
"Terus lo mau nya apa? Lo mau jadi istri kedua gue? Kek nya gue mulai suka sama lo."
Jihan membulatkan mata nya, tercengang mendengar pengakuan Nathan yang sama sekali tidak pernah ia duga.
"L-lo suka sama gue?" ulang Jihan. Pandangan Jihan teralih menatap Vera yang menahan tangis, rasanya seolah Jihan menjadi antagonis disini.
"Ya, gue mau," jawab Jihan.
"Lo─"
"Gue mau nolak jadi istri lo maksudnya," lanjut Jihan dengan lantang.
".. benar-benar gak tahu diri ya lo. Sadar gak sih, lo itu udah punya istri! Baru kali ini gue lihat manusia berkedok binatang, keterlaluan banget sih lo Nathan." Kemudian, Jihan menatap Vera, menggenggam tangan sahabat nya yang terasa dingin.
"Vera, gue harap rumah tangga kalian selalu bahagia, permisi," pamit Jihan yang berlalu pergi meninggalkan pasangan suami istri itu.
•••
Mentari pagi menyapa dunia, Vera sedang sibuk berkutat dengan alat dapur pagi ini.
"Nathan, sarapan lo di atas meja ya" ucap Vera tersenyum saat melihat Nathan yang mulai menuruni anak tangga.
"Lo mau sekolah?" tanya Nathan.
"Iya, lo juga harus sekolah 'kan?" tanya Vera balik sembari mengunyah sandwich nya.
"Ogah, gue pengen putus sekolah," jawabnya terdengar acuh.
Vera berhenti mengunyah, "kenapa? Pendidikan penting lho, gue yakin, lo juga pasti punya banyak teman 'kan?"
"Gak, teman gak berlaku buat gue."
"Terus Steven dan Arga, arti mereka di hidup lo apa kalo bukan sebagai teman?"
Nathan menghela nafas, "mereka bukan teman gue, mereka teman almarhum adek gue yang cuma sok akrab sama gue. Mana ada yang mau temanan sama orang sombong kayak gue, mustahil rasanya."
Mendengar itu membuat hati Vera tersentuh, jadi maksudnya Nathan dulu seorang introvert?
"Kalo gitu gue bakal jadi teman hidup lo, sampai ajal menjemput," seru Vera.
Nathan menatap Vera datar, "seharusnya lo benci sama gue, ucapan lo itu cuma pengalihan yang sebenarnya adalah dendam, iya kan? gue gak bod0h Ver!"
Vera menggeleng kecil, "gue gak dendam, gue cuman kecewa sama lo. Jujur, gue kangen banget lihat jati diri lo yang dulu, Nathan yang polos, periang dan─"
"Itu cuma pura-pura," Nathan memotong pembicaraan, "dan soal ucapan gue kemarin, itu gak benar, gue juga takut buat ngelakuinnya."
"Ucapan yang mana?" tanya Vera.
"Pengen ngebvnvh lo."
Vera tersenyum, "Don't worry, gue percaya sama lo, gue juga mau tanya suatu hal. Soal semalam, lo b-benaran suka sama Jihan?"
"Gak."
"Terus?"
__ADS_1
"Gak papa."
Vera menggangguk walaupun jawaban Nathan kurang puas untuk di dengar.
"Gue pergi dulu." Nathan melangkahkan kakinya jenjangnya keluar mension.
Vera yang menatap kepergian suaminya menjadi penasaran, dan mulai berniat mengikutinya secara diam-diam.
•••
"LO SERIUS?" Steven beranjak kaget saat mendengar perkataan Jihan.
"WAH, EMANG SASIMO TUH BOCAH!" heboh Arga pula.
"Gue kasian sama Vera, pasti dia lagi nyanyi ku menangisssss membayangk─"
"Nanti sore lu nonton tu drama, sekarang keadaan Vera gimana?" celetuk Steven.
"Gue gak tahu, gue harap dia baik-baik aja," sahut Jihan.
