
Peluh keringat bercucuran membahasi pelipis Vera. Gadis itu menjadi was-was saat ada yang menerornya tidak jelas seperti itu.
Dengan langkah yang cepat, Vera meloncat ke kasur dan hambur ke pelukan Nathan.
“Vera, udah siap sikat giginya? Gak sekalian pake masker?”
Vera tak menggubris, dia menatap nyalang pada Nathan. Yang ditatap hanya bisa meneguk l*dahnya kasar karena merasa aneh dengan tatapan Vera.
“Lo punya simpanan lagi ‘kan? Dimana Vanila?” tanya Vera dingin.
Deg!
“Simpanan? Selama gue masih punya lo, gue gak ada niatan punya wanita simpanan selain lo! Dan ... soal Vanila? Buat apa nanyain dia?”
“Than ... g─gue diteror. Itu di kaca kamar mandi ada tulisan bercak merah, pokoknya seram banget,” adu Vera.
Nathan menatap tak percaya pada istrinya, ia mengusap surai rambut Vera dengan lembut, “Halusinasi lo kali, pikiran lo juga harus dibuat tenang, Ver. Jangan maksain mikir terus,” kata Nathan yang hanya dibalas gelengan oleh Vera.
“Serius! Lo check sendiri kalau gak percaya!”
Nathan beranjak dari kasur, memastikan apa yang dikatakan istrinya benar atau tidak.
Setelah mengecek, Nathan kembali ke kamar, wajahnya dibawa santai seolah tak terjadi apa-apa. Memang tak terjadi apa-apa
“Vera, kalau lo capek istirahat, ya, jangan dipaksain sampe lo mikir yang enggak-enggak. Gak ada tulis-tulisan di kaca kamar mandi. Lo pasti lagi berhalusinasi untuk ngebuat alur cerita novel lo itu,” kata Nathan dengan nada lembut.
__ADS_1
“Masa? Tapi bisa jadi, sih,” gumam Vera. Kemudian, dia mencoba untuk berfikir jernih dan beristirahat dalam dekapan Nathan.
•••
“NATHAN ... NATHAN! Bangun bang*e! Malah asik-asikkan molor padahal matahari udah mau tenggelam,” celoteh Arga sembari menyeret sedikit kaki Nathan dari kasur.
Nathan mengucek-ngucek kedua matanya, menatap Arga sejenak kemudian melirik arlojinya.
“Serius ini udah sore? Tapi di jam tangan gue masih jam delapan pagi,” ucap Nathan mencoba sadar dari kantuknya.
“Udah tahu malah nanyak! Gue datang kesini dengan seribu rasa kekhawatiran, anj*ng, lo tahu gak? Steven nantang lo balap di circuit. Jadwalnya gak pasti, intinya kalau lo ada minat dan datang kesana.” Nathan yang mendengar nya hanya berdecih.
“Tumben? Mau tebar pesona dia?”
“Emang gue suka sama dia, gue masih doyan cewek. Ya kali gue cinta sama Steven. Btw, hadiahnya apa kalau gue menang balapan?” tanya Nathan penasaran.
“Motor baru plus uang khas. Tapi kalau lo kalah ....” Arga menjeda ucapannya.
“Apa?”
“Serahin Vera ke dia!”
•••
Di dapur, dua gadis yang terlihat akrab itu sedang bercengkrama dan memasak asik diiringi canda tawa riang.
__ADS_1
“Kak, akhir pekan ini gak ada niatan holiday sama Nathan?” tanya Erina.
“Kalau cuma sehari gak seru, karena besoknya udah sekolah. Emang kenapa?” tanya Vera balik.
“Gak papa, cuma kepo aja.” Vera menggangguk kecil, kemudian wajahnya ditekuk ragu seperti sedang takut.
“Rin, gue mau nanyak. Maaf kalau lancang, lo suka sama Nathan kah?”
Kening Erina mengernyit, “Enggak,” jawabnya.
“Sebelum gue kembali kesini, ada cewek lain gak, yang tinggal disini selain lo?”
Erina menggangguk pelan, “Ada, mamanya Nathan. Kenapa, kak?”
Vera tersenyum kaku, itu artinya Vanila tidak ada disini sebelum kehadiran Erina. Apa perlu Vera mencurigai Erina sebagai peneror? Vera merasa semalam bukanlah halusinasinya.
“Gak papa, sih. It's okey, semuanya baik-baik aja, kok,” ucap Vera meyakinkan.
“Oke, eum ... Kak Ver, mau bantu aku gak, buat ngasih kue-kue ini untuk anak-anak panti?” tanya Erina ragu.
“Eh, serius? Mau banget gue bantu, perlakuan lo itu mulia banget, tau gak,” puji Vera bertepuk tangan ria.
Pipi Erina memerah bak kepiting rebus, ia tersipu dengan pujian Vera barusan. Setelah itu, kedua wanita itu ke panti asuhan untuk memberikan beberapa kue kepada anak-anak disana.
...next...
__ADS_1