Suami Polosku

Suami Polosku
happy birthday


__ADS_3

Besok harinya, Vera benar-benar berniat pergi ke gedung yang sudah di tentukan si peneror. Gedung yang tampak tua dan tak tak terurus diluarnya.


Dia tidak b*doh, Vera mengajak Steven ikut bersamanya. Lelaki itu percaya dan mengikuti jejak Vera dari belakang.


Mereka berdua pergi tanpa sepengetahuan Nathan, tidak ada juga gunanya mengajak cowok itu. Toh, lagian Nathan juga tidak akan percaya.


“Ven, lo yakin kita gak bakal lenyap disini? Gue ragu banget untuk masuk, gimana kalau kita lapor polisi?” Vera memberi usul sebelum memasuki gedung tua itu.


“Percuma kalau bukti nya udah hangus, lagian nih orang kurang kerjaan banget neror lo.”


Vera menggaruk kepalanya yang tidak gatal, “Makanya itu ... dendam apa sih dia sama gue? Malah orangtua gue yang kena imbas, gak tega gue lihat ibu dan ayah kesakitan di dalam sana.”


“Ya udah kita masuk aja! Lo pegang tangan gue ya, jangan sampe terpisah, soalnya gedung nya gelap banget didalam,” pinta Steven yang dibalas anggukan oleh Vera.


Vera menggenggam tangan Steven dan keduanya berjalan masuk ke gedung yang gelap.


“Ven, gimana nih? Gelap banget. Gue gak bisa liat-liat apa.” Tubuh Vera bergetar ketakutan.


“Udah gak papa, 'kan ada senter hp, intinya genggaman tangan kita jangan dilepas,” kata Steven.


Mencari kesempatan dalam kesempitan, itulah Steven. Mereka terus berjalan dengan penuh hati- hati.

__ADS_1


“Tolong ... siapapun tolong kami!”


“I--itu kayak suara ibu gue. BU ... IBU DI MANA?” Vera melepas genggaman tangannya dengan Steven dan belari mencari arah sumber suara ibunya.


“Ve--Vera? Disini, tolongin ibu,” teriak wanita paruh baya itu.


Vera menyalakan senter ponselnya, kemudian dengan sigap melepas tali ikatan yang menempel pada tubuh orangtuanya.


Setelah itu melepas lakban hitam yang menutupi mulut sang ayah.


“Ayah sama ibu gak papa 'kan?


“Gak papa kok, sayang. Tapi─”


“HAPPY BIRTHDAY VERA!”


Seketika lampu terang kembali menyala, menampakkan orang-orang terdekat Vera yang bertepuk tangan ria serta menyalakan party popper yang membuat Vera terkejut bukan main.


“Happy birthday to you, happy birthday to you, we said i love you ... happy birthday to you, HAPPY BIRTHDAY VERA!” ucap mereka serempak sambil berteriak-teriak keras. Termasuk Nathan, Steven, Arga, Jihan, Erina, dan teman-teman yang lain.


“S*al, jadi kalian yang neror gue selama ini?”

__ADS_1


“YOI,” jawab mereka lagi dengan serempak sambil tertawa.


Vera menutup wajahnya, menahan tangis dan rasa sesak yang bergejolak. Sungguh, dia benar-benar tidak menyangka dan sangat bahagia.


“Gue kesal banget sama kalian semua, tapi gue bahagia hiks, gue gak ingat hari ini hari spesial gue. Please Ini diluar dugaan banget, MAKASIH BANYAK BUAT KALIAN SEMUA.”


Vera kembali menangis bahagia, gara-gara diteror, dia jadi tidak ingat bahwa hari ini dia berulangtahun.


Ini ide yang luar biasa, gedung itu ternyata bersih dan rapi didalam, dengan dihiasi balon-balon dan tercetak nama 'ALVERA' dengan tulisan indah disana. Tak lupa dengan kue ulangtahun yang bertingkat.


“Kak Vera, aku minta maaf sebesar-besarnya karena udah bikin kakak jadi takut selama ini. Ini semua ide aku, karena ku pikir ini lumayan seru, dan Nathan juga udah setuju. Kita sering ngobrol 'kan, Kak? Kakak juga sering membela aku dari orang-orang jahat di sekolah. Makanya aku cari tahu kapan kakak ulangtahun, dan mungkin karena diteror Kakak jadi lupa hari ini hari apa. Jadi, jangan salahkan mereka kalau Kakak kesal, tapi salahin aku,” ucap Erina tulus.


Grep!


Vera memeluk Erina dengan erat sambil menangis kecil, “Makasih banyak, Rin. Gue ngerasa punya adik perempuan yang sayang banget sama gue, I really really really loveee you.”


“Sama-sama, Kak. Sekarang p*tong kuenya, yaa.”


“Oke, kita p*tong sama-sama, aja.”


Mereka semua pun bertepuk tangan dan kembali bersorak gembira untuk merayakan hari jadi Vera.

__ADS_1


...next...


__ADS_2