
Di circuit balapan, Nathan dan Steven tampak begitu sengit dalam pertaruhan ini. Jujur, sebenarnya Nathan juga tidak terima dengan usul Steven yang menjadikan istrinya sebagai bahan taruhan.
Namun, Nathan itu orangnya tempramental, dia tidak ingin dianggap lemah atau pecundang. Apapun keputusannya, dia akan terima walau melibatkan Vera sekalipun.
Dan kini keduanya pun bertanding.
•••
Kini Vera dan Erina telah sampai di rumah setelah beberapa menit menjenguk anak-anak panti.
“Kak Ver, ini diminum dulu jus jeruk nya,” suruh Erina sembari meletakkan segelas jus jeruk dingin dan beberapa cemilan.
“Thanks, Rin.”
“Kakak pasti capek, ya? Soalnya 'kan anak-anak panti seneng banget pas main sama kakak, sebagian lagi ada yang rewel.”
Vera menggeleng, kemudian tersenyum dan berkata, “Gak papa, kok. Gue juga seneng banget main sama anak kecil. Itung-itung persiapan jadi ibu, haha ... ya ampun, pikiran gue udah sejauh itu padahal gue sendiri masih sekolah.”
Seulas senyuman manis dari b*bir Erina mengembang saat melihat Vera tetawa manis begitu.
“Gak papa kak, itu artinya Kakak udah siap jadi ibu yang baik,” sahut Erina.
“Iya, btw ngomong soal anak-anak. Gue jadi teringat sama bocil di rumah ini. Mereka kemana ya?” Vera mengedarkan pandangannya.
“Bocil? Siapa?”
“Nathan sama Arga, mereka kemana, ya. Tumben sepi nih rumah, kayak room chat gue. Sepi gak ada yang chatting,” adu Vera terdengar sendu.
“Oh, haha ... mungkin lagi main, Kak.”
“Main? Arga tipikal orang yang gak suka main, sukanya makan,” sahut Vera yang hanya dibalas senyuman oleh Erina.
“Namanya Arga, ya,” gumam Erina yang masih bisa didengar oleh Vera.
“Ekhem, gue mencium aroma-aroma cinta disini,” ucap Vera yang peka saat Erina menyebut nama 'Arga' dengan senyuman manis.
Lantas, gadis berambut panjang dengan kulit langsat itu langsung menggeleng cepat.
“Gak, aku gak suka sama dia,” papar Erina.
Vera berdecih, “Selow aja kali, gue juga orangnya gak beber kalau semisalnya lo ngaku tentang perasaan lo untuk Arga.”
__ADS_1
Lagi dan lagi gadis itu kembali menggeleng, “Serius! Kalau bisa dua rius, aku gak suka sama dia. Sumpah, Kak!”
“Ya udah gak papa,” pasrah Vera yang langsung menjatuhkan bobot tubuh ke sofa.
“Aku ke dapur dulu, ya, Kak! Mau cuci piring.”
“Iya.”
Vera membuka layar ponselnya, membuka room chat dan gadis itu kembali terkejut dengan isi pesan yang masuk oleh orang yang tidak dikenal.
[ ..... ]
Lo degil banget, ya!
Mau lenyap hidup lo gue buat!
Kening Vera mengerut, tidak ada identitas atau profil yang lengkap untuk mengetahui si pengirim pesan tersebut.
[Vera]
Lo siapa?
[ ..... ]
[Vera]
Gue bisa laporin lo ke polisi atas tindakan lo yang gak senonoh ini, ya!
[ ..... ]
Pengecut!
[Vera]
Gak nyadar, lo lebih pengecut! Neror orang gak berani bongkar identitas. (Emot batu)
[ ..... ]
Gue bakal bongkar identitas asal lo nurut ke gue.
[Vera]
__ADS_1
Males
[ ..... ]
Gue bakal ganggu usaha lo buat jadi novelis, camkan itu!
[Vera]
Apa permintaan lo? Uang seribu 'kan? Besok gue transfer.
[ ..... ]
Datangi ke gedung itu! Gue udah Sherlock alamatnya. Kalau sampe Lo gak datang, siap-siap Nathan jatuh ke pelukan orang lain.
[Vera]
Kapan?
[ ..... ]
Besok.
Cuma sendiri.
[Vera]
Kenapa gak boleh berdua?
Karena lo jomblo 'kan, makanya Lo takut jadi nyamuk.
-read-
Vera mengetuk-ngetuk hp nya kuat karena kesal.
“Siapa, sih ini. Ini udah kedua kalinya gue diteror. Bikin orang khawatir aja!”
•••
Kembali ke circuit balapan, Nathan dan Steven sudah mendekati garis finish. Teriakan heboh langsung memekik telinga karena begitu kerasnya penonton mendukung kedua orang itu.
“OMG! Udah dekat garis finsih!” teriak Arga was-was.
__ADS_1
Dan pemenang nya adalah ...
...next...