
Di kediaman Steven, terlihat Vera yang sedang berbaring tak sadarkan diri. Wajah nya pucat pasi dengan tangan yang berkeringat dingin.
Steven menempelkan tangan nya di kening Vera guna mengecek suhu tubuh si empu.
"Shhh," ringis Vera pelan.
Mata Vera perlahan membuka walaupun pandangan nya masih terlihat samar-samar.
"Lo udah sadar? mana yang sakit?" tanya Steven panik.
"Gak papa," jawabnya terdengar pilu.
"Lo pasti jarang makan 'kan?" Steven menebak sambil memperbaiki posisi agar sedikit menjauh dari Vera.
"Hmm."
"Kebiasaan banget suka nunda jadwal makan. Sekarang rasain, tuh, kena asam l*ambung 'kan lo," oceh Steven.
"Kenapa lo peduli sama gue?"
"Gue cuma mau balas budi, karena kemarin lo udah ngerawat gue. Nih, makan bubur ayamnya!" Steven menyodorkan semangkok bubur ayam dengan tatapannya yang datar.
"Ven, gue ngeroptin 'kan? gue cuma beban, gue gak istimewa, dan gue layak dibenci," ungkap Vera.
"Maksud lo?"
Vera mengusap air matanya, "kenapa lo gak ninggalin gue tadi? harusnya lo tahu, kalo gue itu beban yang numpang hidup disin─"
"Lo kenapa sih? baru sadar dari pingsan langsung ngedrama, kenapa, hum?" tanya Steven sembari mengangkat sebelah alisnya.
Vera terdiam.
"Karena lo cemburu sama Vanila, gitu? haha, keliatan banget sifat bocil nya, dasar anak TK," kekeh Steven.
"Lo gak tahu gimana sakitnya hati gue, Ven," lirih Vera.
"Gue tahu kok. Jangan sok ngurusin Nathan, kalau diri lo sendiri belum keurus," sahut Steven.
"Terus gue harus gimana?"
"Makan dulu buburnya, setelah itu baru gue kasih tahu suatu tutorial."
"Tutorial apa?" tanya Vera.
"TUTORIAL JADI BEBAN SEJATI AWOKAWOK."
•••
Pesta Nathan terlihat begitu meriah, sebagian tamu berdesak-desakan hanya untuk mendapatkan makanan mewah. Sebagian lagi, asik berpotret di altar bersama Nathan, khusus nya kaum perempuan.
"Satu ... dua ... chiss."
__ADS_1
Nathan dikerumuni teman alumini SMP nya, berfoto kembali bersama mereka akan menjadi kenangan di momen ini.
Setelah mengambil beberapa foto, perhatian Nathan dipusatkan pada Vanila yang menikmati hidangan.
"Cantik." Satu kata keluar dari mulut Nathan saat melihat Vanila yang asik mengunyah makanan tanpa menyadari tatapan si empu.
"Oh ya ... Vera! Vera dimana ya?"
Pandangan Nathan mengedar, dari semua orang yang ada disana, hanya batang hidung Vera yang tak terlihat.
"Mungkin di toilet, buat apa gue peduli sama dia?" monolog Nathan.
•••
"Masakan lo enak, Ven," puji Vera.
"Itu bubur ayam buatan tetangga," jawab nya acuh.
"Kirain lo yang buat."
"Kalau gue yang buat, lo jadi serasa makan lumpur," sahut nya sambil cengengesan.
"Haha, btw thanks for you attention, sekarang gue ngerasa lebih baik," ucap Vera seraya tersenyum manis.
"Yoi."
Vera mengangguk, kemudian melanjutkan acara makannya, namun..
"TUNGGU! GUE MAU NANYAK!" teriak Vera sambil menggebrak meja.
"Sorry. Lo udah punya pacar, belum? gue gak mau pacar lo marah, terus cemburuan karena gue ada di rumah lo."
Steven menggeleng, "gak ada."
Vera melongo tak percaya, "serius? Padahal dari fisik, lo itu udah cakep banget, masa gak ada cewek yang kebelet sama lo?"
Steven mengulum senyum dan berkata, "kalo soal itu gue gak tahu, tapi ... ada satu cewek yang jadi incaran gue sekarang."
"SIAPA? SIAPA?" heboh Vera.
"Kok lo jadi kepo banget sih? Ini 'kan privasi gue."
Vera berdecak, "gue pengen tahu siapa cewek yang udah berhasil bikin hati lo yang beku itu jadi luluh, pasti dia cantik 'kan?"
"Cantik? Iya cantik banget, selain itu murah senyum dan ramah, dia galak tapi peduli banget sama sesamanya," jawab Steven semakin tersenyum lebar.
"Tuh 'kan, cie ... cie, kapan-kapan kenalin gue sama dia ya, kalau boleh lo ungkapin perasaan lo ke dia." Vera memberi saran.
"Masalahnya cewek itu udah punya ... kekasih," adu Steven dengan raut wajah kecewa.
"Ups! Kalau gitu, rebut aja! Siapa tahu dia mau sama lo."
__ADS_1
"Emang boleh?"
"Boleh dong, jodoh gak ada yang tahu, semoga lo sama cewek itu berjodoh ya, amin."
Perkataan Vera tadi membuat Steven semakin ketar-ketir. Andai saja Vera tahu, bahwa orang yang di maksud Steven adalah dirinya, pasti permohonan itu tak akan mungkin Vera lontarkan.
"Kalo gitu, gue pulang ya, bye Steven."
"Mau gue antar?"
"Gak perlu, dadah."
•••
Vera kembali ke aula pesta, keadaan masih sama, namun satu persatu tamu mulai berpulangan.
"Dari mana aja lo?"
Suara bariton Nathan membuat Vera sedikit tegang saat mendengar nya. Namun, bagaimana pun itu, dia harus menepisnya dengan sifat cuek.
"Keluar," jutek Vera.
"Kemana?"
"Ke taman."
"Bohong!"
"Terserah," acuh Vera dan berjalan meninggalkan Nathan.
"Gue belum selesai ngomong!" teriak Nathan menyusul Vera.
"Minggir, lo bau alkohol! Pasti lo mabuk 'kan?"
"Itu gak penting! Jawab jujur, lo abis dari mana, ha!?" bentak Nathan.
"Abis ke rumah orang, puas lo!"
"Lo kenapa, sih?" kesal Nathan.
"Minggir! Gue gak suka bau alkohol," suruh Vera sambil menutup hidung nya lantaran aroma yang memabukkan itu begitu menyengat.
Nathan menghiraukan itu, ia meneguk segelas alkohol dengan kadar tinggi, kemudian─
chup!
Menyalurkan apa yang ia rasakan kepada Vera melalui perantaraan mulut.
Vera memberontak. Dia tidak suka kegiatan ini. Benar-benar menyebalkan.
"N--Nathan, AKU kECEWA SAMA KAMU!" teriak Vanila sambil berlari menangis tersedu-sedu.
__ADS_1
...next...
...****************...