Suami Polosku

Suami Polosku
perhatian Steven


__ADS_3

Di taman belakang sekolah yang di hujani daun-daun gugur itu, terlihat Vera yang termenung sendiri.


Mata gadis itu sembab. Bukan karena melihat kejadian Jihan dan Nathan yang saling menimpa. Bukan, bukan itu!


Vera hanya khawatir akan kesehatan nya. Saat keluar dari toilet, mendadak bagian perut nya terasa nyeri. Pernafasan yang terasa tercekat, membuat dirinya begitu takut.


"VERA!" panggil Jihan, dari kejauhan gadis berambut pirang itu tampak berlari kecil menghampiri temannya.


"Apa?"


"Vera, please, deh. Jangan marah! Apa yang lo liat tadi itu salah paham. Tadi pas gue baru masuk ke sekolah, anak-anak geng motor ngejar-ngejar gue. Ya, refleks gue kaget terus lari dan ... eh! Malah tabrakan ama Nathan ... terus tertimpa, deh, gitu ceritanya," jelas Jihan dengan raut wajah serius.


"Iya, gue percaya," jawab Vera dengan nada suara serak.


"Lo kenapa? Sakit atau masih bete?"


Vera menggeleng, "Cuma lemes doang, ga usah khawatir."


"Vera! Jihan!" teriak seseorang.


"Steven, ngapain disini?" kaget Vera.


Steven tersenyum, kemudian duduk dibangku bersampingan dengan Vera.


"Emang napa? Gak boleh ya?"


"Maksud dia, lo itu 'kan udah tamat, tapi kenapa ke sekolah lagi?" sarkas Jihan memperjelas.


"Suka-suka gue lah, gue kesini juga mau jemput Arga. Kayak nya kehadiran gue, jadi petaka sama kalian, ya?"Steven memasang ekspresi sedih.


"No! Kita cuma kaget doang, gue kira lo mau daftar sekolah lagi. Tapi btw, udah cocok lho, lo sebagai abang terbest di dunia. Soalnya, selalu antar-jemput Arga, kesannya kayak kakak beradik. Ya gak, Ver?" Jihan menyenggol lengan Vera.


"Iya."


"Dih, nih bocah kusut mulu mukaknya. Uang jajan lo kurang, ya? Nih, gue tambahin seribu." Jihan menyodorkan uang logam seribu kepada Vera.


Lagi dan lagi, Vera hanya menggeleng. Kepela Vera tertunduk lemah, wajah nya kembali pucat pasi. Hal ini menimbulkan rasa cemas pada Jihan dan Steven.


Steven berjongkok di hadapan Vera untuk mengangkat dagu gadis itu agar menoleh ke depan.


"Ver, lo kenapa?" tanya Steven panik.


"Gu─ HUEK!"


Alhasil, celana dan kemeja Steven menjadi korban muntahan Vera.


"Vera, lo muntah?" Jihan terjungkal kaget saat menatap cairan itu berserak membahasi pakaian Steven.


Mata Vera berair. Dia takut kalau Steven akan marah besar, karena Vera telah memberi noda pada kemejanya.


Steven bangkit, menatap lekat manik mata Vera yang semakin membuat gadis itu takut.


"Gue hiks minta maaf─"


Grep!


"LO KALAU SAKIT, JANGAN DIPAKSA SEKOLAH VERA! JANGAN BUAT GUE KHAWATIR!"


Vera tersentak. Ia kira Steven akan memarahi nya karena pakaian yang telah ia nodai itu, ternyata Steven malah mengkhawatirkan keadaannya.


Bahkan memeluk gadis itu dengan usapan lembut di surai hitam Vera.


"Oh God! Nathan ternistahkan guys, gue yakin setelah ini, akan rilis film suara hati suami," heboh Jihan.


•••


Malam telah tiba, Nathan yang tadinya asik bermain game, sekarang malah dilanda rasa khawatir. Mungkin sedikit.


Ia khawatir karena Vera tak kunjung pulang dari tadi sore, bahkan nomor telfon Vera juga tak aktif.

__ADS_1


Sebenarnya Vera kemana? Itu lah yang ada di pikiran Nathan.


"Tumben tuh bocil keluyuran malam, mau jadi kupu-kupu malam kayaknya. Memang kelewat batas si Vera," gumam Nathan.


Ting tong!


Nathan melirik ke arah luar, kemudian membukakan pintu.


"Mama? Vanila?"


Nathan menyalim tangan sang ibu, kemudian tersenyum manis pada Vanila, dan mengizinkan kedua wanita itu masuk.


"Kenapa ya, Ma. Datang malam-malam?" tanya Nathan penasaran.


"Pengen aja gitu, lihat keseharian kamu sama Vera," jawab ibu Nathan.


Deg!


"Ah, apaansih! Kalian kok jadi kepo sama rumah tangga Nathan?"


"Gak papa lah, sekali-kali, dong. Oh ya, Vera mana, udah tidur ya?" Mata ibu Nathan menggedar guna mencari keadaan menantu nya.


Nathan terlihat gelegapan.


"Pergi," jawab Nathan terdengar seperti lirihan kecil.


"Hah?"


"Pe─ pergi, Ma," jawab nya lagi.


"Malam-malam gini? Dia kemana?" Ibu Nathan penasaran.


