
Suami Satu Malam 58
Oleh Sept
Rate 18 +
Rayyan terlihat sumringah ketika Zio dan Zia tiba-tiba datang, biasanya juga minta dijemput. Kini mereka malah datang sendiri. Terutama Zio, anak itu langsung saja minta gendong, menempel seperti cicak.
"Sudah besar ya, kenapa nggak bilang? Kan bisa papi jemput ke rumah?"
Rayyan kemudian menurunkan Zio dari gendongan, lalu menggandeng tangan keduanya. Bersiap untuk masuk ke dalam runah. Namun, wajah Rayyan yang tadi sumringah langsung pucat, ketika melihat Radika berjalan ke arahnya.
"Papaaa!" panggil Zia dengan senyum ceria, gadis kecil itu memperlihatkan gigi-gigi putihnya ke pada sang papa. Ia kemudian melepas tangan Rayyan, berlari kepada papanya.
Settt
Radika langsung menangkap Zia yang berlari padanya.
"Jangan lari, sayang! Nanti jatuh!" Elvira mengusap rambut Zia yang kini digendong Radika.
Radika kemudian melirik lewat ekor matanya, dilihatnya Rayyan. Ingin pamer, ia pun mulai menciiumi wajah Zia. Kemudinya dengan iseng menoleh dan mengecupp pipi Elvira. Tentu saja Elvira kaget. Sedangkan Rayyan, pria itu langsung membuang muka saat sang kakak yang katanya mati, malah mersa-mesraan di depannya.
"Ish!"
[Kenapa dia bisa hidup lagi? Lalu siapa yang mati dulu? Mengapa banyak yang belum kami tahu?]
"Apa kabar, Ray!" sapa Radika yang datang mendekat.
"Oh ... baik .... sangat baik. Tapi ... apa yang terjadi ... lalu siapa yang meninggal dulu?"
__ADS_1
"Nanti aku jelaskan, ayo masuk. Mama di rumah, Kan?"
"Mama? Mama ada ... mama di dalam," jawab Rayyan masih sedikit shock. Pria itu juga masih belum percaya sepenuhnya. Fakta bahwa sang kakak masih hidup. Lalu ke mana pria itu selama ini? Mengapa meninggalkan Elvira dan anak-anaknya tanpa kabar?
Radika pun berjalan melewati adik kandungnya tersebut, sembari mengendong Zia. Sedangkan Zio, sudah digandeng sang mama. Mereka berempat mulai memasuki rumah, hanya Rayyan yang masih tetap tinggal di luar, pria itu tertegun campur bingung.
"Siapa itu?" gumam Rayyan saat semuanya sudah masuk. Dilihatnya seorang wanita yang mencurigakan sedang mengintip ke dalam mobil yang tadi dibawah Radika.
Khawatir itu orang jahat, Rayyan langsung mengambil tongkat kayu yang semula dijadikan penyanggah pohon di dekatnya.
"Siapa kau?" tanya rasa dengan rasa penasaran.
Perempuan itu menundukkan wajah, kemudian bergegas pergi sebelum Rayyan melihat dan mengenali mukanya dengan jelas. Ia menurunkan topi yang semula menutupi kepalanya. Sembari tangannya merogoh jaket, mengambil masker hitam untuk menutupi sebagian wajah.
"Aku bilang berhenti!" titah Rayyan. Akan tetapi, wanita itu tidak mengindahkan seruan Rayyan. Ia malah berjalan makin cepat.
Karena wanita itu tidak bisa dihentikan, akhirnya Rayyan juga mempercet jalannya. Ia setengah berlari mengejar sosok yang mencurigakan tersebut.
Settttt
[Siapa wanita ini?]
Rayyan tidak mau melepaskan wanita itu, kali ini ia menghadang, dan juga mencengkram lengan sang wanita.
BRUAKKK
Kasian, pria itu langsung terpelanting seketika saat menyentuh lengan si wanita.
"Ish ... Sialll!" Rayyan meringis kesakitan.
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan? Kau mematahkan tulang ekorku!" salak Rayyan dengan geram. Ia memegangi bagian belakang tubuhnya yang langsung nyeri.
Tiba-tiba earphones wanita tersebut tersambung dan menyala, ada sebuah perintah masuk.
"Jangan terlibat, cepat masuk mobil," suara dari balik earphone.
"Aku mau mengambil alat pelacak dalam mobil itu," bisik sang wanita.
Wanita itu bicara sangat pelan, hampir tidak terdengar oleh Rayyan. Dan ketika si wanita kembali mau pergi, Rayyan tiba-tiba memegangi kaki si wanita. Membuat ia yang semula berdiri siap siaga oleng dan jatuh karena Rayyan menariknya.
"Brengsekkk!" maki Jeandana dalam hati.
Dari situ, Rayyan bisa menatap sosok yang semula ia kejar. Cantik, matanya tajam dan bibirnya berisi.
[Siapa kamu?]
Jeandana bangun, ia mengibas seluruh tubuhnya yang kotor karena debu. Setelah melotot ke arah Rayyan, ia pergi dengan gusar.
"Hey!! Tunggu!"
Rayyan mau bangun mengejar, tapi pinggangnya terlanjur encok.
"Kuat juga wanita itu?" gumam Rayyan kembali. Ia pun berhasil bangun. Namun, matanya tidak sengaja melihat benda jatuh di atas paving. Sepertinya itu milik Jendana.
Sebuah liontin bentuk bola dunia. Penasaran ia pun membukanya. Alisnya mengkerut, ketika malah melihat foto Radika.
Settttt
Rayyan kaget, benda itu tiba-tiba direbut dari tangannya. Jeandana datang kembali untuk mengambil miliknya yang jatuh. Keduanya pun saling menatap, lebih tepatnya Jendana melotot marah karena Rayyan berani melihat benda miliknya. Sedangkan Rayyan, ia begitu terkejut, melihat foto sang kakak ada dalam liontin wanita lain.
__ADS_1
[Apa dia wanita Mas Dika?]
Rayyan menatap kepergian Jendana penuh tanda tanya. Bersambung.