
1 menit
2 menit
3 menit
Hingga 15 menit kemudian, pintu kamar mandi tak kunjung buka, Vera nampak frustasi, tenggorokan nya seperti tercekik karena terlalu banyak berteriak.
"Nathan ... tolong gue," lirih Vera dengan raut wajah yang nampak sendu.
"Nathan ... hiks hiks, tolong!"
"Nathan, gue butuh lo."
"NATHAN, BUKAIN PINTU NYA HIKS HIKS!"
Cairan bening itu semakin deras keluar di pelupuk mata Vera, gadis berambut sebahu itu terlihat gusar sekali.
"Ada orang di dalam?" Samar-samar suara seorang pria terdengar dari luar, Vera hanya mengiyakan serta berteriak minta tolong, dengan waktu yang singkat pintu kamar mandi tersebut terbuka karena di dobrak.
"Hiks ma-makasih, Pak," ucap Vera dengan tangisan sesegukan.
"Iya, seharusnya saya yang minta maaf, saya lupa memberi stempel peringatan di sini, bahwa pintu kamar mandi ini sedang dalam proses perbaikan, maaf ya ...."
Vera hanya mengangguk, kemudian berlari ke meja makan sebelumnya.
"Loh ... loh ? Nathan sama Vanila mana?" Vera mengedarkan pandangannya mencari dua orang yang tadinya duduk bersama gadis itu.
"NATHAN!"
"VANILA!"
"KALIAN DIMANA?"
"Permisi, tolong volume suara anda di kecilkan, ini dapat menganggu acara makan pengunjung restoran," tegur salah satu pelayan.
"Maaf."
"Sedang mencari siapa ya?"
"D-dua orang disini tadi mbak, ada liat gak?" Ver bertanya sembari menunjuk meja makan yang di tempati mereka bertiga tadi.
"Ouh, sudah pulang."
Degh!
"Su-sudah pulang?" ulang Vera dengan nada tak percaya.
"Iya."
"Begitu ya, terimakasih mbak."
"Sama-sama, saya permisi."
Vera kembali menahan tangis nya, jika dibilang dia cengeng, ya dia memang sedikit cengeng, Vera bukan termasuk wanita yang tangguh dan kuat.
Dengan terpaksa, Vera berjalan kaki pulang ke rumah, untuk ongkos taksi pun dirasa tak cukup, karena jarak yang ditempuh tidaklah dekat.
'๐๐ข๐ฉ๐ข๐ต ๐ฃ๐ข๐ฏ๐จ๐ฆ๐ต ๐ด๐ช๐ฉ ๐ญ๐ฐ, ๐๐ข๐ต๐ฉ๐ข๐ฏ'
'๐๐ฆ๐ฃ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ณ๐ฏ๐บ๐ข ๐ข๐ณ๐ต๐ช ๐จ๐ถ๐ฆ ๐ฅ๐ช ๐ฅ๐ข๐ญ๐ข๐ฎ ๐ฉ๐ช๐ฅ๐ถ๐ฑ ๐ญ๐ฐ ๐ข๐ฑ๐ข?'
'๐๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฑ๐ข ๐ด๐ฆ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ซ๐ข๐ฌ ๐ข๐ฅ๐ข ๐๐ข๐ฏ๐ช๐ญ๐ข, ๐ญ๐ฐ ๐ซ๐ข๐ฅ๐ช ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ถ๐ฃ๐ข๐ฉ?'
'๐ฑ๐ข๐บ๐ข๐ฉ, ๐ด๐ช*๐ญ๐ข๐ฏ, ๐ฃ๐ข๐ซ*๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ'
Di sepanjang jalan, Vera hanya bisa mengumpat kesal, dia sendiri juga tidak tahu, siapa yang salah di sini? Nathan yang polos? kedatangan Vanila? Atau dirinya sebagai perusak hubungan antara dua sejoli itu?
"Oy, cebonk!"
__ADS_1
Vera mencari asal suara.
"Gue di samping lo, ogeb!" ketus Steven.
"Mau apa lo?" tanya Vera acuh.
