
Sore menjelang malam, Vanila baru sampai di mension Nathan. Gadis berambut setengah ikal itu memasuki kamar dan menjatuhkan bobot tubuh nya di kasur.
"Nathan, kamu udah makan, sayang?" tanya Vanila sambil mengelus surai hitam Nathan.
"Belum."
"Ouh, kacian. Kita makan di luar, yuk. Aku yang traktir." tawar Vanila.
Nathan menggeleng, "Gak lapar-lapar banget, sih. Jadi, gak usah," tolak nya.
"It's okey, mau peluk gak?" Vanila merentangkan tangannya, menunggu Nathan memeluk gadis itu.
Grep!
Nathan memeluk Vanila.
"Makasih atas segalanya Van, tetap stay nemenin gue dari kecil sampai sekarang," ucap Nathan.
"No problem, apa yang enggak buat kamu," sahut Vanila tersenyum malu.
"Dari segi fisik, lo itu cantik, manis dan tinggi. Lo wanita yang berkarir, penyayang dan lembut," sambung Nathan, kali ini ia melapas pelukannya dan menatap dalam manik mata Vanila.
"Tapi sayang, sikap bus*k lo itu mengha*curkan semuanya. Lo jal*ng di atas segala jal*ng!" bentak Nathan.
"M--maksud kamu? Kamu kenapa sayang?"
"Gak usah manggil gue pake gelar itu. J i j i k gue dengar nya. Ngapain lo ke bar tadi siang? Terus, cowok yang minjam duit hasil curian lo, mereka berdua siapa? Pacar lo? Iya 'kan?!" sentak Nathan.
Rahang nya terlihat mengeras dengan wajah merah padam menahan amarah. Vanila pun dibuat ketakutan dengan ekspresi Nathan saat ini.
"Me--mereka bukan pacar ku. Serius, bukan pa--pacar aku," gugup Vanila.
"Gue kurang apa, sih, Van? Gue ninggalin Vera demi lo, uang gue habis juga buat beli semua skincare dan make-up lo. Tapi apa? Secuil aja lo gak bisa menghargai gue? KENAPA LO MAIN BELAKANG, HA!?"
"Itu karena kamu selalu sibuk sendiri. Kamu sibuk sama geng, tawuran, dan game! Kamu juga suka balap-balapan, sehingga waktu buat aku pun gak ada. Wajar kalau aku tertarik sama cowok lain," jawab Vanila tetap santai.
"Gak usah ngejek hal favorit gue, emang lo gak nyadar? Cuma jadi benalu di hidup orang. Lo gak malu, jadi orang ketiga di sini? Gara-gara lo, semua berantakan!"
"Aku bu─"
"DIAM!"
"Lo udah berhasil mancing emosi gue, lo tahu 'kan, gimana watak gue? Sekarang waktunya ngirimin lo ke alam lain. Say goodbye to world."
Dan selanjutnya, Nathan melakukan aksi yang tidak wajar untuk ditiru.
Hingga pada saat itu, Vanila dinyatakan menghembuskan nafas terakhirnya.
__ADS_1
•••
Dua hari kemudian, rumah benar-benar terasa hampa. Nathan sendiri juga takut dan merasa bersalah dengan apa yang ia lakukan dua hari sebelumnya.
"Than, kamu serius, Vanila udah kembali ke Thailand?" tanya ibu Nathan sembari memakan sarapannya.
"Iya, Ma."
"Tapi, dia kok gak bilang sama, sih?"
"Keadaan perusahaan di sana darurat, apalagi keuangan dipegang sama Vanila, ya mau gak mau, dia tetap harus pergi," jelas Nathan berbohong.
Ibu Nathan mengangguk paham.
"Kamu gak rindu sama Vera?"
Deg!
"Ha?"
"Mama bilang, kamu gak rindu sama Vera?"
"Ri--rindu, sih. Tapi, gak tau dia dimana."
