Suami Satu Malam

Suami Satu Malam
Azzam Bernabas Dirgantara


__ADS_3

Suami Satu Malam 101


Oleh Sept


Rate 18 +


[Aku tidak pernah begitu membenci suamiku, tapi entah mengapa kali ini aku sangat kesal sekali. Bersama rasa sakit yang datang bertubi-tubi, aku tarik rambut Rayyan. Hah ... kasian, bagaimana lagi? Setelah menjambak pria tersebut, setidaknya ada rasa sakit yang berkurang. Seolah rasa sakitku mulai teralihkan ... Maaf, Ray. Tapi aku tidak sengaja. Tanganku seolah bergerak tanpa diperintah]


Jeandana terus saja menarik rambut suaminya. Tidak hanya itu, sepertinya Jean tidak puas sampai disitu saja. Karena tidak sekali dua kali jambakan, Jean terus menyiksa fisik pria tersebut hingga terdengar suara bayi menangis.


Oek ... Oek .. Oek ...


Rayyan menatap bagian bawah Jeandana, setelah merasakan sakit di seluruh rambutnya, Rayyan hampir jatuh pingsan karena melihat betapa banyaknya darah.


"Pak ... Pak Rayyan kalau tidak tahan, bisa menjauh sebentar," saran suster.


Rayyan menggeleng pelan, pria itu kemudian menatap Jean yang sudah mandi keringat. Seluruh wajahnya basah, dan dilihatnya tangan Jean. Masih mengengam dan banyak rambut dalam genggaman tangan istrinya itu.


[Tuhan ... terima kasih, terima kasih karena sudah mengirimkan wanita terhebat ini dalam hidupku]


Rayyan langsung memeluk Jean, sedangkan Jane sendiri sudah lemas. Ia baru antusias ketika perawat yang baru membersihkan bayi mereka meletakkan anak yang baru lahir itu di atas dadanyaa.


Jean terus saja menatap bayi kecil itu dengan mata berkaca-kaca. Dilihatnya bayi munggil yang masih merah tersebut. Ada rasa haru yang tiba-tiba menyeruak memaksa masuk dalam hatinya. Jean tidak menyangka, kini dirinya sudah menjadi seorang ibu.


Jean menangis bukan karena sedih, Jean masih terharu dan belom sepenuhnya percaya, bayi munggil itu kelak akan mengelayut manja pada dirinya dan memanggil mami dengan bibir munggilnya.


Rayyan pun sama, bibirnya sejak tadi bergetar, ia sampai tidak bisa berkata-kata. Kelahiran anak pertamanya itu, membuat Rayyan hanyut dalam lautan rasa yang mengharu biru.


Pria tersebut kemudian menatap Jean dengan intense, keduanya pun saling bertukar pandang.


"Makasi, sayang," ucap Rayyan sambil mengecupp kening Jeandana. Terima kasih karena sudah memberikan hadiah paling indah.


"Terima kasih sudah melahirkan malaikat kecil kita," tambah Rayyan. Tangannya tak henti-hentinya mengusap pipi baby mereka.


Jean hanya mengedipkan mata, sembari meminta Rayyan menundukkan kepalanya.


[ASTAGA! Kenapa kelihatan botak begitu?]


"Raiiii!"


"Hemm ...!"

__ADS_1


"Sepertinya kamu harus transplantasi rambut," ucap Jean lemah.


"Hah?"


"Maaf, itu sepertinya agak keras tadi aku menarik rambutnya," terang Jeandana yang merasa tidak enak sendiri.


Rayyan hanya tersenyum, kemudian mengecup kening Jean kembali.


"Gak apa-apa, ini malah hukuman buat kamu. Dapat suami botak!"


Jean mau tertawa, tapi tubuhnya sakit semua.


"Jangan ngelawak, Ray."


Rayyan yang melihat Jean menahan senyum di wajahnya, langsung saja mencubit hidung Jean dengan gemas. Kemudian menatap baby mereka dalam-dalam.


"Jagoan papi ... mirip sekali dengan maminya. Wajah kalian sama, hidung, bibir, alis kalian ... semua sama, semoga kamu juga setangguh dan sekuat mami ya sayang, Azzam Bernabas Dirgantara," gumam Rayyan sembari mengusap pipi lembut baby Azzam.


Jean pun merasa lega dan bahagia, akhirnya Azzam putra pertama mereka lahir ke dunia dengan selamat. Meski dibarengi drama papi Rai yang harus kehilangan beberapa genggam rambutnya.


