
"Eum─ masakan Vera enak banget," puji Steven sembari melahap hidangan pagi ini.
"Ya jelas ... bestie gue gitu loh, koki terhebat di sepanjang sejarah," timpal Jihan.
"Apaan sih, gue aja baru belajar," oceh Vera.
"Aku pengen belajar masak dong, soalnya biar bisa masak buat calon masa depan aku," seru Vanila yang seketika mengalihkan perhatian semua orang.
"Caelah, masa depan atau masa lalu nih?" Steven menyindir sambil melirik Nathan.
"E-enggak, buat pacar aku di Thailand, ya kali buat Nathan, dia 'kan udah punya istri," ucap Vanila.
"Udah punya istri atau atau udah punya simpanan?" Steven kembali menyindir.
"Udah lah Steven, jangan gitu! Gak boleh memfitnah orang sembarangan," tegas Vera.
Acara makan pagi ini kembali hening. Hingga 2 jam kemudian, semua nya kembali pulang ke rumah masing-masing─ tak lupa juga mengucapkan terimakasih yang besar kepada Vera atas tumpangan semalam.
•••
"Nathan, rumah ini jadi sepi 'kan?" Vera bertanya sambil menatap langit-langit dinding.
"Kenapa?"
"Gue gak suka sepi, padahal kemarin seru loh, rame-rame pada nginap," adu Vera.
"Enggak juga," jawab Nathan.
"Kenapa? Lo kok jadi aneh?" Vera menatap curiga ke arah Nathan.
"Nathan gak suka, kasih sayang dan perhatian Vera jadi teralihkan sama mereka, Nathan malah dicuekin!"
"Ulululu, jadi ceritanya ngambek nih?" Vera terkekeh kecil.
"Hm."
"Ish! Denger ya, lo itu suami gue, gak mungkin kasih sayang gue sama lo itu pudar, emm─ jujur sih, gue udah bisa nerima lo, gue sayang sama lo" ungkap Vera.
"B-benaran?"
"Emang gue keliatan bercanda?"
"Enggak."
"Ya udah ... berarti cinta gue ke lo itu serius, kalo lo sendiri gimana?" Vera bertanya balik.
"Nathan juga sayang kok sama Vera, malahan pake banget," jawab Nathan.
"Aaaa so sweet."
Vera tersenyum manis kemudian memeluk suaminya dengan erat. Begitupun Nathan, tapi pria itu malah diam-diam tersenyum jahat.
'M*ngsa masuk perangkap'
•••
Kini Vera sedang asik berbincang melalui telepon dengan Jihan.
"Lo datang kesini pokoknya, kita kerjain tugas kelompok kemarin," suruh Jihan dari sebrang sana.
"Oke."
'Tut'
Telepon diakhiri, Vera berjalan mendekati Nathan dan menatap pria itu dengan tatapan memohon.
"Nathan, boleh gak, gue pergi agak lamaan kira-kira pulang sore, soalnya gue ada kerja kelompok sama Jihan, boleh ya?"
"Iya, boleh."
"Serius?"
"Iya, asal ingat pulang ya!"
"Siap Pak Bos, thanks."
__ADS_1
Akhirnya Vera mengemaskan barang-barang nya kemudian pamit pergi.
Nathan tertawa pelan saat Vera telah berlalu pergi, "Sekarang gue telfon Vanila ah," monolog nya.
Nathan mencari kontak Vanila kemudian memulai panggilan telepon.
"Hallo," sapa Vanila saat panggilan tersambung.
"Lo sibuk?"
"Enggak, kenapa?"
"Datang kesini dong, gue kangen."
"Emang Vera gak marah?" tanya Vanila.
"Dia udah pergi ke samudra Atlantik, mungkin gak pulang karena udah ditelan hiu," gurau Nathan.
"Kamu nih ya, kalo ngomong gak pernah di saring dulu," ketus Vanila.
"Hm, ya udah datang ke sini, boleh?"
"Otw, tunggu aja!"
"Oke sayang."
"E-eh, Apaan sih!?" ucap Vanila salting.
"Haha, oke bye."
'Tut'
Nathan tersenyum manis, ntah kenapa rasanya saat berbincang dengan Vanila, hati nya selalu tenang, apa mungkin ini pertanda mereka jodoh? Cih, konyol sekali─ Nathan ingat istri mu.
