersifat pribadi. Sebuah pesan masuk ke dalam ponsel milik David.
“Bisakah kalian pulang cepat, Nona muda mengunci pintu kamarnya sejak dia bangun,”
Tubuh Audi bergetar hebat, dia meringkuk dengan ketakutan di sudut dinding yang gelap. Kenangan di masa lalu lagi-lagi teringat olehnya.
David mengetuk pintu, dan memberikan isyarat jika ada hal penting.
Kim Dan beranjak dari tempat duduknya dan melangkah ke arah pintu sambil merapikan jas miliknya.
“Jessica...” langkah kaki Kim Dan terhenti. “Jangan mengaku jika kau adalah tunanganku lagi kepada orang-orang,” tatapan pria itu begitu dingin melihat ke arah Jessica. “Apa yang kau dengar memang benar! Aku memiliki tunangan, dan status sebagai Nona Muda di keluarga Kim tidak cocok untukmu,” kata Kim Dan dengan nada meremehkan dan senyum sinis tengah menghina gadis yang ada di hadapannya itu.
Gadis itu, mengepal erat tangan miliknya sendiri, giginya mengeretak karena menahan kekesalan karena penghinaan itu.
“Kim Dan, aku tidak terima penghinaanmu ini, aku akan membuatmu menyesal dan memohon padaku,”
__ADS_1
“Lakukan saja, tapi kau harus tahu sekali lagi, jika aku adalah Kim Dan,”
Kim Dan meninggalkan gadis itu di ruangannya, rasa benci makin bertambah di hati gadis itu, berjanji akan menghancurkan gadis yang menjadi tunangan pria itu.