Suami Polosku

Suami Polosku
Rindu


__ADS_3

"Kalau gitu ... Vera mau nikah lagi sama Steven!"


Deg!


Alis Nathan menukik, ada rasa terkejut dan tertantang saat mendengar keberanian istrinya itu.


"Ya udah, sana! Sana nikah aja lo! Gue bakal hadir, kok. Hadir buat ngerusak suasana."


Ibu Nathan hanya menggeleng cepat, "Selesaikan masalah kalian tanpa ada sangkut pautnya dengan cerai, kepala mama jadi pusing karena kalian."


Beliau pergi meninggalkan pasangan suami istri itu, berharap setelah nya mereka berdamai.


Nathan tersenyum devil, "Sok-sokan mau cerai, yang lo embat aja udah tua. Oh iya, belum ada tanda-tanda lunas tentang hutang-perhutangan kita, ya? Jadi, mau gak mau, lo tetap jadi istri gue."


"Gue tetap bakal gugat cerai lo! Tapi, gue juga bakal berusaha buat ngelunasi utang gue. Lo udah keterlaluan. Lo fitnah gue lagi asik-asikkan sama cowok lain padahal sebenarnya gue sakit!"


"Terus? Gue harus sujud ampun sama lo karena udah ngefitnah lo, gitu, ha?" hardik Nathan.


"Gue gak pernah berharap gitu, tapi, mungkin suatu saat nanti lo yang bakal ngelakuin itu ke gue!"


Kaki jenjang Nathan bergerak cepat berlari ke kamar, mengemasi baju-baju Vera dalam satu koper, dan menj*tuhkan benda itu tepat di hadapan Vera.


"Pergi lo! Dan buktikan perkataan lo itu!" usir Nathan.


Vera mengusap air matanya, "It's okey, gue bakal pergi. Gue minta maaf kalau ada sikap gue yang gak nyenengin selama ini. Dan makasih atas semuanya, mulai dari orang-orang yang lo sewa buat melakukan pelec*han ke gue, sampai ngebuat orang-orang terdekat gue jadi b*nci sama gue."


Pupil Nathan membesar, dari mana Vera tahu semua tentang sisi gelapnya?


"Itu emang pantas buat lo! Kenapa, gak seneng?" ejek Nathan, sepersekian detik kemudian dia menutup pintu dengan keras.


Meninggalkan Vera seorang diri.


•••


Sudah, sudah cukup semalaman menangis. Vera kini harus fokus pada masa depannya. Gadis itu menetap di kost yang jauh dari komplek rumah Nathan.


Dia sengaja tidak memberitahu Steven, karena rasa malu Vera saat mengingat Steven yang selalu kewalahan karena mengurus dirinya.


Gadis itu memulai kehidupan dengan belajar menjadi penulis web. Mulai dari komik dan novel-novel yang akan ia terbitkan.


Hari berganti hari, komik dan Novel yang dibuat Vera banyak diminati, bahkan masuk daftar terpopuler sehingga menambah sedikit demi sedikit penghasilannya.


Di kamar, Vera kini tengah menghitung jumlah penghasilan bulan ini, dia sudah menentukan uang yang akan digunakan untuk melunasi hutang Nathan dan untuk kebutuhan sehari-harinya.


"Setelah uang nya terkumpul, gue bakal gugat cerai Nathan, dan bakal pergi dari kota ini," gumam Vera tersenyum getir.


Brak!


Seseorang mendobrak pintu kamar nya, yang lantas membuat gadis itu terkejut bukan main.


"Nah betul 'kan ucapan aku! Uang Mama Nathan hilang karena dicuri sama menantu nya ini!"


Deg!


"Maksud lo apa, ya? Ini uang hasil kerja keras gue! Gue bukan pencuri!" bentak Vera.


Vanila berdecak sebal, "Mana ada maling ngaku maling! Selama kita liburan, kamu datang diam-diam ke rumah Nathan 'kan? Terus ngambil uang itu?" tuduh Vanila disertai rasa curiga.


"Heh! Lo datang tanpa izin langsung nyalahin gue tanpa bukti! Maksud lo apa?! Kalau mau caper, bukan di sini tempatnya, bang*at!"

__ADS_1


Vanila merampas uang itu, kemudian memberikannya kepada ibu Nathan," Ma, ini uang Mama."


Nathan yang ikut hadir pun menatap nyalang pada Vera, "Diam-diam gini, ternyata lo bisa jadi ib*is ya. Gue bakal laporin lo ke polisi, tapi gue urung niat gue karena gak punya bukti yang kuat."


"Justru karena gak ada bukti yang kuat, lo gak bisa seenaknya ngambil uang gue!" bentak Vera.


"Kita gak peduli." Nathan dan ibunya segera meninggalkan lokasi kediaman Vera.


Sementara Vanila masih menatap tak percaya pada apa yang ia lihat, " Kok bisa kebetulan gini, ya? Di saat aku nuduh kamu, di situ pula kamu asik ngitung duit. Padahal, yang curi duitnya 'kan aku?"


•••


Tiga bulan kemudian..


Asap rok*ke mengudara di kamar Nathan, sekarang Nathan cenderung lebih asik dengan nikotin dibanding dengan hal-hal yang berbau sehat.


"Sayang," panggil Vanila manja, ia mengalungkan tangannya di leher Nathan.


