Suami Polosku

Suami Polosku
Ternyata


__ADS_3

Semua penonton yang berada dicurcuit balapan bersorak ria, bagaimana tidak saat orang yang mereka dukung kini telah mendapat posisi teratas dari saingannya.


“Steven lo hebat banget!”


“Tumben Nathan perincit, biasanya dia selalu aktif dalam hal kek ginian?”


“Steven pokoknya gue selalu dukung lo terus!”


“Semangat Steven!”


Sorak-sorakan pujian dari pendukung Steven membuat Nathan menggeram kesal.


Brugh!


Nathan melemparkan helm full face nya ke sembarang arah, kemudian menarik kerah baju Steven dan menatapnya horor.


“Gue tahu lo licik! Lo nantang gue karena lo udah siapain semua rencana lo ‘kan, mustahil gue bisa dikalahin sama pemula kek lo,” ucap Nathan tak terima dengan semuanya.


“Lepas!” suruh Steven dengan nada dingin, dia menepis paksa tangan kekar Nathan dari kerah bajunya.


“Gak usah ngelak kalau udah kalah, Than. Lo itu kekanak-kanakan! Cuma kalah balapan aja lo langsung emosi,” sindir Steven.


Rahang Nathan mengeras, “Lo menang, bukan berarti gue ngizinin lo ngambil bini gue semudah itu, Vera milik gue! CUMAN PUNYA GUE!” tekan Nathan di kalimat akhirnya.


“Bukannya lo udah setuju sama kesepakatan, ya? Tapi no problem, gue ngerti, kok. So, gue ngalah walau menang. Vera tetap jadi milik lo.”


Setelah mengatakan itu, Steven meninggalkan area balapan sambil tersenyum menyeringai. Rasanya sangat puas melihat Nathan yang terpancing emosi memburu itu.


Sebenarnya Steven tidak serius tentang hadiah kalah menang. Dia hanya suka melihat Nathan marah, emosi, kesal bahkan kumat seperti dulu lagi.


Apalagi sedih. Steven paling suka saat melihat Nathan bersedih sepanjang hari, itu adalah makanan terbaik seumur hidupnya.


•••


Nathan pulang ke mension bersama Arga, temannya itu selalu memberi dukungan agar Nathan tidak patah semangat.


“Semangat vrok, mukanya jangan kusut kek kain yang belum di setrika. Lo harus ceria di depan Vera. Pokoknya lo harus senyum selebar mungkin!”


“Thanks, Ga. Makasih udah mau dukung gue sejauh ini,” ucap Nathan sembari tersenyum tipis ke arah Arga.


“Yoi, itu lah yang dinamakan cinta, eh maksudnya sahabat.”


“Hm, lo mau mampir ke rumah gue, gak? Atau langsung pulang aja?” tawar Nathan.

__ADS_1


Arga menjawab dengan gelengan kepala, “Pulang aja, ayam gue dirumah belom dikasih makan. Bye.”


Nathan menatap punggung Arga yang semakin lama kian menghilang di jalan raya. Kemudian masuk kerumahnya.


Grep


“Nathan! Lo dari mana aja, masih pagi udah ngilang kek ditelan bumi,” khawatir Vera sembari memeluk manja suaminya.


“Balapan!”


“Kok gak bilang sama gue? Kalau lo jatuh terus kepala lo pec*h, habis itu masuk rumah sakit, operasi lagi, siapa yang repot, hah?”


“Khawatir yaa? Ulululu lucu banget bini gue,” goda Nathan sambil menoel hidung istrinya.


“Apa yang lucu?! Gue lagi ngamuk! Sekarang lo mandi, gih! Air nya udah dipanasin sama Erina,” suruh Vera dan Nathan hanya bisa menurut.


Kaki jenjang Nathan berjalan menuju dapur, memperhatikan Erina yang sibuk dengan alat-alat dapur.


“Rin!”


“Eh! Iya, kenapa?”


“Gak tahu kenapa, gue cuma mau ngucapin terimakasih, lo yang terbaik.”


“Ya ampun, Than. Belum juga selesai haha.” Erina terkekeh pelan.


•••


Detak jant*ng Vera berdetak lebih kencang seperti biasanya, orang yang menerornya ini terus-menerus memberi ancaman untuk datang ke gedung sendiri esok hari.


Vera menjadi risau, jika diingat kembali, terakhir kali dia berkelahi hanya dengan Vanila.


[Vera]


Lo Vanila 'kan? Ngaku aja deh, kalau lo ngaku gue kasih yupi.


[ ..... ]


Gue udah naik pitam gara-gara lo! Datang ke gedung itu besok, awas aja kalau sampe lo gak datang. Habis lo!


[Vera]


Vn suara lo, atau kita telepon atau video call-an, pilih mana? Yang gak milih pant*tnya bisulan.

__ADS_1


[ ..... ]


Lo jangan main-main sama gue, ya. Gue tunggu kehadiran lo besok, bit*h!


[Vera]


Gak bisa datang. Sek mangan.


[ ..... ]


Lo bener-bener nyari m a t i! Lo berani gak datang, gue hack akun lo, biar hilang semua usaha kerja yang lo buat. Atau orangtua lo yang bakal jadi korban.


[Vera]


Yo wes, besok gue datang, siapin sirup marjan ya, masak rendang sekalian, biar gue betah.


[ ..... ]


(mengirim 1 foto)


Mata Vera langsung membulat lebar melihat foto itu, gadis itu semakin menjadi risau tak karuan. Dua orang yang paling berharga dalam hidup tengah diikat kencang dengan mulut yang ditutup lakban.


[Vera]


Lepasin orangtua gue bang*t! Gue lapor polisi lo dalam hitungan detik ini.


[ ..... ]


Makanya besok datang, gak usah sok bawa polisi, karena semua pesan ini bakal gue hapus.


Vera langsung berlari mencari Nathan, gadis itu mendapati suaminya yang asik menikmati pizza bersama Erina di meja makan.


“Nathan! Nathan! Lo harus lihat ini, orangtua gue diculik, Than. Nih orang neror gue lagi, tolong please, kita lapor polisi,” adu Vera dengan rasa khawatir yang menyelimuti dirinya.


Tangan Nathan beralih mengambil ponsel Vera, kemudian melihat isi pesan tersebut.


“Mana? Kok pesannya dihapus semua?”


“T--tadi masih ada, dia cepat banget menghapus pesannya. Aduh, lupa gue screenshot. Pokoknya tadi ada, Than. Ada poto orangtua gue disitu.” Vera berusaha meyakinkan dengan wajahnya yang dibuat serius.


Nathan terkekeh geli, “Sayang, liat deh profilnya. Ini tuh bocil yang lagi iseng. Coba lihat, nih. Profilnya aja poto bocil pake B612 filter kucing, kok bocil lo lawan sih? Blokir aja!”


“Gak mau gue blokir. Orangtua gue dalam bahaya, gue harus datangin nih orang,” final Vera.

__ADS_1


•••


...next...


__ADS_2