
Dilara Tampak sibuk berkutat didapur, setelah melewati sesi makan pagi dia membereskan semuanya peralatan makan mereka dan mulai membersihkan semua nya satu persatu.
Sedang kan Denish terlihat sibuk dengan laptop nya.
Sejenak Dilara mencoba mengintip ke arah Denish untuk beberapa waktu, dia terlihat mengulum senyuman nya, wajah nya seketika memerah saat dia ingat soal ciuman pertama mereka semalam.
Laki-laki itu benar-benar membuat dia nyaris kehilangan keseimbangan nya, satu ciuman lembut di bibir mampu membuat dirinya kehilangan kata-kata.
Setelah selesai dengan perkejaan nya Dilara fikir di akan melesat masuk kekamar nya, tapi tiba-tiba Denish berkata.
"Bersiap lah, kita akan pergi sebentar lagi"
Ucap Denish tiba-tiba dari arah belakang.
Sontak gadis itu terkejut, langsung menoleh secara spontan.
"Ki..ta mau kemana?"
Tanya Dilara dengan perasaan gugup.
Wajah nya lagi-lagi memerah.
Laki-laki itu selalu bisa membuat perasaan nya menjadi tidak karuanan.
"Kita akan membeli beberapa barang yang kamu butuh kan"
Ucap Laki-laki itu lagi sambil mengulum senyuman ketika melihat ekspresi wajah Dilara yang terlihat manis dihadapan nya.
"Ahh... aku akan berganti pakaian"
Ujar Gadis itu cepat lantas secepat kilat Dilara menghilang dari hadapan Denish menuju ke kamar nya.
Dia buru-buru menutup pintu kamar dengan perasaan malu, bersandar di dinding pintu sambil mengulum senyuman nya untuk beberapa waktu.
Kemudian dia dengan cepat berjalan mendekati susunan lemari yang kata Denish nama nya adalah Walk in closed.
__ADS_1
Mencari satu pakaian yang paling pantas dia gunakan untuk keluar bersama Denish.
*******
Bola mata Dilara menatap bangunan besar yang ada di hadapannya itu dengan jutaan kekaguman.
Dia fikir ada bangunan rumah sebesar itu.
Denish berkata itu adalah Mall, dia jelas tidak paham dengan apa yang di ucapkan Denish, yang dia tahu bangunan gedung tersebut terlalu mewah, besar, menjulang tinggi dan entahlah, mungkin lebih tepatnya menyilaukan mata.
Apalagi saat dia melihat berbagai macam barang-barang indah yang dipajang dimana-mana, para perempuan cantik, gadis cantik atau laki-laki dengan wajah bervariasi menyapa diri nya di sepanjang perjalanan.
Dia fikir apa dia harus melepaskan alas kaki nya?. Sebab gedung nya terlalu bersih dan mewah, lantai nya seolah-olah tidak boleh di injak dan di kotori.
Tapi Denish berbisik dengan sabar kearah dirinya.
"Tidak usah dilepaskan, semua orang menggunakan alas kaki mereka"
Begitu Denish berkata tidak usah dilepas, Dilara langsung menatap kaki demi kaki orang-orang yang berlalu lalang disekitar mereka.
Ahhhh benar-benar tidak dilepas.
Dan kali ini Denish membàwa nya ke sebuah ruangan kaca yang bulat, mereka masuk kesana lalu berdiri diam disana.
Ada tombol-tombol mewah yang dia tidak paham apa fungsi nya, Denish terlihat menekan tombol nya dengan gerakan cepat.
Lalu tiba-tiba mereka bergerak naik.
"Oh..."
Dilara langsung berpegangan pada Denish.
Dia fikir rasanya persis seperti saat dia naik ruangan aneh di dalam rumah mereka yang Denish katakan jika rumah mereka nama nya adalah apartemen Di mana ruangan aneh itu Denish bilang nama nya Lift kamar atau elevator.
Berbeda di mana tempat mereka tinggal, ruangan yang sering mereka naiki bentuk nya segi empat tapi dia tidak bisa melihat ke seluruh penjuru ruangan di sana, tapi ini dia bisa melihat ke seluruh arah karena ruangan nya tembus pandang persis seperti kaca.
__ADS_1
"Ini nama nya elevator kaca"
Bisik Denish pelan.
Elevator kaca?.
Dilaraa terlihat mengerutkan keningnya.
"Di apartemen kita juga nama nya elevator tapi bentuknya masih standar lama"
Denish berusaha menjelaskan semuanya pada Dilara dengan penuh kesabaran.
"Semua rumah menggunakan hal seperti ini?"
Tanya Dilara ke arah Denish.
Laki-laki itu menggelengkan kepalanya secara perlahan.
"Tidak semua nya, hanya bangunan-bangunan Tertentu saja"
Jelas Denish kemudian.
"Ahhh baiklah"
Seolah-olah paham dengan ucapan Denish, dia mengangguk kan kepalanya.
Setelah pintu terbuka Denish langsung menggenggam erat telapak tangan nya, laki-laki itu sama sekali tidak bicara dengan nya, pandangan mata nya terus menatap kedepan sambil membawakan langkah Dilara menuju ke salah satu tempat yang benar-benar luar biasa bagi Dilara.
Semua tempat itu dipenuhi berbagai macam pakaian yang begitu indah, 2 pelayan perempuan Tampak menundukkan kepala mereka sambil berkata.
"Selamat datang Tuan dan Nyonya Lucifer"
Dilara Fikir apakah mereka mengenali Denish?. Mereka bahkan menyebut nama belakang Lucifer dengan begitu jelas.
Seolah-olah tahu kebingungan didalam hati Dilara, Denish berkata.
__ADS_1
"Mari berpetualang di dunia baru bersama, kamu adalah Cinderella abad modern, kamu bisa memilih pakaian manapun yang kamu mau, sayang"
Bisik laki-laki itu sambil melepas kan tangan nya secara perlahan, membiarkan dua perempuan dihadapan mereka untuk membawa Dilara menuju kedalam dan menyulap nya menjadi Cinderella abad modern untuk saat ini, besok, nanti dan seterusnya.