Suami Polosku

Suami Polosku
Alasan


__ADS_3

5 hari kemudian


Rasa gelisah itu semakin melanda Vera, semakin hari semakin membuat dirinya depresi.


Tidak ada lagi canda tawa.


Tidak ada lagi keluarga yang gesrek.


Bahkan rumah terasa hampa sekarang.


Nathan pun sama hal nya, akhir-akhir ini pun dia menjaga jarak dengan Vera, dan lebih sering berkomunikasi dengan Vanila melalui ponsel.


"Nathan, gue pengen lo yang dulu," lirih Vera menatap sendu suaminya yang asik bermain ponsel.


"Emang apa yang berubah dari Nathan?" tanya pria itu tanpa menatap balik pada Vera.


"Sifat lo! Lo jahat! Lo selalu asik sama Vanila, dan lo selalu jutek sama gue, salah gue apa? Apa arti 'cinta' yang lo ungkapin kemarin sama gue? kalo gini, mending kita CERAI aja!"


"Ya udah," jawab Nathan cuek.


"Hiks, dasar lelaki biad*p!"


Vera berlari keluar kamar, Nathan benar-benar berubah sembilan puluh derajat dari yang lalu, bahkan cuek ada ciri khas dari Nathan mulai sekarang.


Vera berjalan ke rumah orangtuanya sendiri, menangis tersedu-sedu di jalanan bagaikan orang yang tak waras.


'Tok ... tok'


Vera mengetuk pintu bernuansa coklat milik orangtuanya itu.


"Vera, ngapain kesini?" tanya Ibu Vera setelah membukakan pintu.


"Vera mau nginep disini Bu, Vera lagi ada masalah sama Nathan," jawab Vera.


"Gak, kalo ada masalah selesaikan dengan kepala dingin, kasian Nathan, dia itu polos dan gak tahu apa-apa, ibu cuma pengen kamu dewasa, jangan melakukan pelarian disaat ada masalah, nak"


"Dia yang be─"


"Pulang sekarang!" tegas ibu Vera.


Dengan berat hati Vera pulang ke rumah nya, rasanya sangat malas untuk melihat wajah Nathan walau hanya sedetik saja.


Setelah kembali, Vera mendengar samar-samar suara Nathan yang asik berbincang bahkan dipenuhi gelora tawa.


"Tenang aja ayy, dia lagi cabut dari rumah karena gue cuekin, malahan minta cerai lagi, cih! Bakal gue bikin hidup dia mender1ta sampe tujuh turunan, biar tau rasa, haha," ucap Nathan.


"Terus kapan buat dia mat1?" tanya Vanila.


"Tunggu sampe nyerah tuh bocah baru gue kirim kan nyawa dia ke Tuhan," sahut Nathan diiringi kekehan kecil.


'Brak'


Vera membuka pintu dengan keras, matanya berkaca-kaca mendengar perbincangan Nathan dengan Vanila di telepon.


"J-jadi selama ini ..."


Nathan menjadi gelegapan, dia benar-benar ceroboh kali ini, dan semuanya sudah tertangkap basah oleh Vera.


"Gue gak nyangka hiks, JADI SELAMA INI LO PURA-PURA POLOS?! KENAPA LO PENGEN NGEB*NUH GUE? KENAPA HA? JAWAB!"


Nathan hanya diam.


"GUE BILANG JAWAB!"


"Karena ini semua salah keluarga lo," jawab Nathan.


"Apa salah keluarga gue sama lo?" tanya Vera penuh penekanan, air matanya terus mengalir menatap Nathan yang terlihat santai.

__ADS_1


"Lo mau tahu atau mau tahu banget?" Nathan tersenyum menyeringai.


"Jangan bercanda, dasar b*j*ngan! KENAPA? Apa salah keluarga gue?"


Nathan terdiam sejenak, mengingat alasan yang harus ia katakan kepada Vera adalah hal yang menyakitkan.


"Karena keluarga lo, gue harus kehilangan kembaran gue," lirih Nathan.


".. Nathaniel, itu kembaran gue yang udah lama mengidap penyakit gagal ginj*l, sewaktu dia ingin ngelakuin operasi, keluarga lo datang ngemis-ngemis minta dana buat perusahaan ayah lo! PADAHAL UANG PAPA GUE DI GUNAKAN BUAT PENGOBATAN NATHANIEL, TAPI APA? AYAH LO ITU GAK BISA NGERTIIN KONDISI ADEK GUE, AYAH lO MAKSA-MAKSA SAMA PAPA GUE BUAT NGASIH PINJAMAN" bentak Nathan.


"Terus," lirih Vera.


"Ayah lo ngancam kelurga gue, dan papa gue terpaksa ngasih dana yang seharusnya untuk pengobatan Nathaniel, kemudian hari, nyawa adek gue gak tertolong karena gak bisa ngelakuin operasi akibat kekurangan dana, lalu berakhir dengan kemat*an! dan lo tahu? HATI GUE SAKIT BANGET, ANJ!NG! GUE GAK IKHLAS ADEK GUE MEN*NGGAL"


"Hiks, maaf gue gak pernah tau─"


"BAC*T LO! Sampai kapan pun gue gak pernah maafin kelurga pengutang kek keluarga lo," jawab Nathan sembari melemp*r ponselnya.


