
“Karena gue suka sama lo! Emang situ mau jadi pacar gue?”
Steven membekap mulutnya lantaran sadar karena keceplosan mengungkapkan perasaan.
Reaksi Vera hanya menyunggingkan seulas senyum dan mengacungkan jempolnya.
“Widih, cocok tuh. Bagus banget aktingnya," puji Vera.
“Maksud lo?” Steven bingung.
“Gue tahu, kok. Lo lagi latihan nembak cewek yang lo suka itu, yang lo ceritain kemarin. Masih ingat gak? Terus kebawa-bawa sampe sekarang dan akhirnya keceplosan nembak cewek yang salah. Iya 'kan? Cie ... cie,” goda Vera terkekeh geli.
Steven tersenyum canggung mengiyakan ocehan Vera.
‘Kenapa lo gak pekaan banget sih, Ver? Sesusah itu ya buat peka?’ batin Steven.
•••
Vera berlari pulang dengan terburu-buru setelah bercengkrama dengan Steven. Niatnya yang ingin mencari ponselnya yang hilang malah pasrah sekarang.
Di mension, Erina tersenyum tipis seraya menyapa kedatangan Vera.
“Nathan udah bangun?” tanya Vera.
“Gak tahu. Dia belum keluar kamar, itu artinya dia masih pulas. Emang tadi abis dari mana?” kepo Erina.
“Anu, hp gue hilang, Rin. Padahal draf cerita gue masih tersimpan disitu. Hal-hal yang berbau penting disitu semua, gue juga baru nyadar pas semalam nyampe disini,” sahut Vera berkeluh kesah.
“Ini 'kan hp-nya?” Dari atas tangga, Nathan tampak asik memainkan ponsel Vera.
“K─kok bisa sama lo? Dasar pencuri! Balikan gak!" marah Vera sembari menaiki anak tangga untuk mengejar Nathan.
“Ambil kalau bisa, wlee!”
“Nathan balikin! Hobi banget jail sama gue! Sini ih!” Vera berjinjit meraih ponselnya yang diangkat ke atas oleh Nathan.
“C*um gue dulu!”
“Gak waras lo, pagi-pagi udah m*sum!" sarkas Vera.
“Ya udah, berarti hp lo gak gue balikin.”
“Oh, ntar malem jangan meluk-meluk gue juga. Awas aja kalau sampe kedapatan! Gw cincang lo!"
Nathan terbelalak, dengan terpaksa ia memberikan ponsel Vera karena takut dengan ancaman sang istri.
Vera tersenyum menyeringai, kemudian masuk ke kamar untuk melakukan aktivitasnya sebagai novelis. Mulai dari merevisi ceritanya hingga memilih daftar story yang akan diterbitkan.
__ADS_1
Cup!
“Lagi apa, sayang?” bisik Nathan setelah berhasil mencuri satu kec*pan di pipi Vera.
“Jangan ganggu Nathan! Gue sibuk.”
“Mau dibantu, gak?” tawar Nathan.
“Bantu buat menghancurkan semuanya? Gak deh, makasih,” tolak Vera.
Nathan mendengus kesal, dari ekspresi wajahnya bisa ditebak bahwasannya pria itu sedang merajuk.
“Ulululu ngambek ya?”
“Gak!”
“Terus, mau nya apa?”
“Peluk c*um, peluk c*um, bolak-balik peluk c*um, gue mau nya itu,” jawab Nathan.
Vera terkekeh kecil, “Ya udah, nanti gue edit pake poto lo.”
“Bukan videonya. Gue mau yang real!”
“Nanti ya, kalau sekarang takutnya lo khilaf,” ucap Vera sambil mengelus rahang tegas suaminya.
Deg!
•••
Mentari mulai menampakkan wujud di ufuk timur, kini ketiga penghuni rumah mewah itu sedang siap-siap untuk berangkat ke sekolah.
“Kak Ver,” panggil Erina.
“Lho? Panggil Ve─”
Erina menggeleng cepat, “Lebih suka manggil kakak, gak papa, ya?”
“Iya gak papa, btw kenapa tadi manggil?” tanya Vera balik.
“Semalam di kamar kakak kok ribut banget, ya? Ada apa btw?”
“Oh itu ... gue sama Nathan nobar film horor. Serem banget, gue sampe keringat dingin dan teriak-teriak. Maaf banget, ya, kalau lo jadi terganggu tidur,” jawab Vera.
“Oh gak papa, kak.” Erina cengengesan.
Vera tersenyum tipis, “Ya udah, ayo kita berangkat. Nathan udah karatan nunggu di mobil, tuh.”
__ADS_1
Erina pun menggenggam tangan Vera dan berjalan bersama menuju halaman luar. Keduanya saling melempar senyuman layaknya adik kakak.
•••
Sesampainya di kampus, banyak tatapan siswa yang sinis melihat kehadiran Erina di tengah-tengah Nathan dan Vera.
“Liat tuh, si Erina cuma bisa modus dan caper sama kak Nathan dan kak Vera,” cibir salah satu siswa.
“Tau tuh, udah kaum rendahan, miskin, rakyat jelata pulak, eh, malah sok akrab sama keluarga konglomerat. Keknya dia dapat sesuap nasi dari hasil j*lat kaki kak Nathan,” kata seorang yang lainnya.
“Gitu amat dah, kalau gue sih ogah banget buat ngej*lat kaki orang, walaupun tawarannya berjuta-juta. Apalagi kasih harga diri demi uang, iiuhh j*jik, deh.”
“Gimana kalau kita kasih pelajaran tuh bocah, risih mata gue liat muka sok polosnya itu. Setuju?”
“SETUJU!” serempak mereka.
Dan benar saja, usai pelajaran, Erina didapati babak belur di toilet siswa wanita. Vera yang telah menemukannya karena terlanjur khawatir saat Erina tak kunjung muncul di parkiran.
Erina di beri penanganan oleh dokter, hanya masalah biasa dan tidak terlalu serius. Gadis itu pun diperbolehkan pulang.
“Kak Vera, makasih banyak, ya.” Erina memeluk Vera yang terdiam mematung.
“E─eh! Bukan apa-apa sih! Kalau lo dibully lagi, kasih tahu ke gue ya! Biar gue buat mereka semua enyah, oke? Gue selalu ada buat lo, Erina”
Erina menggangguk lugu, dan keduanya kembali bercerita tentang masa lalu, biodata dan hal-hal asik lainnya.
•••
Malam ini udara begitu sejuk, Nathan kini tengah melakukan ritual mandi sementara Vera hanya menatap langit malam agar mendapat inspirasi untuk ceritanya.
Setelah mandi, Nathan menyempatkan memakan cemilan yang disiapkan oleh Erina dan mengobrol sedikit dengannya.
Lalu menghampiri Vera yang masih sibuk dengan tatapan langit malam seolah istrinya seperti sedang dihipnotis oleh langit.
“Ver, ayo bobo,” ajak Nathan.
“Duluan aja Nath, gue sibuk mikir,” suruh Vera sambil tersenyum tipis.
“Gak mau! Gak nyenyak gue tidur kalau lo gak di samping gue!” sambar Nathan cepat.
“Iya deh, gue sikat gigi dulu.”
Vera berjalan ke kamar mandi dan terpental kaget saat melihat tulisan bertinta merah tertera di kaca toilet.
isi tulisan : Jauhi Nathan atau lo habis ditangan gue !!
^^^next^^^
__ADS_1