Suami Polosku

Suami Polosku
pembantu


__ADS_3

Jam menunjukkan pukul delapan pagi, seperti biasa, Nathan sedang melakukan aktivitas sehari-harinya.


Mulai dari menyiapkan makan sendiri hingga beres-beres.


"Gak berangkat ke kampus, Nak? Nanti telat lho," ujar ibu Nathan.


"Kalau Nathan berangkat, yang buat sarapan Mama siapa?" omel Nathan.


"Kenapa kamu gak sewa pembantu?"


"Emang nyewa pembantu mudah? Uang buat gajinya sih ada, cuma Nathan takut orang nya munafik dan gak jujur," sahutnya.


Ibu Nathan mengangguk paham, "Kamu ke kampus aja, biar soal maid , Mama yang cari!" suruh wanita paruh baya itu.


"Hm."


Nathan pun bersiap-siap kemudian menyalim tangan sang ibu sebelum berangkat.


•••


Setibanya di kampus, Nathan berjalan mengendap-endap seperti pencuri, karena hal yang tidak ia suka saat sampai di kampus adalah dikerumuni para adik kelas khususnya cewek.


"Woy, Nathan," teriak dua orang yang berlari kecil menghampirinya.


Plak!


"Lo apain bestie gue? Vera kemana, an*ing? DIMANA DIA BANG*AT?!" pekik Jihan emosi setelah melayangkan tangannya ke pipi Nathan.


Nathan meringis sakit. Ternyata perempuan mempunyai skill dalam hal ini yang tidak boleh diremehkan.


"Arga udah cerita semuanya sama gue! Jawab jujur, kenapa lo lakuin itu? Kalau lo gak suka sama dia, kasih ke gue, jangan lo buat sahabat gue mender1ta!" hardik Jihan.


"****! Dasar Arga bang*at! Beber banget lo jadi orang!" desis Nathan.


"Sorry Than, soalnya Jihan maksa banget, dia selalu nanyak tentang Vera, terpaksa gue kasih tahu," jawabnya tertunduk takut.


Nathan tak menggubris, dia pergi meninggalkan kedua orang itu dengan rasa amarah terpendam.


•••


Nathan melirik arloji ditangannya, sudah siang ternyata. Pria itu pulang ke mension saat jam pelajaran telah usai.


"Ma, Nathan pulang," teriaknya.


Tidak ada sahutan.


Namun, gadis berambut sebahu dengan kuncir kuda tampak menyapa Nathan dengan senyuman manis.


"Hallo," sapa dia.


Deg!


"L--lo siapa? Mama gue kemana?"


"Saya Erina, maid di sini," balasnya memperkenalkan diri.


"Lo pembantu? Mama yang nyuruh lo?"


Erina mengangguk.


"Ya udah, selamat bekerja." Nathan berjalan meninggalkan gadis cantik itu sendiri.


•••


Cuaca saat ini terdeteksi mendung, Mata hazel milik Nathan melirik dari jendela untuk menatap langit gelap yang mewakili isi hatinya.


"Ver, lo dimana, sih? Lo gak kangen sama gue? Huh, buat apa lo kangen sama cowok bej*t kek gue," gumam Nathan.


"Lo dimana? Sumpah, gue rindu." Nathan meremas ujung kaosnya, wajah tampan itu terlihat begitu menyedihkan.


Ckelek!


"Tuan muda," panggil Erina.


"Gak usah panggil Tuan muda, call gue Nathan," pinta si empu tanpa menatap Erina.

__ADS_1


"I--iya. Nathan, makanannya udah siap."


"Hm. Kemari lo," suruh Nathan.


"Hah?"


"Tuli lo? Gue bilang kemari, sini dekat gue," ulang Nathan dengan nada penekanan.


Erina berjalan ragu mendekati majikannya, "Kenapa?"


"Lo anak sekolahan?" tanya Nathan.


Gadis itu mengangguk, "Tapi sekarang udah putus sekolah."


"Kenapa?"


"Eum ... kekurangan biaya."


Nathan berfikir sejenak, manik mata nya menatap manik mata Erina, hingga terjadi kontak mata antara keduanya.


"Lo mau sekolah lagi?"


"I--iya."


"Ya udah, lo sekolah di kampus gue aja, soal biaya, gue yang urus. Tapi lo tetap jadi maid, jangan manja, paham!"


Erina menggangguk secepat kilat, "Paham! Makasih banyak," serunya.


"Iya."


•••


Berhari-hari begitu seterusnya hingga keduanya human itu mulai akrab namun ingat batasan. Erina juga tak terlalu banyak bicara, karena gadis itu terkenal dengan pendiamnya.


"Nathan, sarapanmu udah aku siapin."


"Hm."


"kok kamu pucat? Lagi Sakit?"


"Gak."


Deg!


"Uhuk ... uhuk!"


"Mama apaan sih! Nathan gak suka sama dia," decak Nathan menatap sinis ke arah si ibu.