•••
Di lain sisi, Vera mengintip Nathan dari kejauhan, ternyata pria itu sedang ziarah ke makam adiknya─Nathaniel.
Tangan kekar Nathan mengusap-usap batu nisan yang sudah kotor karena tertempel tanah yang mengering.
"Dek, gimana kabar lo? Maaf, gue baru datang sekarang."
"Gue kangen banget sama lo, gue belum bisa ikhlas buat nerima kenyataan ini, takdir jahat! Ini gak adil, gue masih pengen liat lo usil sama gue, gue rindu sifat lo yang polos, ramah, cengeng dan periang."
"Dan lo tahu gak? Sekarang gue udah nikah, gue udah jadi seorang suami, tapi gue masih ngerasa kalo gue masih kesepian. Istri gue baik dan cantik, tapi gue gak bisa nerima dia karena dia penyebab lo tiada hiks hiks."
Nathan meremas tanah dan tertunduk sedih, hati nya kalut saat mengingat kedekatan dirinya dan Nathaniel.
Nathanael dan Nathaniel, akan tetap menjadi saudara kembar yang abadi.
•••
Sepulang dari makam dan kembali ke mension, Nathan terkejut karena secara tiba-tiba Vera memeluk nya.
"Semangat ya," ucap Vera.
"Untuk apa? Kenapa tiba-tiba lo meluk gue?"
"Gak papa, biarain gini dulu," tegas Vera tersenyum tipis.
"Lo pendek banget, gue ngerasa lagi dipeluk bocil," gurau Nathan.
Vera mendongak, tatapan terlihat kesal saat Nathan memanggil nya pendek, "mentang-mentang tiang listrik, lo jadi seenaknya ngatain gue!"
"Itu fakta!"
"Tapi gue bukan bocil!"
"Lo bocil!"
__ADS_1
"Bukan!"
"Dasar bocil!"
'ceklek'
Pintu dibuka oleh seseorang, "ups, udah peluk-pelukan aja masih pagi, kita cabut aja yok Ven," ajak Arga.
Steven terdiam, wajah nya menjadi kusut saat melihat perilaku pasutri itu.
"Tumben akur? dan tumben juga ada yang gak buat ulah disini? Biasanya bolak-balik rumah sakit, situ udah mau tobat atau ada rencana baru lagi," sindir Steven.
"Gue lagi malas debat, jangan mancing emosi gue." Nathan memperingati.
"Gue juga malas debat, tapi gue cuma ragu sama sifat lo hari ini, soalnya gue kenal persis seorang Nathan," tekan Steven.
"Pergi lo," usir Nathan.
Steven terkekeh geli, "gue tahu lo udah nyusun rencana rapiiiii serapi mungkin, iya 'kan? Hebat banget ya lo, salut gue."
"Gue bilang pergi!"
"Gue bakal pergi, asal Vera ikut. Gue gak mau dia tinggal satu atap sama psik*p*t kayak lo!"
"Lo mau gue h*jar?" tanya Nathan mengepalkan tangan.
"Caelah baperan amat sih ngab, gue 'kan cuma ngajak bini lo doang, karena gue takut dia bakal habis di tangan lo."
Bugh!
"Udah gue bilang, JANGAN MANCING EMOSI GUE!"
"Gue gak takut," bisik Steven, kemudian terjadi perlawanan sengit antara kedua orang itu.
"UIH, SERU NIH! VERA, AYO KITA NONTON SEKALIAN MAKAN POPCORN!"
"CK, hentiin mereka, Arga."
"Males, btw yang kalah harus bayar tagihan listrik gue ye!"
"Dan Yang menang harus ngajak gue ke Korea, soalnya gue mau nonton konser Lisa belekepeng."
"Arga plis bantuan mereka," bujuk Vera.
"Shut diam! Gara gara lo, sedotan es gue jadi masuk ke lubang hidung anj*r."
Bragh
Steven jatuh ke lantai, terlihat lemah dan tak berdaya, pandangan nya menjadi buram.
Kali ini, giliran Steven yang akan menghuni rumah sakit.
...next...
...****************...
__ADS_1