
Hembusan angin meniup beberapa helai rambut pirang Vanila. Bayangan tentang adegan Nathan dan Vera tadi terus menghantui pikirannya.
"Hiks."
"Nathan jahat!"
"Aku kecewa sama kamu, Nathan."
•••
Di sisi lain, tidak reaksi yang dilakukan Nathan selain santai dengan ponsel nya.
"Tumben, kenapa lo gak ngejar Vanila?" tanya Vera melirik Nathan.
"Gue capek, palingan habis nangis, dia langsung shopping. Udah ah, sana lo! Gue mau main game," jawab Nathan cuek.
Vera tak menggubris, pesta sudah selesai, dan tamu sudah berpergian. Netra Vera menangkap tumpukan kado dan bingkisan di atas meja.
'Sepatu itu bagus banget' batin Vera saat menatap sepatu pemberian Nathan pada Vanila.
'Andai aja Nathan ngasih itu ke gue, tapi ... gue memang gak layak dapat barang bagus. Toh, hadiah gue ke Nathan itu pasaran banget. Gak ada artinya di banding hadiah jam tangan Vanila'
Vera mulai mencari-cari buku yang ia buat sebagai hadiah untuk Nathan. Dia hanya ingin tahu, apa suaminya berniat untuk menyimpan hadiah buku diary itu?
Deg!
Buku yang ia cari tidak ditemukan di tumpukan kado, hanya saja, buku itu terletak di tempat sampah.
Sedih? Tentu. Siapa yang tidak sedih bila hadiah yang ia berikan malah dibuang oleh si penerima.
Tak kuasa gadis itu menahan tangis, beliau menutup mulutnya serapat mungkin agar suara tangisan nya tak terdengar oleh Nathan.
"Ver, ngapain lo di situ?" tanya Nathan.
"Kalau lo suka sama salah satu hadiah nya, ambil aja. Tapi, jangan ambil sepatu yang gue kasih ke Vanila," suruh Nathan dengan tatapan yang fokus pada game.
Vera tersenyum getir, dia sengaja tidak ingin berbalik menatap Nathan agar tidak ketahuan diam-diam menangis.
Langkah kaki Vera berlari menaiki anak tangga, dia tidak peduli dengan hadiah-hadiah mewah itu.
•••
Vera membaringkan bobot tubuh nya di kasur, menarik selimut untuk menutupi area wajah yang sembab.
"Hiks, gue tau buku diary gue itu murahan, tapi setidaknya lo hargai pemberian gue! Jangan dibuang gitu aja. Dasar Nathan s*alan! Gue benci sama lo, hiks ... hiks," tangis Vera histeris.
__ADS_1
'Drtt ... drtt'
Acara tangis-menangis Vera berhenti mendadak saat Jihan melakukan panggilan Video.
"Annyeong, Vera lo tau─ eh! Bentar ... lo nangis?"
"Hm, gue rindu sama lo," jawab Vera membuat Jihan jadi salah tingkah sendir.
"Aww, padahal lo cewek, tapi gue baper eoh, saranghae Vera."
"Iya, kenapa lo nelfon gue?" tanya Vera langsung ke inti.
"Gue denger Nathan ulang tahun ya?"
"Udah selesai, lo tahu darimana?" kepo Vera.
"Dari facebook, katanya, teman anda Nathan Al sedang berulangtahun hari ini, ucapkan ucapan selamat anda─"
"Iyaa, bilang makasih sama facebook, udah 'kan? Gue ngantuk, nih," rengek Vera.
"Ya udah, sampai ketemu besok di sekolah. Bye sayang."
'Tut'
'Ceklek'
"Sama duda anak selusin, kenapa?"
"Lo selingkuh?"
"Iya!"
"Dasar mura─"
"KALO LO BISA SELINGKUH, KENAPA GUE GAK BISA?"
"Emang gue selingkuh sama siapa?" tanya Nathan kesal.
"Selain beg*, ternyata lo sok pikun juga, ya. JADI VANILA ITU SIAPA LO? NENEK MOYANG LO, HA?!"
"Dia cuma sahabat gu─"
"SAHABAT? TAPI KOK TAHTA NYA KAYAK RATU KERJAAN? Dimanja, disayang, dijaga, dicintai. Sedangkan sama gue? Cuma kapan perlu pake, doang!"
Nathan mengepalkan tangannya, "Tidur! Besok kita sekolah."
__ADS_1
•••
Pagi ini Nathan dan Vera tidak berangkat bersama ke sekolah. Vera sudah lebih dulu berangkat menggunakan taksi.
Nathan juga tak mempermasalahkan itu, mau Vera pergi menggunakan kuda lumping 'pun, dia tak akan pernah peduli.
Setibanya Nathan di sekolah, banyak adek kelas yang langsung berlengut manja di lengan kekar nya.
"Kak Nathan wangi banget, pake parfum apa?"
"Parfum sari wangi t4i. Minggir lo bocil!" kesal Nathan sembari bergerak jauh dari kerumunan anak gadis itu.
Kaki jenjang Nathan terus berlari kencang guna menjauh dari mereka. Hingga ia sampai di tempat yang lumayan sepi.
"Huft ... ampun dah, gue gak suka jadi ganteng, gue pengen jadi ultraman," monolog Nathan sambil mengatur nafas nya yang tercekat.
'Brugh'
Seorang wanita tak sengaja menabrak Nathan karena terburu-buru lari, dan alhasil terjadi pose saling menimpa.
"Ji--Jihan?"
"Nathan?"
Degh!
"Kalian? Wuah ... asik banget ya, lanjutin aja deh, maaf mengganggu," ucap Vera segera berlari menjauh.
"Vera! Tunggu!" Nathan mendorong Jihan dari atasnya kemudian mengejar istrinya.
"Vera pasti salah paham. Ish! Ini karena anak-anak geng itu, suka banget ngejar-ngejar gue, pokoknya gue harus jelasin ke Vera!"
•••
Sementara itu, Vera berlari ke wastafel, dan menatap pantulan dirinya di cermin.
"Buat apa gue nangis? Tapi gue pengen nangis, hiks ... hiks. Gue cemburu!"
Vera mengusap air matanya.
"Penghianat! Ternyata kalian main belakang hiks."
"Nathan tega banget, sih."
"Ku kira kau rumah ... ternyata kandang bagong."
__ADS_1
...next...
...****************...