Nathan mengangkat kedua bahunya bertanda dia sendiri juga tidak tahu.


"Udah dari tadi sore, Ma. Belum balik-balik, Nathan telfon gak diangkat," adu nya.


"Jual diri keknya," alibi Vanila.


"Gak. Gak mungkin dalam bahaya, dia pasti asik-asikkan sama Steven," timpal Nathan.


"Kalian berdua kok ngawur, sih? Menantu mama orang nya baik-baik lho," ucap ibu Nathan tak terima saat Vera dijelek-jelekkan oleh mereka.


"ITU FAKTA, MA!" serentak Vanila dan Nathan. Keduanya langsung berkontak mata.


"Kalian serius? Jadi, Vera itu perempuan liar yang suka keluyuran malam?" tanya ibu Nathan kecewa.


Vanila menggangguk, "Mama yang sabar, ya. Vera itu bermuka dua. Gak seharusnya Nathan nikah sama perempuan modelan kek dia!"


Mata ibu Nathan kini dipenuhi liquid bening, "Gak nyangka sama Vera, ternyata selama ini, hiks ...."


Grep!


Vanila memeluk ibu Nathan, "Jangan sedih, Ma. Masih ada Vanila yang selalu siap sedia di samping Mama."


•••


Mata beriris cokelat itu perlahan membuka, Vera melihat sekeliling nya.


Rumah sakit? Jangan lagi, gadis itu muak menetap di sini.


Mulut dan hidungnya kini ditutup dengan tabung oksigen. Asam lamb*ng itu kambuh kembali.


Tidak ada seorang pun yang menemani nya di pagi hari ini. Apa semua nya sibuk atau tidak ada yang peduli?


Vera menggeleng, dia membuang pikiran negatif nya jauh-jauh. Jujur saja, Vera sangat menyesal, karena dulu selalu mengaibakan jadwal makan.


Sekarang lihat. Dia hanya bisa berharap sembuh dari penyakit kronis ini.


Ceklek!

__ADS_1


Steven datang sembari membawa makanan untuk Vera.


"Steven, gue mau pulang!" tegas Vera.


"Tapi─"


"GUE MAU PULANG!"


"Kenapa? Takut sama Nathan? Itu urusan belakang! Kesehatan nomor satu, Vera. Jangan klise, deh. Mikir dong Vera, MIKIR!"


"Tapi nanti, Nathan marah besar," sahut Vera.


"Gue yang jelasin, nanti. Sekarang lo makan, ya" bujuk Steven.


"Habis gue makan, antar gue pulang ya," mohon Vera dengan mata berair.


"Kalau diizinin dokter."


•••


Vera kini telah menginjakkan kaki di kediaman Nathanael Algantara─ suaminya. Dia diantar oleh Steven setelah mendapat izin dari dokter. Seharusnya, masa rawat inap Vera, sehari lagi. Namun, apa boleh buat? Watak Vera itu keras kepala.


Disini, hanya untuk membuka pintu saja, Vera sudah dag-dig-dug duluan. Dia agak risau, cemas, dan ragu.


Ckelek!


"Eh, ibu negara udah pulang," cibir Vanila.


"Ngapain lo disini?" acuh Vera.


"Gantiin posisi kamu sebagai istri," jawabnya tersenyum devil.


"Lo benar-bena─"


"Bercanda, Vera sayang. Utututu, baperan amat sih, mending kamu ke dapur, deh. Mama Nathan punya kata sambutan buat kamu," suruh Vanila.


"Ma─mama Nathan?" ulang Vera dengan mata yang terbelak.


"Iya, mama mertua kamu. Kenapa? Malu yaaa?"


Vera mengaibakan Vanila, ia berlari kecil ke dapur untuk melihat keadaan disana.


"Hai, Ma," sapa Vera.


"Dari mana kamu?" dingin ibu Nathan.


"Rumah sakit, Ma."


"Siapa yang sakit?"


"Vera sendiri, Ma."


"Alasan!" sentak beliau.


Vera mendekati ibu Nathan, "Sumpah, Ma. Vera gak bohong, Vera bener-bener sakit. Kemarin asam l*mbung Vera kambuh lagi, terus di─"


"Terus dibawa sama Steven ke RS, setelah itu, enak-enakan sama dia 'kan? Pasti Vera udah ditiduri Steven," sarkas Nathan memotong pembicaraan.


Vera menggeleng, "Kalian kenapa, sih? Dan lo, Nathan, gak usah sok tahu tentang Steven. Steven yang kena imbasnya, dia serba repot karena gue. Pikiran nya gak mungkin sekotor itu. Dia beda kayak lo!"


"Nah 'kan, malah dibelain selingkuhan nya," elak Nathan diiringi kekehan kecil.


"Udah lah Vera, apapun ceritanya, kalau kamu sudah berdua-duaan dengan laki-laki yang bukan muhrim, kamu tetap salah," nasihat ibu Nathan.


Vera tersenyum getir, lalu bagaimana dengan Nathan dan Vanila yang sudah pernah beradu mulut tanpa adanya ikatan pernikahan?


Mata Vera menatap nyalang pada mertua dan suami nya.


"Kalau gitu ... Vera pengen nikah lagi sama Steven!"

__ADS_1


Deg!


__ADS_2