
"Apa Liat-liat?"
"Vera cantik banget,"
Nathan dan Alvera yang baru saja melangsungkan pernikahan karena perjodohan itu tampak saling memandang satu sama lain.
Alvera Dirgantara atau kerap disapa Vera adalah seorang anak Pejabat, beliau sendiri dijodohkan oleh orangtua nya karena terjerat hutang yang selama ini selalu ditunda-tunda ayahnya, persetan dengan perjodohan, gadis itu hampir syhok karena tahu orang yang akan ia jadikan suami adalah seseorang dengan mental yang tidak normal.
"Iya dong, gue udah cantik, pinter, baik, berprestasi lagi, gak kek Lo, burik, gobl*k, gila, stres" ejek Alvera
"Nathan gak Burik, Nathan ganteng!"
"Gak nanyak"
"Tapi tadi Vera bilang Nathan burik"rengek Nathan
"Itu fakta!"
Pria yang memiliki kekurangan itu tampak menahan tangis, dia begitu polos, cengeng, dan kekanak-kanakan.
"Nangis teros! Cengeng banget jadi cowo, gak ada macho-macho nya!" Alvera berujar kesal sembari menatap tajam Nathan.
"Hiks... Vera jahat!"
"Bukan gue yang jahat, lo yang terlalu sensitif, udah ah, gue mau mandi," Alvera beranjak dari kasur, namun sebelum itu tangan Nathan sudah terlebih dulu menarik nya.
"Apaan sih?"
"Nathan pengen pipis"
"Ya udah pipis sana, anj*ng* Geram Alvera yang tak habis pikir dengan sifat polos Nathan, mengapa ingin buang air kecil harus izin terlebih dahulu?
"Nathan takut, kemarin Bu Jubaedah meninggal kena azab karena mencuri semvak pink milik Bu Tuti, Nathan takut nanti arwah nya muncul"
Plak!
"Iya, dan gue arwah Bu Jubaedah nya, mau apa lo?" tanya Alvera tersenyum licik.
Pria itu menelan saliva nya susah, kemudian tersenyum canggung.
"Anj*y... Kamu bo'ong" ucap Nathan kemudian berlari terbirit-birit keluar.
****
Pagi ini cuaca tampak begitu cerah, sinar mentari juga tidak redup, Alvera yang masih terlelap dalam alam bawah sadarnya begitu menikmati mimpi nya sehingga menunda untuk bangun.
"Vera bangun!"
Nathan menggoyang-goyang kan pinggul istrinya yang masih tertidur pulas.
"Vera gak sekolah? Nathan udah masak telor mata kerbau loh, Vera bangun ih!"
"Eungh, apaan sih?"
"Bangun!"
"Gendong"
Tanpa sadar, Alvera mengucapkan kata itu, mungkin kebiasaan manjanya yang dibawa-bawa sampai sekarang.
Nathan sedikit terkejut, tapi tak masalah, dia mengendong istri nya ala bridal style hingga ke kamar mandi.
"Eh Eh! Atas dasar apa Lo gendong-gendong gue?Turunin!"
"Tadi Vera yang nyuruh"
__ADS_1
"Gak ada gue suruh, Lo yang budeg! Dasar budeg, cih!"
Alvera berlari ke kamar mandi dengan rasa malu, dia bahkan baru menyadari Nathan mempunyai otot sekekar itu.
siapa coba yang bisa nahan sispack cowok ganteng.
Pagi ini Nathan dan Alvera makan bersama di meja makan, Alvera hanya bisa berdiam diri mendengar ocehan Nathan yang menurut nya tidak penting.
"Udah siapa ceramah nya? Sekarang lo beresin semua piring ini, gue mau berangkat sekolah."
"Tapi Vera, Nathan juga sekolah 'kan?"
"Gak!"
"Kenapa?"
"Gak penting kalau orang gobl*k sekolah! Mending lo nganggur di rumah," ucap Vera tersenyum menyeringai, Nathan yang mendengar hal itu hanya bisa terdiam membeku.
Memang kenapa jika dirinya ikut bersekolah? Apa itu salah? Apa karena dia berbeda dengan pria umumnya? Kenapa semua membenc¡ Nathan? Pertanyaan itu bagai kaset rusak yang berputar-putar di kepala Nathan.
"Ya udah, Nathan di sini aja sampe nunggu Vera pulang," jawab nya pasrah namun terdengar tulus.
"Gak bakal pulang gue, muak banget liat muka lo, sumpah!" Ketus Vera.
"Awas! Nanti jatuh cinta loh hehe," gurau Nathan "jangan telat pulang ya Vera, nanti Nathan rindu"
"Dih, naj*s! Sorry!"
