Suami Polosku

Suami Polosku
Diacuhkan


__ADS_3

Tiga hari telah berlalu. Kini suara gelak tawa dari kolam renang terdengar sedikit nyaring di indra pendengaran.


Suara itu berasal dari Vera dan Farel.


"Bebek nya lucu ya? Sama kayak Farel hihihi." Vera mengacak rambut tebal Farel dan memberikan bebek mainan berukuran mini tersebut kepada Farel.


Farel hanya tertawa bahagia.


"Vera, ada tamu yang datang tuh," ucap Nathan sambil berlari tergesa-gesa.


"Siapa?"


"Gak tahu."


"Suruh masuk!"


"Oke."


.


.


.


.


"Hiks ... hiks," Nathan menangis kecil saat melihat pemandangan menyedihkan tersebut.


"Apaan sih! Seharusnya lo senang, karena Farel bakal kembali sama orang tuanya,"ucap Vera.


"Maaf ya Nak Nathan, sekarang urusan kami sudah kelar, dan kami akan mengambil Farel kembali," ucap ibu Farel.


"Dan sebagai bayaran nya, saya akan memberi sejumlah uang pada kalian," sambung Ayah Farel.


"G-gak perlu, Om, lihat Farel tersenyum bahagia dan sehat selalu aja udah cukup sebagai bayaran nya," ucap Vera.


"Ya Tuhan, baik sekali, terimakasih nak."


"Sama-sama"


•••


Kini Vera sedang sibuk menulis beberapa tugas sekolah dan Nathan sibuk dengan ponselnya.


"Oh ya Nathan, gue lupa. Lo bisa gak, antarin gue ke perpustakaan pusat kota? soalnya gue mau beli novel keluaran terbaru," pinta Vera.


"Boleh kok tapi─"


'Drtt ... drtt'


"Eum─ tunggu sebentar ya," ucap Nathan.


"Yang nelfon siapa?" tanya Vera.


"Va-Vanila."


"Lo nyimpan kontak dia?"


"Udah lama."


Vera kembali bungkam, dia juga harus berfikir positif, acapkali Vanila menelfon karena butuh bantuan.


"Hallo," sapa Nathan.


"NATHAN KAMU BISA KE SINI GAK, AKU TAKUT ARGHH, TOLONG HIKS TOLONG!"


"H-hah Kenapa? Tunggu disana, Nathan Otw." Dan segera Nathan mengakhiri panggilan nya.


•••


Kini keduanya tiba di kediaman Vanila, hanya rumah sederhana bernuansa biru laut, tapi tampak menyejukkan mata.


"Cepat Nathan bukan pintunya, pasti Vanila dalam bahaya di dalam," ucap Vera penuh cemas.


"Kekunci Ver!"


"Dobrak aja."


"Oke."


Brak!


Setelah pintu di dobrak, keduanya langsung berlari mencari Vanila di kamar pribadi gadis itu.


"ARGGHHH TOLONG!" teriak Vanila histeris.


"L-lo kenapa Vanila?" tanya Vera mencoba menenangkan gadis seumuran nya itu.


"ITU, ADA KECOA TERBANG, TOLONG! HIKS HIKS AKU TAKUT!"


Vera dan Nathan terdiam.


Mereka datang dengan rasa cemas setengah mat!, tapi hasilnya apa? Vanila berteriak histeris bagai berada di ambang kemat!an hanya karena seekor kecoa?


Memalukan!

__ADS_1


"NATHAN HIKS TOLONG USIR KECOA NYA! AKU TAKUT HIKS ... HIKS"


'Tap'


Hanya sekali injak, kecoa itu sudah tak bernyawa, Nathan kemudian menghampiri Vanila.


"Sekarang Vanila gak papa 'kan?" tanya Nathan.


"Kaki aku. Kaki aku sakit, Than, tadi abis kepletok pas liat kecoa nya terbang," adu Vanila.


Nathan mengamati kaki Vanila yang terkilir, memang benar─ kaki nya memerah dan sedikit bengkak.


"Ya udah, kita periksa ke klinik ya, siapa tahu ada masalah sama tulang kaki kamu," ajak Nathan dan Vanila hanya mengangguk.


Kemudian Nathan menggendong Vanila ala bridal style dan mengabaikan Vera begitu saja.


"Nathan, terus ke perpustakaan nya gimanaaa?" Vera berlari kecil menyamakan langkah nya dengan Nathan.


"Ditunda dulu!"


"Tapi nanti keburu habis, Than."


"Kalo habis, cari novel lain!"


"Kok lo gitu sih, Nathan?"


"Keselamatan Vanila lebih penting, Ver!"


Melihat perdebatan antara Nathan dan Vera, membuat Vanila sedikit tidak enak melihat nya.


"Aku gak papa, kalian ke perpustakaan aja," suruh Vanila.


"Gak!"


"Tapi kasian Vera,"


"Vanila lebih kasian, kaki nya sakit," balas Nathan.


•••


Sepulang dari klinik, Vera hanya berekspresi datar. Nathan itu tidak peka, dia tidak sadar bahwa Vera cemburu.


