
“Awh sakit, Than. Pelan-pelan aja,” ringis Vera kalah Nathan sedikit menekan lukanya dengan tisu untuk melap sisa cairan berwarna merah itu.
“Lebih sakit lagi hati gue pas ngeliat lo dikeroyok, Ver. Jujur sama gue! Lo punya masalah sama cewek-cewek centil itu?” tanya Nathan serius dengan tatapan yang tak luput dari istrinya.
“Enggak!”
“Terus kenapa mereka jahat sama lo?”
“Gara-gara kita nikah,” sambar Vera cepat.
“Salahnya dimana kalau gue sama lo nikah?” papar Nathan yang mulai merasa emosi.
“Lo kan most wanted, cewek mana yang gak tergila-gila sama, lo? Ya wajar mereka marah pas tau lo nikah sama gembel kek gue.”
Hati Nathan meringis mendengar ucapan istrinya, ia segera membawa Vera ke dalam dekapannya.
“Jangan ngomong gitu lagi, gue gak suka tau! Itu sama aja lo gak senang nikah sama gue,” bisik Nathan lembut.
Nathan mengelus-ngelus puncak rambut Vera, dan kemudian meng*cup kening Vera lama.
“Jangan sedih lagi, oke? Panggil gue kalau mereka usil sama lo lagi, biar gue buat gelar mereka jadi almarhum. Paham maksud gue 'kan, sayang?” ucap Nathan tersenyum nakal.
“Dasar sikopet!” ketus Vera.
“Karena gue serius sama lu Ver, cinta gue hari ini bukan cinta gue yang dulu lagi. Hari ini sampai selamanya, my heart will love you.”
•••
Setelah jam pelajaran usai, Vera dan Erina berjalan beriringan untuk menuju parkiran.
__ADS_1
“Kak, menurut kakak, aku ini manusia berdosa, ya?” tanya Erina yang membuat Vera menaikan alisnya bingung.
“Entah, hanya Tuhan yang tau. Buat apa nanyain gitu?”
“Karena ak—”
“WOY MONYET, TUNGGUIN GUE WOY!” teriak seseorang kalang kabut dari belakang sana.
“Ape sih? Gak nyadar kalau itu kembaran lo?” Vera menjitak kening Jihan membuat si empu meringis sakit.
“Oh iya, gue cuma mau bilang, hari ini Nathan gak pulang bareng kalian, karena dia mau cat rambut sama Arga,” ucap Jihan memberi informasi.
“Cat rambut? Tumben banget?” gumam Vera yang masih bisa didengar oleh Erina.
“Ya udah gue cabut dulu, ya. Bye!” Jihan berlari mendahului kedua wanita itu.
•••
Vera kini tengah melanjutkan ceritanya yang belum sempat diupdate di web lantaran sibuk mengomeli Nathan yang nakalnya minta ampun.
“Nathan cepat mandinya, gue juga mandi mau, nih,” teriak Vera sembari menutup laptopnya karena merasa badan gadis itu sudah mulai lengket.
“Mandi berdua, yuk,” sahut Nathan dari dalam kamar mandi.
“HEH! JANGAN HARAP!” sentak Vera kesal, dia mengambil bantal dan berbaring dikasur.
Nathan keluar kamar mandi dengan handuk yang melekat di bagian pingg*ngnya, bidang dad* yang berbentuk dan leher yang masih basah membuat leher putih itu tampak mengkilap.
Tak lupa dengan delapan kotak yang menambah kesan menggoda di perut Nathan, juga model rambut baru dengan warna yang baru pula.
__ADS_1
“Jangan dilihat ya kawan-kawan, itu haram,” monolog Vera langsung memicingkan matanya.
“Apa yang haram?” ketus Nathan.
“LO!”
“Gue halal!”
“Ih, nyebelin. Pake baju lo cepetan!” suruh Vera dengan nada paksa.
Senyum seringai mulai terukir di b*bir Nathan, pria itu tertawa nakal dan berkata “Tapi si Pijo mau masuk kandang, layanin kek.”
“Pijo siapa?”
“Pijo itu pisang jumbo, itu adek gue yang selalu ada di bawah, dari dia nantinya kita bisa punya dede bayi yang gemes-gemes,” jawab Nathan.
“Maksud lo?” tanya Vera berpura-pura tidak mengerti.
Nathan tak menggubris, dia menutup seluruh gorden, dan mengunci pintu. Tak lupa mematikan lampu.
“Lo penasaran 'kan? Sebentar lagi lo bakal ngerasain detik-detik kehadiran Pijo,” bisik Nathan dengan nada suara sexy dan langsung ******* bibir Vera.
•••
Sementara itu ....
Seorang gadis baru sadar setelah dibius oleh seseorang dan dibawa ntah kemana.
“Kak, Ver ... tolong aku,” lirih nya dengan nada suara lemah.
__ADS_1
...next...