Suami Polosku

Suami Polosku
pelukan dari Nathan


__ADS_3

"Lima puluh juta? Sejak kapan gue ngasih lo lima puluh juta?"


"Steven yang bilang, dia datang ke rumah gue dan bilang kalau lo nitip uang itu ke dia buat ngasih ke gue sebagai pelunas hutang lo, tapi gue gak butuh itu lagi! Gue maunya lo!"


Kaki Vera perlahan mundur memberi jarak antara dirinya dan Nathan, "Gak pernah gue suruh! Uang gue sendiri aja belum nyampe sebanyak itu, apa itu artinya ...."


"Steven ngelunasi hutang gue?" gumam Vera.


Grep!


Nathan kembali memeluk Vera dan menyembunyikan wajah tampan itu di ceruk leher istrinya


"Jangan pergi lagi, tinggal sama gue aja, ya," pinta Nathan.


Di dekapan Nathan, Vera terus memberontak agar pelukannya dilepaskan.


"Lepas Nathan! Ini tempat umum. Gue gak mau tinggal sama lo lagi, lo itu orangnya bandel, kang fitnah, suka banget bohong, sasimo pulak. Gue bisa stres tujuh turunan," celoteh Vera.


"Gue janji gak bakal gitu lagi."


"Bullshit! Lepas Nathan! Erat banget pelukan lo, gue sesak an*ing!" berontak Vera.


"Erina ambilin karung beras!" suruh Nathan.


"Ha? Bu─buat apa?"


"Buat ngeculik Vera, biar gue karungin nih bocah!"


•••


Malam itu, pernafasan Vera benar-benar terasa tersumbat. Sesak dan gerah itu yang ia rasakan saat Nathan selalu memeluk nya hingga sampai di rumah.


Tidak akan Nathan biarkan Vera menjauh walau hanya beberapa centimeter saja.


"Nathan lepas arghh! Gak enak diliat calon istri lo?"


"Calon istri gue? Siapa?" tanya Nathan.


"Itu, cewek cantik itu," tunjuk Vera pada Erina yang dari tadi menjadi nyamuk.


"Hah? Bukan, itu pembantu."


"Gak mau tau pokoknya lepas ihh! Posesif banget jadi orang," kesal Vera.


Dengan terpaksa Vera menend*ng ******** Nathan, sehingga yang empunya meringis sakit dan melepas pelukannya.


“Awh ... punya gue," desis Nathan sambil memegang ***********.


Vera berlari kecil menjauh dari Nathan, niatnya ingin kabur, namun, saat melihat Nathan memekik sakit membuat Vera menjadi tak tega.


"Maaf, btw anu lo gak papa 'kan, Than?" tanya Vera khawatir, dia berjongkok untuk mengelus harta karun Nathan.


Grep!


"Yah, kena prank! Sakit nya udah hilang, kok! Khawatir, ya? Utututu. Hehe, yang penting lo bisa gue peluk lagi," kekeh Nathan.


"Bang*at, tertipu gue. Licik lo," umpat Vera


"Licik buat hal yang yang kayak gini, gak papa, dong."


"Sama aja!"


Sementara itu, Erina hanya berdiam diri memandang tingkah pasutri itu dari kejauhan.

__ADS_1


'Cuma gitu doang, tapi aku kok bisa iri, ya?' batin Erina.


•••


Di lain tempat, Steven dan Arga bersama teman-teman mereka yang lain sedang berpesta di club. Setidaknya ada dua atau tiga gelas anggur merah yang mereka seruput.


"Gue telfon Nathan, ya. Biar dia ikut join sama kita. Paling enggak, dia manjain bikini girls di sini," ujar Arga.


"Gak perlu, Ga. Mana mau dia manjain cewek lain, sedangkan dia aja lagi gamon," sahut Steven.


"Emang ada playboy yang gamon? Langka banget sih itu cug!"


"Gue gak mikirin Nathan, gak care gue sama dia. Gue cuma khawatir sama bininya─Vera. Gue udah lunasin hutang Vera pake uang gue tanpa pengetahuan dia. Biar Nathan gak buat istrinya mender*ta lagi," curhat Steven.


"Eh! Seriusan lu, ngab? Baik amat deh lo. Naksir lo ama Vera?" tanya Arga sambil menyenggol lengan temannya itu.


"Menurut lo?"


"Menurut gue sih iya."


