
Suami Satu Malam 69
Oleh Sept
Rate 18 +
[Aku pikir hari ini adalah hari terakhirku di dunia, aku sudah memutuskan untuk menemui suamiku dengan menengelamkan diri ke dalam lautan lepas. Berharap ombak akan membawa jauh ragaku ke tegah lautan. Disusul dengan jiwaku yang mati perlahan karena kehabisan udara, tengelam di dalam lautan. Tapi, apa ini? Dia yang ku sangka telah mati, kini berani muncul kembali. Kau terlalu jahat Tuan Radika Dirgantara. Kau satu-satunya pria yang membuat aku ingin mati bersamamu]
Elvira larut dalam kesedihan, ia tidak menyambut pelukan hangat yang selama ini ia rindukan. Ia takut untuk tersenyum, takut merasa bahagia. Sebab, hanya sekejap ia tersenyum, selanjutnya ia akan merana selamanya.
"Jangan menyentuhku! Tolong lepaskan, jika ingin pergi lagi ... aku terima. Aku lelah denganmu. Aku menyerah!" suara Elvira terdengar serak. Tapi menusuk dalam ruang dengar Radika.
"Bicara apa kamu, Vir?"
Radika spontan kesal, susah paya ia kembali. Lah, Elvira malah bilang menyerah. Sia-sia selama ini ia berjuang demi mereka?
Wanita itu melepaskan lengan suaminya dengan lemas, ia tidak mau dipeluk oleh pria tersebut. Radika jelas tidak terima, kok tidak boleh menyentuh istrinya? Mereka menikah kan agar bisa saling bersentuhan?
"Viraa! Jangan seperti ini ... Maaf karena Mas lama kembali. Itu karena ada alasannya!"
Elvira menggeleng pelan, tidak mau lagi mendengar alasan yang sama. Ia sudah muak dengan semua ini. Hati wanita itu tidak terbuat dari baja, tidak sanggup lagi menerima beratnya perpishan dengan Radika lagi. Biarlah berpisah sekalian seperti ini, setidaknya jiwanya tidak mencari-cari.
Radika yang kesal karena Elvira keras kepala tidak mau mendengar penjelasan, pria itu langsung saja menyibak baju bagian depan. Terlihat bekas jahitan baru, ia sengaja menarik tangan Elvira agar mau melihatnya. Sebab, wanita itu terus saja membuang muka.
"Aku tidak bermaksud meninggalkanmu, Vira ... kau tahu. Kamu nyawaku! Aku bisa bertahan karena mengingatmu."
Tubuh Elvira betgetar, ia ingin merah. Mengapa suaminya selalu terluka? Mengapa tubuh pria itu selalu mendapat jahitan baru? Tidak bisahkan ia menikah dengan pria yang biasa-biasa saja?
__ADS_1
Tidak kuasa menahan rasa yang bergejolak di dalam dadaa, Elvira yang semula enggan menatap suaminya, kini memeluk Radika. Ia menangis dalam pelukan sosok pria yang tubuhnya penuh bekas luka tersebut.
"Tenanglah! Semua sudah berakhir. Ini terakhir kali aku pergi ... meninggalkanmu ... meninggalkan anak-anak kita."
Radika mengusap kepala Elvira, membelainya lembut. Sudah lama ia tidak memeluk wanitanya itu. Rindu berbulan-bulan pun akhirnya ia lepaskan. Biarlah Rayyan dan Jeandana menunggu di depan sampai pagi. Ia hanya ingin fokus dengan wanitanya tersebut. Wanita yang mampu membuatnya melakukan apa saja.
Pukul 10 malam
KLEK
Jeandana mengetuk pintu. Namun, tidak ada jawaban. Akhirnya ia masuk. Karena sejak pagi Tuan besarnya itu belum makan. Ia masuk membawa sekotak nasi untuk Radika. Tapi, baru mengintip, ia langsung balik kanan. Bibirnya tersenyum getir.
Pemandangan di depannya, membuat ia sadar. Bahwa Radika memang untuk Elvira. Begitu pula sebaliknya.
"Kenapa balik?"
Jeandana langsung menoleh. Kaget dengan suara Rayyan.
"Mereka keluargaku! Apa salah aku menunggu keluargaku?" Rayyan nyolot balik.
"Pulanglah, biar aku saja yang jaga malam ini."
"Ish! Kau perempuan! Kau saja yang pulang. Biar aku saja yang menunggu di sini."
"Kau bisa apa?" tanya Jeandana sinis.
"Cih ... sudahlah! Kau sudah tidak punya harapan bila ingin mencuri perhatian kakakku!" sindir Rayyan.
__ADS_1
"Maaf, jaga ucapan Anda!" Jeandana melotot.
"Jaga itu hatimu!" nasehat Rayyan.
"RAY!!! Jean mulai kepancing. Jantungnya sudah meletup-letup.
"Kenapa? Sakit melihat mereka di atas ranjang yang sama?" tanya Rayyan. Sepertinya ia juga sudah melihat, Radika tidur sambil memeluk Elvira di atas ranjang yang sama.
Pria itu memang gemar mancing mania. Jadi jangan salahkan kalau ada yang menghajar habis-habisan. Kebetulan sedang di rumah sakit, tinggal daftar kamar.
"Aduhhhh!!! Siallll!!! Jeaaann! Lepaskan!" Rayyan meringis kesakitan ketika wanita itu memiting lengannya.
"Berani bicara yang bukan-bukan, terima akibatnya!"
"Lepaskan, Jean! Kau wanita, jangan seperti ini. Siapa pria yang akan mau hidup dengan wanita mengerikan sepertimu?Hemm? Lepaskan!" Rayyan masih saja sempat mencibir, padahal lengannya terasa amat sakit.
Setttt
Jean melepaskan lengan pria tersebut, tapi bukan berarti dia melepaskan sepenuhnya. Jean yang kesal, spontan memberikan hadiah kecil buat Rayyan.
BUGH
"Ish!!!" Rayyan langsung meringkuk ketika Jendana menendang dua baksonya. Wkwkwkkwk
Bersambung.
Nggak bosen ngiklan ya makk... hehehheh
__ADS_1
Cus baca novel Sept yang lain. Terima kasih ...