"Tapi dia lebih baik dari Vera yang tukang maling uang itu."


Nathan menggeram kesal, "Bukan Vera tapi Vanila!"


"M--maksud kamu?"


"Vanila yang curi uang Mama, Nathan juga kaget liat kelakuan tu cewek ternyata melebihi binatang," adu Nathan.


"Terus maksud kamu selama ini dia kabur?"


"Mungkin," bohong Nathan, namun aslinya, Vanila sudah tewas di tangannya.


"Lalu Vera gimana dong?" tanya ibu Nathan panik.


"Makanya itu ... gak tahu dia lagi dimana sekarang, semoga masih tetap sehat," lirih Nathan.


"Semoga aja. Amin."


Erina yang tidak mengerti topik pembicaraan ibu dan anak itu hanya bisa menyimak. Siapa Vera dan siapa Vanila? Itulah yang ada di benaknya.


Setengah jam kemudian, Nathan dan Erina hanya ditinggal berdua oleh sang Ibu.


Keduanya hanya berdiam diri. Erina juga tidak kepo tentang pembicaraan Nathan dan ibunya tadi.


Ding dong!


"Bukain, Rin!" suruh Nathan.

__ADS_1


"Iya."


Seseorang masuk dengan sepatu sneaker dan satelan kemeja hitam. Menatap tajam sinis seakan tersimpan kebenc!an dalam dirinya.


"Mau ngapain lo? Mau pamer gaya?" ucap Nathan songong.


"Mata lo pamer gaya. Nih! Gue disuruh Vera buat ngasih lima puluh juta!" pekik Steven.


"Vera? Vera dimana? Terus lima puluh juta buat apa?" heboh Nathan.


"Masih muda udah pikun, lo gak ingat tentang hutang keluarga Vera sama lo? Jadi, Vera udah ngumpulin duitnya, tapi dia nyuruh gue buat ngasih ke lo, katanya dia gak sudi liat muka lo. Gue ingatin lagi kalau lo lupa."


"Gue gak butuh uang-uang itu, gue mau nya Vera, dia dimana? Ada di luar rumah gue gak?" tanya Nathan.


"Enggak, Vera lagi ada di hati gue," cibir Steven.


Kaki Nathan berlari cepat keluar, menimbulkan rasa bingung pada Erina saat melihat majikannya begitu tergesa-gesa.


Diluar, tidak ada siapapun. Vera juga tidak ada di sana. Apa mungkin gadis itu bersembunyi?


"VERA, KALAU LO DI SEKITAR SINI, KELUAR PLEASE, JANGAN MENGHINDAR, SAYANG!" teriak Nathan keras.


"Udah deh, bocil. Mau lo teriak pake toa, Vera juga gak bakal muncul. Nih duitnya. Gue cabut dulu, bye!" pamit Steven.


"Vera, please ... jangan balas dendam kayak gini. Mau dimana lagi gue cari lo?" monolog Nathan.


•••


Ada rasa kasihan dan keingin tahuan pada Erina tentang Vera.


Setiap malam saat tidur, Nathan selalu mengigau memanggil nama Vera, Vera dan Vera.


Hingga akhirnya, Erina menemukan foto seorang gadis bersama Nathan dan seorang bayi laki-laki.


"Ini yang namanya Vera? Woah, cantik banget. Kulitnya kok bisa seputih ini, beda banget sama kulitku yang ireng," gumam Erina.


"Ngapain lo?"


Deg!


"Na--Nathan, belum tidur?" gugup Erina.


"Belom, gue laper. Gue mau makan diluar. Lo mau ikut atau mau nitip?"


"Emang boleh ikut?" tanya Erina ragu.


"Hm."


Dan keduanya orang yang berbeda gender itu pergi bersama menggunakan mobil.


Erina canggung sendiri, sebab Nathan memilih makan di restoran. Erina sendiri juga baru kali ini menginjakkan kaki ditempat ini.


Bragh!


"Aduh, sorry mbak." tunduk Erina.


"Iya, gak papa."


Deg!


"Vera? Lo Vera?" kaget Nathan.


"Nathan?"


Grep!


Nathan memeluk erat tubuh Vera. Memeluknya sangat erat seolah Vera tak boleh pergi lagi.


"Vera gue minta maaf, sayang. Lo gak boleh pergi lagi, tetap disini aja. Gue cuma mau lo. Lo itu limited edition, gue sayang lo, Vera."


"G--gue gak bisa naf--as," ucap Vera patah-patah.


Nathan melonggarkan pelukannya dan tersenyum bahagia, "Gue gak butuh duit lo yang lima puluh juta itu, gue cuman mau lo kembali ke rumah gue!"


"Lima puluh juta? Sejak kapan gue ngasih lo lima puluh juta?"

__ADS_1


_ Di sini aku nambah cast tambahan yaitu Erina. _


...next?...


__ADS_2