Suami Polosku

Suami Polosku
Kenyataan pahit


__ADS_3

"ANJ*R, IPHONE GUE JATUH KE SUNGAI!"


Vera berteriak histeris saat benda berlogo Apple tergigit itu tercebur kedalam sungai yang mereka tahu bahwa sungai itu tidaklah dangkal.


Vera menaiki pembatas jembatan untuk mengambil iPhone-nya, dan bersiap-siap untuk melompat.


'Grep'


Namun sebelum itu tangan kekar Nathan sudah lebih dulu mencekal tub*h mungil Vera.


"Jangan gil4 Ver! Sungai nya gak dangkal," ucap Nathan.


"B*do amat, iPhone gue lebih berharga hiks ... hiks, lepasin Nathan! Gue mau nyebur."


"Enggak─ itu bahaya, nanti Vera bisa tenggelam!"


"LEPASIN NATHAN! GUE RELA MAT1 ASALKAN MAT1-NYA BARENG SAMA IPHONE!"


Dengan terpaksa, akhirnya Nathan menggendong Vera ala karung beras, "kepala batu banget, nyawa Vera lebih berharga tau," ucap Nathan menggerutu kesal.


"Turunin gue Nathan!"


Nathan 'pun menurunkan gadis itu, kemudian menatap nyalang.


"Hiks ... hiks gue minta maaf, Than. Pasti lo mau muk*l gue 'kan? Hiks sumpah gue minta maaf sebesar-besarnya," tangis Vera semakin menjadi-jadi.


"Siapa bilang? Kalo soal iPhone, ntar Nathan beli lagi, tapi─ kalo soal nyawa Vera, huftt ... please ya, jangan gitu lagi."


Vera semakin terisak-isak dalam tangisnya, ia kira Nathan akan memuk*l, men4mpar, atau hal semacamnya, ternyata pria itu lebih mengkhawatirkan nyawanya.


"Gue minta maaf, Than," lirih Vera.


"Iya, gak papa, ya udah, ayo pulang!"


Vera hanya mengangguk lemah.


"Vera kenapa pucat gitu? Tadi gak sarapan ya?" tanya Nathan cemas.


"Iya."


Lagi dan lagi pria itu hanya menghela nafas, kemudian dia berjongkok membelakangi Vera.


"Cepat naik, biar Nathan gendong sampai rumah!"


"E-eh!?"


"Cepetan!"


"Iya."


Akhirnya, ke-dua nya pulang dengan Nathan yang menggendong Vera.


Menyesal sekali mereka tidak membawa kendaraan tadi, alasannya karena ingin joging plus melayat ke rumah Almarhum Aldo.


Sekarang mereka lihat? Nasib mereka pagi ini sangat s!al.


"Nathan."


"Hm"


"Kok semua pada ngeliatin kita ya?"

__ADS_1


"Gak tahu."


"Apa mungkin mereka iri ya?"


"Kayak nya iya."


Vera hanya tersenyum malu, dia semakin bergelayut manja pada Nathan agar orang-orang yang melihat nya tambah iri.


'Haha, pasti iri banget kalian' batin Vera.


'Tint - tint'


"OY, VERA! SEMV4K LO NAMPAK TUH!" teriak Jihan.


•••


Setelah mengalami hal yang memalukan tadi, Vera memutuskan untuk mengunci diri di kamar, dia benar-benar sangat malu.


"Ver," panggil Nathan.


"Apa?"


"Kok dari tadi wajah nya ditutupin mulu pake bantal, apa gak sesak?"


"Gue malu, anj!ng!"


"Makanya kalo keluar rumah gak usah pake rok mini!" Tegas Nathan.


"Gak *3**1, gak fyp, bang!"


"Emang kita lagi buat konten?"


"Enggak sih hehehe."


"Farel mana?" tanya Nathan.


"Sama mama mertua," jawab Vera.


"Oh"


'grep'


Vera memeluk Nathan dan menyembunyikan wajah cantik nya di ceruk leher sang suami.


"Gue masih malu," adu Vera.


"Makanya, harus jadi tep0s"


"Lo kira gue triplek?"


"Iyain aja lah, tapi bdw, tumben banget hari ini Vera manja sama Nathan?"


"Ya itu, karena gue trauma xixi."


Nathan hanya tersenyum tipis, ia merasakan tangan putih istrinya semakin memeluk erat p1nggang atletis-nya dan menyusup masuk ke dalam kaos hitam itu.


"Anj!r, body lo bagus banget Than, terus cara buat roti s*bek ini gimana?"


"H-hah?"


"Perut lu sixpack banget nj1rt, cara buat nya gimanaaa? Kok bisa ada roti s*bek-nya?" Ulang Vera.

__ADS_1


"Pake adonan terus di cetak,"


"Nj*ng."


Nathan hanya terkekeh, membiarkan istrinya mengelus-ngelus kotak-kotak di p3rutnya itu dengan lembut.


Hingga tak lama kemudian, terdengar dengkura kecil dari Vera.


"Lah udah tidur? Cepat banget?"


Nathan membaringkan bobot t*buh Vera di k4sur, kemudian pergi keluar k4mar.


•••


Sekarang Nathan telah membelah jalanan dengan motor sport nya untuk menuju suatu tempat.


Pria itu menginjakan kaki di sebuah bangunan yang cukup besar, kemudian masuk ke dalamnya.


•••


'Bugh'


Satu bog3man mentah dari Nathan melayang ke pipi Steven.


"GUE UDAH BU*UH ALDO, TAPI KENAPA LO GAK BISA NGURUS MAY*T NYA, HA!?"


"Akh, s-sorry, Than," ringis Steven.


Nathan men*nju wajah Steven hingga babak belur.


"Sekarang kita bisa aja jadi teman, tapi kalo lo gagal ngurusin pekerjaan lo lagi, jangan harap lo bisa hirup oksigen, anj!ng!" Tekan Nathan.


Steven hanya mengangguk lemah, pipi nya terasa begitu panas, kekuatan otot Nathan ternyata tidak bisa diremehkan.


"Mana Arga?" Tanya Nathan.


"Lagi kencan."


"Lo jagain markas sendiri?"


"Hm."


"Sorry, sini biar gue obatin luka lo," tawar Nathan.


"Gak usah," tolak Steven.


"Cih, sok jual mahal."


"Gue gini juga karena lo," ketus Steven.


"Salah lo juga bang*at!"


"Sampai kapan sih, lo harus pura-pura polos gini, lo gak kasian sama Vera?" tanya Steven mengalihkan pembicaraan.


"For what? Gue juga gak cinta sama dia."


"Terus? Tujuan lo selama ini apa?


"Pengen ngebun*h Vera!"


Gak ada konten lawak dulu ya wkwk, harus ada konflik nya juga,,

__ADS_1


...next...


...****************...


__ADS_2