
Dua hari ini telah berlalu, kondisi Nathan sudah pulih, semenjak di rawat di rumah sakit, pria itu lebih banyak mendapat kasih sayang orang-orang terdekat nya.
Beda lagi dengan Vera. Semua nya mengacuhkan gadis itu tak terkecuali orangtuanya.
•••
"Than, lo masih gak mau makan lagi?" tanya Vera, sebab belakangan ini Nathan berubah menjadi sedikit pendiam.
"Gak!"
"Tapi nanti lo sakit!"
"Biarin."
"Nathan, jangan gini deh please, gue yakin Vanila bakal baik-baik aja!" bujuk Vera sambil mengusap sebelah pundak Nathan.
"Semoga aja ..." lirih Nathan.
"Lo suka sama Vanila 'kan? Gue tahu, kok, cara lo khawatir sama dia itu udah berlebihan, dan lo─"
"Nathan mau istirahat dulu," pria itu berbaring di kasur, lalu menutup mata dan telinganya seolah muak mendengar ocehan Vera.
"VERA, GUE SAMA ARGA DATANG NIH," Steven berteriak sembari memakan setengah pizza nya yang ikut dibawa ke rumah Nathan.
"Lo mau gak?" tawar Arga.
"Tapi tunggu dulu, cuih ... cuih, nih." Arga menyodorkan potongan pizza pada Vera setelah di beri air l1ur nya.
"Gak, makasih," tolak Vera.
"Muka lo kenapa Vera, kek benang kusut aja?" tanya Steven dengan mulut penuh makanan.
"Soal Nathan, dia─"
"Nathan mat*?" sarkas Arga.
"Heh! Kalo ngomong disaring dulu napa, Ga. Seharusnya lo nanyak, kubvran Nathan udah digalih belum?"
"Sama aja Steven oon!"
Vera hanya diam, sepertinya curhat dengan Steven dan Arga hanya membuang waktu saja, dua pria itu tak pernah bisa diajak serius.
"Gue mau nanyak, kalian bisa lacak keberadaan Vanila gak?" tanya Vera dengan tatapan serius.
"Buat apa?"
"Buat Nathan."
"Emang Nathan mau Vanila?"
"Dia rindu sama Vanila," lirih Vera.
"Ya udah tinggal beli susu rasa Vanila aja, atau gak ice creamnya, gitu aja ribet," decak Arga.
"Bukan Vanila itu, tapi Vanila manusia"
"Lawak Lo badut, setau gue, Vanila itu varian rasa susu, dan gue suka banget, rasanya enuak" Arga terkesima.
__ADS_1
"Cih, yang kemarin nginap di sini Arga beg*," kesal Vera sambil memijit pelipisnya.
"Ooohh, si Vanila yang suka make-up tebal itu, yang mengalahkan tebalnya dompet Steven, oalah," kekeh Arga setelah mengingat Vanila yang dimaksud Vera.
"Iya."
Dua pria itu berfikir sejenak.
"Gue gak mau, ntar dia ngira gue suka lagi sama dia, padahal dia kek nenek rempong ih," tolak Arga.
"Gue bilang lacak, bukan samperin, gue yakin nilai bahasa Indonesia lo lima puluh, nih!" Vera berucap kesal.
"Buat apa dilacak, palingan besok dia udah mesra-mesraan sama Nathan," timpal Steven.
"Betul!" seru Arga.
"Hm, oh ya Vera, gue mau ngomong sama lo, cuma empat mata!" ujar Steven.
"Buset, drama FTV nih, gue kudu nonton anj!m," heboh Arga.
"Diam Arga Sint!ng" ketus Steven.
Steven menarik pergelangan tangan Vera dan membawa nya keluar.
•••
"Lo mau ngomong apa sih?"
"Jauhin Nathan, lo harus pandai-pandai jaga diri lo, bila perlu kalian cerai aja." Ucap Steven to the point.
"Ha? Gue gak mau, Nathan itu polos, lagian gue cinta sama dia."
"Buat apa? Gue bukan anak TK yang perlu dijaga-jaga, mending lo urus diri lo sendiri," sahut Vera.
"Gue ngelakuin ini karena gue ..."
"Karena lo apa?"
"Karena gue powerenjes."
"Gak jelas banget lo," ketus Vera kemudian pergi meninggalkan Steven.
'Karena gue suka sama lo' batin Steven
•••
Sementara itu Nathan sibuk mengutak-atik ponsel nya di kamar, dia sama sekali tidak peduli dengan kedatangan teman-teman nya, walau hanya sekedar menyapa.
"VERA!" panggil Nathan.
"Apa?"
"Nathan mau cemilan," pinta pria itu.
"Oke, gue bakal beli ke supermarket, tunggu disini ya." Vera bersiap-siap kemudian pergi sendirian.
•••
__ADS_1
Di supermarket, gadis itu sibuk mencari cemilan kesukaan Nathan, lelah bukan halangan, yang penting sekarang Nathan mau makan.
'Brugh'
"Awwh," ringis Vera.
"Ya ampun, maaf mbak, saya gak sengaja."
Vera meringis menahan rasa panas, saat minuman pria itu menembus kaos polos nya.
"Biar saya hilangin noda nya mbak, sekali lagi maaf ya," ujar pria itu sambil mengusap-usap bekas minuman di kaos Vera dengan tissue.
"Gak papa kok, nanti di rumah bisa dihilangin," jawab Vera tersenyum ramah.
Pria itu tersenyum, "kalo begitu biar saya antar pulang sebagai permintaan maaf, tenang, saya bukan orang jahat, nama saya Kenzo."
"Gak perlu, makasih atas tawaran nya, Kenzo," ucap Vera, kemudian pergi.
•••
"NATHAN, INI MAKANAN LO!" teriak Vera sembari meletakkan kantong plastik nya di meja.
"Makasih," ucap pria itu.
"Arga lo mau?" tawar Vera.
"Mau dong,"
"Tunggu dulu, cuih ... cuih nih buat lo."
"Anj!r, balas dendam," umpat Arga.
"Wle, rasain tuh, oh ya btw Steven mana," tanya Vera mengedarkan pandangan.
"Di sofa, lagi tiduran kek nya," jawab Arga.
Vera pun menghampiri Steven.
"Steven, lo gak mau ngemil?"
"Gak!"
"Lo kenapa, pms kah?"
"Lo yang kenapa!? Lo kenapa malah asyik-asyiknya sama cowok lain di supermarket, ha?" tanya Steven dengan nada suara yang sedikit tinggi.
"Maksud lo? Kok lo ngamuk, sih?"
"Ini poto lu sama cowok tadi 'kan?, udah kelewatan banget dia megang-megang area sensitif lo!"
"Tadi minuman dia tum─"
"Halah, alasan, gue kira lo cewek baik ternyata sama aja l*cik nya!"
Steven meninggalkan Vera, dan kembali pulang kerumahnya.
"Yaah, syukurin tuh, rencana gue gak sia-sia nih, tebakan gue betul selama ini Steven diam-diam suka Ama Vera, awogawog, mampus! Sekarang Steven modelan tukang sapu itu bakal benc¡ sama Vera, haha" batin Nathan.
__ADS_1
...^^^next^^^...
...****************...