"Ya udah," acuh Steven.


"Jadi lo suka sama Nathan?"


"Gak nyambung lo," kesal Steven sambil menjitak keningnya temannya.


"Canda anj*ng! Baperan lo!"


"Candaan lo gak lucu tau! Gue serius!"


"Serius buat halalin Vera?" goda Arga.


"Apaansih!" Steven tersenyum malu.


•••


"Vera ... please jangan ada kepikiran buat kabur lagi dari gue. Gue minta maaf, gue yang salah. T*mpar gue! Puk*l gue sepuas lo! Lakuin apa aja yang bikin lo senang, asal lo jangan pergi lagi hiks, gue mohon!"


Nathan benar-benar tak bisa membendung air matanya, seluruh cairan bening itu tumpah membasahi baju Vera.


"Than, lo kok jadi nangis, sih? Cowok nangis depan cewek, emang gak malu, ya?"


"Makanya jangan pergi!"


"Gimana mau pergi? Dari tadi lo meluk gue!" Vera mulai merasa jengkel.


"Iya ... iya maaf, tapi sumpah, gue suka sama aroma badan lo, wangi banget," jujur Nathan.


"Xctfsgsyqkwjh," ucap Vera salting.


•••


Esok harinya, mentari mulai menampakkan wujud di atas sana. Vera mengucek-ngucek matanya. Dia melihat ke samping, ternyata Nathan tertidur pulas dengan tangannya yang tak boleh lepas dari Vera.


Pria itu selalu memeluk istrinya bahkan hingga tertidur.


Tangan mungil Vera menggeser tangan kekar Nathan dari pingg*nya secara hati-hati.


"Encok badan gue cug," gumam Vera.


Gadis itu turun ke dapur untuk memasak. Tidak bisa dipungkiri lagi, dia pun rindu suasana seperti ini. Namun sekarang sudah ada orang lain yang menggantikan posisi Vera untuk memasak.


"Hay," sapa Vera pada Erina yang sibuk bergulat dengan alat masak.

__ADS_1


"H─hay, kak," sapa Erina balik.


"Kak? Emang umur lo berapa?"


"Tujuh belas tahun, kak," jawabnya.


"Ouh, sweet seventeen. Gue delapan belas tahun, panggil aja Vera," pinta Vera.


"Oke," jawab Erina.


Mata Vera terus memperhatikan gerak-gerik Erina dalam memasak. Gadis itu cukup jago berkutat dengan alat-alat dapur.


"Lo masak ini semua buat Nathan?" tanya Vera saat memperhatikan hidangan pagi ini di meja makan.


"Iya, buat keluarga ini juga, termasuk kamu, Vera."


"Makasih. Boleh gue bantu, gak?"


"Boleh."


Selesai bertoleransi dengan Erina, Vera pamit pergi sebentar. Dia akan segera pulang sebelum Nathan bangun dari tidur nan pulas itu.


Banyaknya suara riuh di jalanan membuat Vera menjadi kurang nyaman. Dia memilih menepi ke taman untuk mencari tempat tenang.


"Kemarin hp gue jatuh dimana, ya? Kok bisa hilang, sih?" kesal Vera sambil menghentak-hentakan kakinya.


Brugh!


"Aduh, sorry."


"No problem. Lain kali liat-liat, ya," tegur orang itu.


"Iy─ Steven? Lo ngapain di sini?"


"Vera? Ini Lo?"


Grep!


"LO KEMANA AJA! GUE KANGEN!"


"Gue gak kemana-mana, tapi hp gue yang kemana-mana," balas Vera melepas pelukan Steven.


"Maksud lo?"


"Hp gue hilang, cug!"


"Kok bisa?"


"Gak tahu, mungkin hp gue udah bosan sama gue," adu Vera.


"Tapi gue gak pernah bosan sama lo," ceplos Steven.


"Iya sama, gue juga gak pernah bosan berteman sama lo. Oh iya, gw mau nanyak, nih. Lo kemarin ngasih Nathan lima puluh juta buat ngelunasi hutang gue, ya?"


Deg!


"I─iya, gak perlu ganti, gue ikhlas, kok," ucap Steven tersenyum ramah.


"Tapi demi apa?"


"Demi lo."


"Karena apa demi gue?"

__ADS_1


"Karena gue suka sama lo? Emang situ mau jadi pacar gue?"


...next...


__ADS_2