"Tapi lo gak pernah ngomong sama gue, Than! Setidaknya gue bisa batalin masalah hutang-perhutangan ini," ucap Vera sendu.


"Udah terlanjur, adek gue udah tiada, dan sebagai gantinya, lo juga harus tiada," sarkas Nathan dengan tatapan nyalang, dia mendekati Vera yang ketakutan.


"Ja-jangan lakuin itu Than," cegah Vera.


"Kenapa hum? Nyawa dibalas dengan nyawa 'kan?" Nathan mengangkat dagu Vera dengan tatapan bad-nya.


"Gue mohon Nathan hiks,"


"Sekarang lo gak bisa lari apalagi ngadu, kita tinggal disini aja ya sayang, cuma berdua ... dan gue bakal ngasih perilaku yang baik bangetttt sampe lo terharu dan nangis d*r4h, oke baby?" bisik Nathan tepat ditelinga Vera.


"Than hiks, gue mohon, jangan balas dendam, ini udah takdir Than, gue janji bakal tebus kesalahan Ayah gue, please, Nathan ..." mohon Vera.


"Dengan cara apa hum?"


"Gue bakal jadi istri yang baik!"


"Jadi istri yang baik berarti lo siap menerima siks**n dari gue dengan tulus hati, right?"


•••


Tiga hari telah berlalu, Vera betul-betul seperti merpati yang sering dikunci di kandang, alias tak merasakan kebebasan lagi.


Nathan tak main-main dengan perkataan nya, dia membuat hidup Vera semakin tertekan, bahkan tak segan, pria itu bisa bermain fisik.


"Vera, sapu halaman belakang, kutip semua dedaunan di kolam, terus baju gue rapiin tuh, jangan lupa masakain gue makan malam terenak, dan cuci sepatu gue yang kemarin, pokoknya harus bersih," perintah Nathan.


"Iya."


"Lo gak usah bersungut-sungut, masih mending gue kasih lo kesempatan daripada langsung gue kirim lo ke n*raka, mau lo?"


"E-enggak."


"Ya udah, cepat kerjain sana!"


"Iya."


Begini lah kehidupan Vera sekarang, Semua berubah, dan perlu kalian tahu, Nathan selalu membawa wanita di malam hari ke rumah.


Orangnya pun berganti-ganti.


•••


Jam menunjukkan pukul setengah delapan malam, sekarang Nathan tidak di rumah karena asik keluyuran.


Ini adalah kesempatan Vera untuk melarikan diri, tapi masalah nya, semua sarana keluar-masuk telah dikunci oleh Nathan.


"Benar-benar jahat!" umpat Vera saat melihat pintu, jendela dan gerbang rumah, semuanya tertutup rapat.

__ADS_1


Vera berusaha mendobrak pintu namun hasilnya nihil.


"Hiks ... hiks, tolong!"


"Siapun tolongin gue hiks ... hiks!"


"Gue dikurung disini, Steven! Arga! Jihan! Ayah! Ibu! Tolongin gue hiks ... hiks," tangis Vera semakin menjadi-jadi.


Vera terduduk sembari memeluk lututnya, hanya menangis lah yang bisa ia lakukan sekarang.


'Brak'


Alangkah terkejutnya gadis itu saat pintu utama didobrak seseorang, matanya berbinar tatkala Steven menatap khawatir pada Vera.


"Lo gak papa?" tanya Steven.


"Hiks, gue takut, Nathan jahat banget sama gue," adu Vera.


"Lo tenang aja, soal dia, biar nanti gue yang ngurusin, sekarang lo ikut sama gue, oke?" tawar Steven sembari mengulurkan tangan.


"Kemana?"


"Kita pergi dari sini, dari kemarin gue udah khawatir sama lo, dan gue punya firasat gak enak tentang lo, makanya gue datang kemari."


"Bukannya lo kemarin marah sama gue?"


"Gak, gue gak marah." sarkas Steven.


"Terus?"


"Gue cemburu!"


"Ha?"


"Ah udahlah, kita pergi aja, sebelum Nathan datang!"


Akhirnya Vera dan Steven melarikan diri dari mension Nathan.


•••


"Maaf ya Ver, rumah gue gak sebesar rumah Nathan," lirih Steven.


Vera menggeleng dan tersenyum, kemudian berkata, "justru karena lo, gue jadi sedikit lega, gue gak pernah mempermasalahkan rumah lo, intinya gue nyaman dan berterimakasih banyak sama lo."


"Iya sama-sama, sekarang lo tidur, kamar lo disana," suruh Steven sambil menunjuk kamar yang akan ditempati Vera.


"SIAP PAK BOS!"


"Haha, ada-ada aja," kekeh Steven.


'Drt-drt'


Ponsel Vera berdering, dia mendapat telfon dari Jihan.


"Hallo Jihan," sapa Vera.


"VERA, suami lo kecelak*an Ver!"


"Kecelak*an lagi? Kok bisa?"


"Katanya sih karena Nathan mabuk, terus itu ngebut-ngebut di jalanan," jelas Jihan.


"Terus dia dimana?"


"Udah dibawa ke rumah sakit."


"Ya udah, makasih infonya, gue otw!"

__ADS_1


"Oke"


'Tut'


__ADS_2