.
.
.
Waktu terus berjalan hingga petang tiba, kedua sejoli yang asik mengerjakan tugas kelompok itu tampak begitu fokus sekali.
"Ya udah bolos," sarkas Vera.
"Lo gak ikutan? Kita 'kan bestie."
"Enggak ah, nanti hukuman nya berat," jawab Vera.
"Emang hukuman nya apa?"
"Makan t4i!"
"Serius Ver, udah ah ... nyari makanan dulu yok," ajak Jihan.
"Traktir."
"Siap itu mah," balas Jihan.
Hingga akhirnya mencari makanan adalah ending dari kerja kelompok mereka, ke-dua nya asik berkendara sambil berboncengan membelah jalanan yang tak cukup ramai.
"Uwuu, berdua sama bestie lebih asik!" teriak Vera diikuti kekehan dari Jihan.
Tapi─
"BERHENTI DI SANA!"
Seketika Jihan langsung menginjak rem mendadak, "siapa tuh, Ver?"
"Gak tahu."
Tiga orang lelaki tampak berlari kecil mendekati Jihan dan Vera.
"Gadis yang b*doh! Mau-mau aja berhenti, padahal kita mau h*mil-in kalian loh," goda seorang om berkepala botak dan bertato di sekitar tangan nya.
"Berdua Vs bertiga, tapi kek nya lebih menarik yang itu deh," ucap yang lain selaku menunjuk ke arah Vera.
__ADS_1
"Gak! Jangan macem-macem, atau gue bakal teriak," ancam Vera.
"Daripada teriak mending mendes4h, iya gak guys hahaha?"
"Iya hahaha."
Mereka mendekati Vera dan Jihan kemudian menarik lengan gadis-gadis itu.
"Lepaas, tolong hiks ... hiks," tangis Jihan.
"Jangan sentuh kita br*ngs*k! Kalian emang kalo gak laku di dunia percintaan gak usah ngeperk*sa anak orang juga, anj*ng!" Bentak Vera.
Dua gadis itu sama-sama memberontak saat tiga pria berusia lanjut itu mencicipi area wajah mereka.
"Nathan, tolong gue hiks ... hiks," tangis Vera sembari memberontak.
'Bugh'
'Bugh'
'Bugh'
Jihan dan Vera merasakan pelukan paksaan tadi melonggar mendadak, kemudian menatap tiga lelaki jahat itu telah jatuh ke tanah.
"Cuih, pengec*t! Berani nya sama cewek doang, lawan gue sini!"
Steven dan Arga tampak menatap remeh ke arah tiga lelaki itu.
"Bangkit, ayo!"
Mereka kembali berkelahi, hingga tak diduga-duga, Steven dan Arga lah yang menang.
•••
"NATHAN HIKS ... HIKS." Vera berlari sambil menangis dan kembali memeluk Nathan dengan erat.
"Ke-kenapa Vera? Kok tiba-tiba nangis? Terus pulang nya kok lama?"
"Hiks lo tahu gak? Gue hampir diperk*sa om-om ped0 tadi, hiks ... hiks gue takut Than," adu Vera.
"H-hah? Seriusan?" Kaget Nathan.
Vera mengangguk, gadis itu terlihat sedikit sychok.
"Terus yang nyelamatin Vera siapa?"
"Steven sama Arga."
"Mereka berdua aja?"
"Hm."
"Ya udah, Vera istirahat aja di kamar dulu, Nathan mau buat teh untuk Vera," suruh Nathan.
"Makasih."
Vera 'pun pergi ke kamar.
Sementara Nathan pergi ke dapur untuk membuat teh, namun sebelum itu dia menelfon seseorang─
"Kalian bisa becus kerja gak sih, harus nya kalian l3ceh-in Vera sampe dia trauma, b*ngsat!"
"M-maaf pak bos."
"Gak guna kalian gue suruh!"
"Maaf pak bos, tapi tadi teman pak Bos menyelamatkan istri pak bos."
"Cih, cuma gitu aja gak bisa di kalahin, besok-besok kalian harus bisa bu*uh Vera, paham!"
"Paham pak bos."
'Tut'
"S!al, gagal rencana gue," batin Nathan.
__ADS_1
...next...
...****************...