"Udah dicari?"
"Ya udah kita─"
"NATHAN WHERE ARE YOU? GUE COMEBACK!" teriak Arga.
"Apa sih? Tekan bel kalau mau masuk, asal terobos ae lu," kesal Nathan memberi tatapan nyalang pada temannya.
"Hehe sorry. Btw, ada ibu negara, toh. Hallo, tante," sapa Arga sambil nyengir kuda.
"Iya, hallo. Kamu Arga 'kan? Makin ganteng aja," puji ibu Nathan.
Nathan mendengus tak suka, "Ganteng apanya? Modelan kek Popo dibilang ganteng, atau Mama kebelet cinta sama dia?"
"Bukan gitu, dia 'kan teman almarhum adik kamu. Yo wes, mama heran, makin gede, makin ganteng semua. Itu si seventeen kalau gak salah, juga makin ganteng lho."
"Mon maap, Tante. Steven bukan seventeen. Orangnya lagi gak disini, kalau dia disini, bisa kelar hidup Tante."
"Haduh, dasar anak muda. Mama permisi keluar dulu, ya. Baru ingat ada arisan. Bye."
Ibu Nathan berpamitan pada mereka, menyisakan antara Arga dan Nathan yang sama-sama terdiam mematung.
"Heh, shut. Vanila benar-benar mat--"
__ADS_1
"Jangan kuat-kuat ngomongnya. Dia udah kelar. Ini rahasia kita berdua. Tutup rapat-rapat mulut lo, awas kalau lo beber," ancam Nathan.
"Gak bakal. Oh ya, Steven gimana?" Arga mengalihkan topik pembicaraan.
"Ntah, gue sama dia udah end. Intinya kalo ada masalah, jangan pernah lo ceritain ke dia. Gue juga berencana ngeluarin dia dari geng gue. Muak gue! Kalau bisa nasib dia harus sama kayak Vanila."
Arga melotot, "Nathan, lo gak ingat? Dia kakak tertua kita di geng, lo tega kelarin hidup dia? Jangan bun─"
"Gue gak peduli!"
Arga semakin was-was, bagaimana jika Nathan benar-benar ingin mengakhiri hidup Steven? Dia benar-benar takut.
"Ya udah, gak usah dibahas. Gue mau jus jeruk, dong. Vera mana?"
Hening suasana.
Nathan mengepalkan tangannya, "Lo mau jus jeruk? Kenapa malah nyari Vera? Lo kira dia babu?"
"Mau minta tolong buatin, soalnya kalau Vera yang buat, apa aja jadi enak."
Ekspresi wajah tampan Nathan berubah drastis menjadi sendu.
"Gue gak tahu dia dimana," sahut Nathan dengan nada suara lirih.
"Itu bini lo, seriusan lo gak tahu dia dimana?" Arga tak percaya.
"Gue usir dia kemarin, lalu ... ah, ceritanya panjang, Ga. Kalau boleh, gue mau minta tolong, bantu cari dia. Please, apapun yang lo mau bakal gue kasih, asal istri gue balik kesini lagi," pinta Nathan.
"Apapun? Termasuk jangan sakiti Steven? Boleh?"
Nathan menggangguk ragu, "Kalau lo nemuin Vera dan bawa dia kesini. Steven tetap aman sentosa, kok."
"Oke."
•••
Semenjak hari itu, Arga benar-benar menjalankan aksinya.
Kenapa tidak meminta bantuan polisi? Karena kasus ini bukanlah kasus identitas orang hilang.
Kini, kedua lelaki yang mempunyai paras tampan itu sedang mengadakan pertemuan tentang perjanjian kemarin.
"Than, gue gak tahu ini benar atau enggak. Setelah gue cari berhari-hari, Vera gak ketemu---" ucap Arga menjeda ucapannya.
"Tapi gue rasa, dia udah men*nggal karena kelaparan."
next
__ADS_1