
"Gue milih ...."
Nathan dan Aldo sama-sama saling menatap lekat ke arah Vera, guna mendapat jawaban dari gadis itu.
"Milih siapa Ver?" Tanya Aldo dengan ragu karena tatapan Vera terus terpaku pada dirinya.
"Huft, Aldo gue masih sayang sama lo, lo itu udah baik banget sama gue, terkadang lo cuek, tapi sebenarnya lo peduli"
"Jadi lo milih gue?"
Vera menggangguk.
"YES! Makasih banyak Ver, lopyu"
"Tapi bo'ong ahahaha"
"Lah? Gue serius Ver," sarkas Aldo
"Gak! Sorry, gue milih Nathan, alasannya karena dia suami gue, walaupun gue gak cinta sama dia, tapi, bakal gue usahain, pernikahan bukan mainan, dan sekarang kita
udah 'sah' di mata negara dan agama."
Aldo terdiam tak berkutik, memang benar yang dikatakan gadis itu, Vera tidak berubah, hanya kondisi yang berubah tak seperti dulu lagi.
"Oke gue paham, semoga hidup lo gak bahagia," lirih Aldo kemudian berjalan gontai ke luar.
•••
"Vera, Ayo joget bareng Nathan!" Ajak Nathan sembari berg0yang mengikuti irama musik 'Tayo the little bis'
"Males"
"Ih, ayo dong! Biar Vera ceria dikit, Vera masih muda tapi udah keriputan kek nenek-nenek haha," ejek Nathan.
"Diam lo gepeng!"
"Iya deh, bdw, Nathan laper," adu pria itu sambil memanyunkan bib*r nya.
"Terus?"
"Yaaa ... Nathan lapar!"
"Emang lo mau apa?"
__ADS_1
"Dag1ng cicak rasa bab1"
"Stres," umpat Vera.
"Lo jangan minta yang aneh-aneh, apa lagi minta anak, gue bisa gila kalo dengar hal yang begituan," ucap Vera sembari memijit pelipisnya.
"Anak? Nathan mau anak aja deh"
"Ogah, gue gak mau jadi mama muda."
"Tapi, Nathan mau punya anak"
"Gue gak mau, gue paling gak suka liat anak kecil, lo tatap mata gue dan lo liat, keinginan besar gue bukan punya anak," lirih Vera.
Natha pun menatap mata Vera.
"Apa yang lo liat?"
"T4i mata."
"Anj*ng!"
Pletak!
"Biarin!"
'Ting tong' bel rumah berbunyi untuk yang ke-dua kalinya, kedua pasutri itu langsung hilang fokus.
"Pasti Aldo tuh, gak ada kapok-kapok nya," ujar Nathan mengerem kesal.
Nathan dan Vera membukakan pintu, dugaan mereka ternyata nya salah, dua orang berjenis kelam1n berbeda tampak terlihat khawatir.
"Kenapa ya pak, buk?" tanya Vera sopan.
"Ngapain bawa guling kesini? Mau numpang tidur yaa?" timpal Nathan.
"Itu bukan guling gobl*k, itu bayi"
"Begini, saya dan suami saya sedang dilanda rasa cemas, perusahaan suami saya di luar kota sedang mengalami kerusakan parah, jadi kami harus mengurus nya, bisa saya titip anak saya sama kalian?" Tanya wanita itu.
"Oh, boleh kok," jawab Nathan kemudian mengambil alih anak tersebut.
"Eh, lah kok dite─"
"Oh iya, ini susu nya, nama dia Farel, ya sudah, kami permisi, terimakasih"
__ADS_1
•••
Beberapa jam kemudian.
"Hoek ... hoek"
"Duh, gimana nih?" panik Vera.
"Cup, cup, ada Nathan disini, jadi gak boleh nangis lagi ya," bujuknya.
"Mom ... mommy hiks" rengek anak itu.
"Dia bilang apa Vera?"
"Kek nya dia kangen emak nya"
"Emang Vera gak bisa jadi emak nya?" tanya Nathan.
"Berarti gue harus kawin lagi dong sama bapak nya"
"Eh! Jangan! Nathan cuma bercanda hehe" cengir Nathan sambil menggaruk tengkuk leher nya yang tidak gatal.
"Nathan," panggil Vera
"Hm"
"Lo tadi masak jengkol ya?"
"Enggak, kenapa?"
"Wangi banget soalnya"
"Mana ada! Bau T4i yang ada, kek nya si Farel BAB deh"
"Coba di cek dulu," suruh Vera.
Nathan pun membuka popok bayi itu dengan sembarangan.
'****'
"ANJ*R! T4I NYA MUNCRAT"
...next...
...****************...
__ADS_1