"Kenapa?" jawab Nathan.


"Aku mau izin keluar bareng temen boleh, gak? Hari ini pulang nya telat, gak papa 'kan?"


Nathan tersenyum, "Tapi kalau ada apa-apa, hubungi aku, ya."


"Siap Pak bos!"


Cup!


Vanila berpamitan setelah itu keluar dari kamar Nathan.


Beberapa menit Vanila pergi, Nathan pun sama hal nya ingin pergi juga, setidaknya untuk memperbaiki moodnya.


Nathan menyeruput anggur merah dan menikmati musik dugem barat di bar, ini adalah ketenangan yang ia cari.


Dulu, biasanya jika ada masalah, Vera selalu mengajak Nathan beribadah sebagai solusi mencari ketenangan yang sesungguhnya.


Tapi, sekarang foya-foya lebih menyenangkan.


"Aku pesan kamar VIP dulu untuk kita main, kamu tunggu sebentar ya, sayang," ujar seorang lelaki pada gadis nya.


Nathan hanya mengamati lamat-lamat aktivitas mereka, sejahat-jahatnya pun Nathan, tapi beliau tidak pernah mengambil kehormatan wanita diluar kata 'sah'.


Vera saja pun belum pernah ia tiduri.


Lelaki tadi menggendong perempuan itu ala bridal style dan menuju kamar VIP untuk melakukan aktivitas private selanjutnya.


Namun, ada hal yang mengganjal pada Nathan saat menatap wanita itu.


"Vanila?"


Nathan sengaja berlama-lama di sana, untuk memastikan apa yang ia lihat benar atau tidak.


Beberapa jam menunggu, dua orang tadi keluar dan saling melempar senyuman.


"Makasih ya, cantik. Ini bayaran atas kenikmatan yang kamu beri tadi, see you my baby girl," pamit pria itu setelah memberikan sejumlah uang.


'Jadi, selama ini Vanila mengangkang disini hanya untuk uang?' batin Nathan tak percaya.


Vanila berjalan keluar bar tanpa menyadari kehadiran Nathan disana, dia menuju komplek perumahan besar dan menekan tombol bel.

__ADS_1


"Udah nyampe? Aku rindu banget sama kamu," ujar pria lain yang berbeda sambil memeluk Vanila.


"Hum, sekarang aku mau nagih utang aku kesini, mana?"


"Ini."


"Thanks, untung aku gak ketahuan karena nyuri uang ibu Nathan, padahal aku curi uang itu 'kan cuma buat kamu," ucap Vanila.


"Iya, makasih. Kamu pacar aku yang paling the best."


Deg!


'Ternyata dia sasimo, liat aja nanti di rumah, habis lo di tangan gue,' batin Nathan


•••


Nathan tak kuasa menahan tangisnya, ia mencintai Vanila apa adanya. Namun, wanita itu lebih mudah untuk menyia-nyiakannya.


"S*al, selema ini gue tertipu," monolog Nathan.


Barang-barang yang ada di atas meja kamarnya semua berserakan. Dinding pun ikut menjadi korban bogeman Nathan.


Dia salah paham terhadap Vera, uang hasil keringat istrinya telah ia kuras habis.


Sekarang, Nathan juga tidak tahu bagaimana nasib Vera tanpa uang-uang itu.


Nathan menangis pilu, dia rindu Vera. Dia rindu canda riang tawanya dengan Vera, dia rindu masakan Vera.


Semua hal tentang Vera, Nathan merindukan itu.


Nathan mengambil kunci motor, dan langsung tancap gas menuju kost-kostan tempat Vera tinggal.


Saat sampai di tempat tujuan, penghuni nya kosong, bahkan tertera di pintu itu tulisan 'rumah ini disewa'.


"Ver, kamu kemana?" lirih Nathan.


Sekali lagi, dia menagis. Nathan takut kalau istrinya sudah menghadap Yang Maha Esa.


Cowok itu mengunjungi rumah Steven, Arga, Jihan dan orangtua Vera. Namun nihil, gadis itu tak ia temukan disana.


Nathan pulang dengan seribu rasa penyesalan. Disaat tidak ada Vera, disitu lah rasa cinta Nathan pada Vera tumbuh.


Pria itu menatap buku diary hadiah Vera kemarin saat ulangtahunnya. Buku itu terletak ditempat sampah setelah tiga bulan lamanya.


Keadaan nya masih utuh, karena jarang orang rumah membuang sampah disitu.


[ Maklum holkay, tempat sampah tertera di setiap ruangan:v jadi buangnya gak disitu-situ aja ygy]


Tangan kekar Nathan mengambil buku itu. Hadiah yang dulunya ia anggap sepele, sekarang menjadi barang berharga yang tak boleh lecet.


"Kalau memang kamu udah gak ada, please ... hadir di mimpi aku walau cuma sebentar, aku bakal bersujud minta maaf sama kamu, Ver," lirih Nathan sembari memeluk buku itu.


"Atau aku yang akan nyusul kamu ke alam lain?" lanjutnya.


Sorry kalau alur gaje dan pasaran, juga gak nge-feel. Soalnya kerjaan aku bukan cuma buat cb aja 'kan? Aku sibuk & puyeng:(


...next...


...****************...

__ADS_1


__ADS_2