Jean memang begitu, kalau jambak tidak mungkin setengah-tengah. Ia selalu melakukan segala sesuatu dengan totalitas.


Beberapa hari kemudian


Suasana kediaman keluarga kecil Rayyan begitu ramai. Para keluarga besar berkumpul, juga ratusan anak panti yang sengaja diundang untuk acara aqiqah Azzam Bernabas Dirgantara.


Dari pada mengelar acara besar di hotel bintang lima, Jean meminta acara yang biasa saja. Wanita itu memang kurang suka hidup glamour, meskipun suaminya pria kaya dan banyak usaha di mana-mana.


Jean tetap jadi pribadi keras yang apa adanya. Ia juga berharap, kelak Azzam akan menjadi pribadi yang tetap rendah hati meski orang tuanya memiliki segalanya.


"Sini, Mama mau gendong cucu Mama!" Mama Sarah sangat bersemangat menggendong anak pertama Rayyan tersebut.


Jean yang saat itu duduk sambil memangku Azzam, ia pun memberikan putranya. Putra yang sangat mirip sekali dengannya kata Rayyan.


"Ganteng kan, Ma?" tanya Rayyan saat mendekati sang mama.


"Ganteng, ini versi cowok Jean ... ganteng sampai terlihat cantik."


"Jangan cantik dong, Ma! Anak Rayyan kan cowok." Rayyan protes.


"Mama bilang dia ganteng ... karena sangat ganteng seperti cewek."

__ADS_1


"Ya enggak lah, Ma. Cewek ya cewek ... cowok ya cowok!"


"Astaga ... Ray. Kamu cerewet sekali sekarang!" celetuk mama Sarah.


"Iya, Ma ... Papinya Azzam sekarang cerewet banget!" sela Jeandana. Ia hendak mengadu. Namun, malah hidungnya ditarik oleh Rayyan hingga ia mengadu betulan.


"Aduh! Sakit!"


Mama Sarah hanya tersenyum melihat pasangan tersebut. Sudah tua kelakuan kaya ABG. Ya ampun.


Tidak jauh dari sana, Elvira sedang berbicang dengan keluarga lainnya. Keluarga besar Pramana juga datang, jadi rumah Rayyan sekarang sangat ramai dan meriah.


Si kembar saja sejak tadi berlarian bersama Kimora, sedangkan Naomi yang yang kini sudah memasuki usia mau ke lima bulan, berguling-guling di atas ranjang di kamar tamu bersama sang papa.


Mungkin terlalu berisik, jadi Naomi agak rewel. Begitu diajak Radika ke kamar menyepi sebentar, anak itu terlihat lebih rileks dan kembali tersenyum cerah bila diajak bercanda sang papa.


Hingga malam menjelang, mereka akhirnya pulang satu persatu. Menyisahkan mama Sarah dan Pak Perwira yang sepertinya akan menginap.


"Ganteng sekali anakmu, Jean. Mirip Papa ya, sekilas." Pak Perwira sedang mengangumi cucu semata wayangnya.


Mendengar mertuanya memuji diri sendiri, Rayyan tersenyum meledek. Namun, dalam hati. Mana berani ia menertawakan pak Perwira terang-terangan. Berapa nyawanya? Berani sekali menantang bahaya.


"Iya, Pa. Ganteng Papa kok!" timpal Jean sambil bercanda.


[Kalian ini .. Ish]


Rayyan hanya diam saja duduk di tepi ranjang sambil memijit kaki istrinya. Ia mengerutu, kapan mertuanya itu berangkat tidur. Sudah jam sepuluh malam, tapi Pak Perwira masih saja di kamar mereka.


"Pa .. Papa nggak ngantuk?" akhirnya kata tanya itu lolos begitu saja.


"Papa masih mau lihat Azzam. Kalau kamu ngantuk tidur saja!" cetus Pak Perwira.


[Lah, Pa ... ini kan kamar Rayyan]


Ish .... Lagi-lagi kalau berhubungan dengan keluarga Perwira, nggak anak nggak bapak, Rayyan hanya bisa merutuk dalam hati. Yaiyalah ... takut didor kalau macan-macam. Hahaha


Bersambung



Sekilas info : Azzam Bernabas Dirgantara nanti akan jadi tokoh utama di novel February ya ... Hehehe ... mohon doanya. semoga lancar jaya. Aamiin ... terima kasih ... Salam terlopeeee lope. Hihihihih

__ADS_1


__ADS_2