"Seharusnya gue yang nanyak paok! Lo ngapain di jalan sendiri? Ouh! Mau cosplay jadi orgil ya?"
"Diam! Sebelum gue lakban tuh mulut," ancam Vera.
"Dih galak amat, sini naik di motor gue, biar gue antar pulang," ajak Steven.
Vera hanya diam.
"Naik oon!"
Vera tetap diam.
'pletak'
Karena terlanjur kesal, pria bertato itu menjitak kening Vera.
"Ih, apaan sih?"
"Gue bilang naik! lo tuli, bisu, buta atau apa?"
"CK, iya!"
Dengan berat hati, Vera menaiki motor sport Steven.
Di perjalanan tak ada yang membuka suara, hingga akhirnya Steven memecahkan keheningan antara dirinya dan Vera.
"Ver."
"Hm"
"Gak papa?"
"Ouh, udah makan belum?"
"Tadi abis nyebokin anak bebek," jawab Vera karena tak mendengar jelas ucapan Steven.
"Haha sama, gue juga pernah tinggal di situ,"
"Ouh, tapi itu bebek nyokap gue, ya kali princess melihara bebek," pede Vera.
"Oh gitu ya, semoga almarhum diterima di sisi-Nya ya, Amin," balas Steven.
Vera kembali diam, kenapa samar-samar suara Steven di balik helm mengatakan 'amin' padahal topik pembicaraan nya adalah bebek?
Ah, sudah lah.
Kini mereka telah sampai di kediaman Nathan.
"Kok sepi?" batin Vera.
"Ver, Nathan kemana?" tanya Steven.
"Gak tahu, seharusnya udah di rumah."
'drtt-drtt'
"Nomor siapa nih?" batin Vera.
"Hallo?"
"Hallo, atas nama Mbak Vera ya? Kami dari pihak rumah sakit, ingin menyampaikan bahwa, Pasien kami---Nathan, telah ditemukan dalam kondisi menyedihkan karena mengalami kecelak*an."
Degh!
__ADS_1
"H-hah?"
"Alamat rumah sakit nya akan dikirim ke nomor anda, terimakasih kasih atas waktunya, sekian."
'tut'
Bulu kuduk Vera menjadi naik, dia segera mengajak Steven untuk melihat kondisi Nathan di rumah sakit.
.
.
.
"Shhh," ringis Nathan sembari memegang kepalanya yang telah di perban.
"Lo udah sadar, gu-gue khawatir banget, Than!" seru Vera.
"Maaf."
"Kenapa bisa gini sih?"
"Panjang ceritanya, Ver," lirih Nathan.
"Kalo kondisi lo lagi gak gak kayak gini, gue udah bisa marah besar sama lo, karena lo udah ninggalin gue di restoran," marah Vera.
"Maaf."
"Hah, ya udah istirahat dulu, ngeliat kondisi lo aja gue udah ngeri, banyak banget perban nya, udah kayak mumy aja," oceh Vera.
"Nama nya juga kecelak*an!"
"Hm."
"OH YA! NATHAN LUPA! VANILA MANA?"
"Dia ... dia udah di jemput sama keluarga nya dan dirawat di rumah sakit lain, karena kondisi nya lebih parah daripada lo," jelas Vera.
Nathan bangkit dari bangsal, dan berlari keluar rumah sakit.
Dirinya sibuk mencari Vanila, pria itu menangis kecil saat tahu keadaan Vanila jauh dari kata baik-baik saja.
Nathan berfikir, ini semua salahnya.
Dia tidak fokus menyetir, jika terjadi sesuatu pada Vanila, pria itu tidak bisa memaafkan dirinya.
"Vanila maafin gue, lo dimana?"
"VANILA!"
Nathan terus mencari, mencari dan mencari hingga ke jalan raya.
"AWAS ADA KERETA DI BELAKANG MU!" teriak seseorang pada Nathan.
Degh!
'BRAK'
"ARGHH"
Nathan terjatuh akibat hantaman si pengemudi kereta.
Tadi kecelak*an, sekarang kecelak*an lagi.
Malang sekali nasibnya.
......next......
...****************...
__ADS_1