
Sejenak mereka diam didalam keheningan setelah melewati waktu yang terasa aneh dan menyenangkan tadi.
Dilara menenggelamkan sejenak wajahnya di antara banyak mendominasi berwarna putih, untuk beberapa waktu dia merasa sesuatu yang perih menghantam dibawah sana saat dia mencoba untuk bergerak sejenak.
Terdengar ringisan dibalik bibirnya.
Denish yang mendengar ringisan nya secepat kilat membuka bola matanya, menatap sang istri untuk beberapa waktu.
"Sakit?"
Pertanyaan pertama yang meluncur dari bibir nya adalah itu, dia merasa sedikit bersalah.
"Hmm"
Dikata hanya menjawab hmm sejenak.
Denish langsung bangun dari posisi tidurnya, laki-laki itu menyambar handuk kecil dan menggunakan ke pinggang nya, lantas dia mencoba mencari sesuatu di dalam tas koper milik mereka.
"Kak?"
Dilara bertanya bingung melihat ekspresi Denish, dia mengerutkan sejenak kening nya.
Dia fikir apa yang dilakukan Denish.
"Tunggu sebentar, aku fikir aku membawa nya kemarin"
Ucap Denish pelan.
Tangan laki-laki itu meraba sesuai di kantong tas kecil bagian sisi kiri dan kanan.
Sepersekian detik kemudian dia terlihat menemukan sesuatu didalam sana, secepat kilat laki-laki itu kembali menuju kearah Dilara.
"Kemarilah"
Ucap Denish pelan.
"Ya?"
Dilara jelas bingung dengan ucapan Denish.
Tiba-tiba laki-laki itu mengangkat Secara perlahan tubuhnya, meletakkan tubuh kecilnya ke pinggiran kasur
__ADS_1
"Kak?"
Dilara jelas merasa malu, dia tidak menggunakan apa-apa saat ini, tangan nya dengan cepat mencoba menutupi tubuh nya.
"Sssttttt"
Denish meletakkan jari telunjuk nya ke atas bibir Dilara, laki-laki itu menarik selimut,l kemudian menutup perlahan tubuh bagian atas Dilara.
"Tidak ada jarak di Antara suami dan istri hmmm, mungkin awalnya kamu risih dan malu, tapi kamu akan terbiasa dengan kebersamaan kita"
Ucap Denish sambil mengembangkan senyuman nya, laki itu tampak duduk bertumpu pada kedua kakinya sendiri.
"Ini akan menghilang kan rasa perih dan juga bisa mengatasi luka"
Ucap Denish lagi sambil menyentuh lembut kedua paha Dilara, perempuan itu sedikit terkejut, mencoba menyentuh tangan Denish yang membuka pahanya secara perlahan.
"Kak?"
"Tidak apa-apa, percayalah"
Seketika wajah gadis itu merona merah karena malu, dia benar-benar malu dan kikuk, hal seperti ini jelas tidak pernah terjadi.
Kemarin mereka jelas masih memasang jarak, hari ini Denish seolah-olah menghapus seluruh jarak di antara mereka.
Bagi Dilara, Denish benar-benar berbeda, laki-laki itu benar-benar memperlakukan dirinya dengan cara yang begitu berbeda dari sebelum nya setelah pernikahan mereka.
Dilara hanya takut semuanya akan kembali berubah.
Sejenak perempuan itu mengencangkan pegangan nya ketika dia merasa Denish menyentuh miliknya dibawah sana, ada sensasi perih dan nikmat yang bercampur aduk menjadi satu di sana.
Sentuhan lembut tangan Denish seketika membuat dirinya merinding begitu saja, Dilara jelas bergerak sejenak karena sensasi aneh yang menerjang nya.
Melihat ekspresi sang istri jelas membuat Denish mengulumkan senyuman nya.
"Mari membersihkan diri"
Ucap laki-laki itu pelan, dia berdiri kemudian mulai membuka selimut yang menutupi tubuh sang istri, laki-laki itu langsung mengangkat tubuh Dilara dengan cepat.
Karena tubuh nya di angkat Secara spontan membuat Dilara langsung memeluk erat leher Denish dengan cepat, dia takut terjatuh dari sana.
Denish terkekeh melihat ekspresi terkejut Dilara, dia langsung mengencangkan pelukan nya.
__ADS_1
Dia selalu suka ekspresi Dilara yang seperti itu, saat malu-malu atau terkejut membuat sang istri terlihat begitu cantik dengan ekspresi lucu nya itu.
Pada akhirnya mereka berdua menghabiskan waktu untuk membersihkan diri untuk beberapa waktu, tidak terlalu berlama-lama karena takut Dilara akan merasa kedinginan sebab harus mandi di waktu tidak normal seperti ini.
Setelah usai mereka pada akhirnya memilih kembali ke atas kasur dan menghabiskan waktu untuk mendapatkan istirahat atas rasa lelah yang terjadi sebelum nya.
Denish tampak memeluk hangat tubuh Dilara dari arah belakang sambil menggenggam erat telapak tangan sang istri, beberapa kali laki-laki itu mencium lembut tengkuk sang istri.
Dilara sejak tadi hanya mengulum senyuman, rona wajah malu jelas terlihat dibalik wajah cantik nya.
Yah rasanya begitu malu saat dia Ingat pergulatan yang terjadi sebelum nya, bagaimana mereka melewati semua hal yang tidak pernah dia duga, yang bahkan belum Pernah dia rasakan sebelumnya, belum lagi tindakan Denish yang memberikan sesuatu di bawah sana sebelum nya.
Baginya tiap sentuhan yang Denish berikan memberikan satu sensasi baru didalam dirinya dan membuat dia benar-benar malu jika mengingat nya.
"Belum ingin tidur?"
Tanya Denish pelan dibalik telinga nya.
"Hmmm"
Ucap Dilara pelan sambil menenggelamkan kepalanya.
Melihat ekspresi Dilara seketika membuat Denish tersenyum geli.
"Berbalik lah"
Bisik Denish lagi.
Secara perlahan akhirnya Perempuan itu membalikkan tubuhnya, Dilara masih takut dan malu untuk menatap wajah laki-laki tersebut.
"Belum mengantuk?"
Tanya Denish lagi pada Dilara sambil mencium lembut pipi istri nya, lantas laki-laki itu memeluk hangat tubuh perempuan tersebut untuk beberapa waktu.
"Belum"
Mendapat kan jawaban seperti itu seketika membuat Denish kembali mengulum senyumannya.
"Mari mengobrol soal masa depan kita sejenak"
__ADS_1
Ucap Denish lagi kemudian.
Perempuan tersebut langsung membenahi posisinya, menghadap tepat kearah Denish sambil menatap wajah laki-laki itu dengan perasaan berdebar-debar.