"Kenapa? Emang Vera gak sayang sama Nathan?" tanya Nathan.
"Gue gak pernah sayang sama lo sampe kepala kotak Adudu berubah jadi segitiga sama kaki, paham Lo!?"
"Ya udah, nanti Nathan rubah."
"Ga usah, gak penting!"
"HA? GAK DENGAR! Udah ya, gue mau sekolah, dadah...."
•••
Setelah kepergian Vera, kini Nathan telah diselimuti rasa bosan, tidak ada teman yang akan ia ajak bicara sekarang, beliau hanya bisa mengutak-atik ponsel berlogo Apple itu.
'Drtt ... drtt'
Nathan menatap ke arah sumber suara, ternyata Vera meninggalkan ponselnya, tak perlu bertele-tele, dia pun mengangkat nya.
"Hallo, ini siapa?"
"Ini siapa juga?"
"Lah? Ini Nathan,"jawab nya polos.
"Ha? Pemain film 'Dear Nathan'?"
"Bukan, ini Nathan anak nya mama"
"Gue juga anak mama"
"Ih, kamu siapa sih?" Ketus Nathan
"Gue Aldo, lo ngapain megang hp Vera? kasih hp nya! Gue mau ngomong!"
"Vera sekolah," ucap Nathan "kalo ada yang mau dibicarain, silahkan, biar nanti Nathan sampaikan."
"Bilang ke Vera, 'Aldo kirim salam, dia pengen minta balikan, i love you se-kebon, se-samudra dan se-angkasa, cinta Aldo dan Vera bagai kan cinta sejati Romeo dan Juliet, bagi Aldo, Vera adalah sesosok sederhana yang sulit dikatakan deng─"
"Ba*ot anj*ng, malah puisi!"
__ADS_1
'Tut'
Nathan menghela nafas setelah mematikan panggil tersebut. Dirinya benar-benar kesal dengan masa lalu Vera.
•••
Kini Matahari telah bersembunyi dan digantikan dengan rembulan yang bersinar terang bersama kerlap-kerlip bintang yang bertaburan di angkasa.
Sepasang bola mata hazel Nathan terus menatap Vera yang sedang sibuk berkutat dengan ponsel nya.
"Gimana sekolah nya?" Tanya Nathan.
"Gak roboh!"
"Maksud Nathan bukan gitu"
"Iya gue tahu, Nathan,"jawab Vera
"Hm, oh iya, tadi ada yang nel─"
'Ting tong' bel rumah mereka berbunyi, seketika keduanya langsung mengalihkan pandangan dan Nathan membukakan pintu.
"Perasaan Nathan gak pernah belanja online? Kok ada tukang kurir?"
"Pala Lo tukang kurir, gue Aldo yang lo telfon tadi, dih, rupanya gini tampang lo? Cupu amet," ejek Aldo kemudian menerobos masuk tanpa izin.
"Ekhem, Vera!"
Vera yang tak familiar lagi dengan suara tersebut nyaris terkejut saat melihat kedatangan masa lalu nya kemari.
"Ngapain lo kesini?"
"Gue cuma mau minta maaf, gue minta maaf atas ego gue, gue selalu sibuk urusan kerja sampe ngelupain lo,"
"Gue udah gak peduli, Aldo"
"Jangan bilang lo gak peduli lagi, padahal nama gue masih terukir indah di lubuk hati Lo yang paling dalam, gue minta maaf Alvera, gue kerja juga buat halalin lo, buat cari nafkah supaya lo bisa makan."
"Tapi sekarang gu─"
"Apa?Lo mau bilang lo udah move on? Bohong! Lo masih sayang 'kan sama gue, iya 'kan Alvera?" Lirih Aldo kemudian menggenggam tangan gadis itu.
"Asal lo tahu, gue ngelakuin hal norak kek gini, karena rasa sayang gue sama lo itu besar Vera!" Ungkap Aldo dengan raut wajah yang serius.
"Iya, gue jujur gue masih sayang sama lo, tapi ada hati yang harus gue jaga perasaan nya!" Ucap Vera tersenyum tulus.
"Siapa?"
"Nathan" bukan Vera yang menjawab melainkan Nathan.
"Mending kamu pergi!"usir Nathan
"GAK! Vera gak pantas punya cowok cupu kek lo!" Bentak Aldo.
"Tapi Nathan suaminya!"
"Bodo amat, mau suami, mau pacar, intinya gue cuma mau Vera," kemudian Aldo beralih menatap Vera "mau jadi pacar gue lagi? Kita buka lembaran baru, gue pastiin lo bahagia"
"Enggak! Vera punya Nathan!"seru Nathan.
"Vera, jadi lo milih siapa?"
"Gue milih....?
......next......
...****************...
__ADS_1