"Vera marah ya?" tanya Nathan.


"Hm."


"Maaf."


Vera tak menggubris.


"Gak!"


"Mau ke salon?"


"Gak!"


"Mau ice cream?"


"Ya!"


Nathan terkekeh kecil, mengembalikan mood Vera ternyata sangat mudah.


Kemudian Nathan membeli ice cream dengan tiga varian rasa.


"Wuih, gue mau ice cream rasa Vanila dong," pinta Vera.


"Kami nyindir aku?" Vanila menatap tajam pada Vera.


"Gak tuh, tapi kalo merasa, syukur deh."


"Jahat banget sih kamu, nama aku itu unik ya!"


"Gak nanyak."


"Jadi kalian mau ice cream rasa apa?" tanya Nathan.


"Cokelat!" ucap Vera dan Vanila bersamaan.


"Kok lo ngikutin gue? Cih, nama nya aja yang Vanila, tapi selera gak sesuai sama nama." Vera menyindir sambil menyilangkan tangan di d4da.


Pergerakan jari Vanila mengepal, gadis berambut blonde itu hanya tersenyum paksa, "terserah kamu, Alverong!"


"Ngomong apa lo barusan?"


"Tuli ya, kasian," ejek Vanila.


Vera memendam amarah nya, tidak baik melakukan pertengkaran di depan umum.


"Nathan, sini ice cream rasa coklatnya," pinta Vera.


"Tapi aku juga mau!"


"Lah, cuma satu doang, gimana dong?" Nathan mulai kebingungan.


"Buat Vanila aja ya Ver, kasian ... soalnya 'kan kaki nya sakit."

__ADS_1


"T-terus gue?"


"Rasa strawberry aja," jawab Nathan.


"Hm."


Pada akhirnya Vera lah yang mengalah, tak apa lah, hanya karena ice cream, dia tidak boleh egois apa lagi membenci.


•••


Setengah jam kemudian, mereka pergi ke restoran, hanya untuk sekedar mengisi perut yang keroncongan.


"Vera," lirih Vanila.


"Apa?"


"Aku minta maaf soal kejadian tadi."


"Gue juga minta maaf."


"Nah, gini dong, kan enak dipandang." Nathan bersuara sambil menepuk sebelah pundak mereka.


"Ya udah, kalian mau makan apa?" tanya Nathan.


"Aku gak lapar, cuma mau minum jus jeruk aja," jawab Vanila.


"Lah? K-kok sama? Gue juga mau jus jeruk!"


"Ya udah, tinggal pesan dua sama mbak pelayan nya," ujar Nathan.


"Maaf Pak, Buk, hasil panen jeruk kami sedang mengalami kerugian besar sekarang, kemungkinan tersisa 5% lagi buah jeruk yang masih utuh. Jadi, mungkin kami hanya bisa menyajikan satu gelas penuh untuk di jadikan jus jeruk," jelas pelayan tersebut.


"Buat Vanila aja ya Ver, dia 'kan sakit," pinta Nathan.


"O-oke."


•••


"Nathan, gue boleh minta soda lo gak?" tanya Vera.


"Maaf, udah Nathan kasih sama Vanila, ikhlasin aja ya."


"Oh, kalo gitu, nanti di mobil gue duduk di depan sama lo ya?"


"Gak bisa Vera. Kaki Vanila lagi sakit, nanti terjadi sesuatu sama dia, gimana dong?"


"CK, ya udah lah, steak kentang tadi mana?"


"Udah dihabisin Vanila, soalnya dia lapar, gak papa ya? kita ikhlasin aja," jawab Nathan


Degh!


Gerak-gerik tubuh Vera mendadak kaku, sekarang Nathan lebih memprioritaskan Vanila dibanding dirinya.


Rasanya sungguh sakit. Vera menahan air matanya untuk tidak menangis di depan mereka berdua.


"Ya udah kalo gitu, gue izin ke toilet dulu," pamit Vera, kemudian berlalu pergi.


"Nathan, kamu seriusan, ngasih ini semua buat aku?" tanya Vanila seraya berbisik.


"Apa sih yang enggak buat calon istri gue ini?"


"Kamu suka banget ngegombal, terus Vera gimana? Aku jadi gak enak sama dia." Vanila menatap cemas pada Nathan.


"Bodo amat."


"Kasian Vera!"


"Gue gak peduli, sayang."


"Tapi---"


"Mending kita pulang, oke?"


"Terus Vera gimana?"


"Kita tinggalin, mumpung dia lagi di toilet."


"Oke."


Akhirnya mereka pulang dan meninggalkan Vera sendirian.


•••


Sementara Vera sedang di landa rasa khawatir di toilet.


"Kenapa pintu nya gak bisa dibuka? TOLONG HIKS, TOLONG GUE!"


Vera menggedor-gedor pintu.


"TOLONG GUEE! NATHAN TOLONG GUE, GUE TERJEBAK DISINI HIKS!"


......next......


......****************......

__ADS_1


__ADS_2