Suami Satu Malam

Suami Satu Malam
Possessive


__ADS_3

Suami Satu Malam 104


Oleh Sept


Rate 18 +


[Kamu hampir membuat jantungku copot, Jean. Sungguh, ketika dalam perjalanan ke sini, rasanya ingin segera memasung kakimu dan aku seret kau pulang ke rumah. Biar kamu tetap aman dan diam. Aku sampai harus membentak pada Kris berkali-kali karena lamban sekali ia mengemudi. Apa dia tidak tahu? Aku ingin lihat, benar-benar tidak sabar melihat kalian. Apa baik-baik saja? Apa kalian terluka? Hampir saja ... ada sebuah pikiran, aku lebih baik mengurungmu ... Biar rumah serasa penjara. Asal kamu selamat ... Tapi, sudahlah ... sepertinya aku dilahirkan untuk selalu bertekuk lutut di depanmu. Matahariku ... aku menyesal, kenapa terlambat menemukanmu. Luv you Jeandana ... terima kasih karena lahir terlalu tangguh. Terima kasih, karena sudah memberikan hadiah-hadiah istimewa di dalam hidupku]


Tidak terasa, mata Rayyan terasa perih. Sambil tetap memeluk Jean, pria itu malah menangis.


Jean bisa merasakan, karena tubuh suaminya bergetar pelan.


"Jangan nangis. Aku janji gak akan ngelakuin hal-hal bahaya. Swear ... Kali ini kata-kataku bisa dipegang!" ucap Jean yang merasa tidak enak hati. Jean kemudian berbalik, disentuhnya pipinya Rayyan. Mengusap sudut matanya. Ia sampai heran, kenapa suaminya sekarang jadi baperan?


Setahu Jean, Rayyan hanya menangis saat kelahiran Azzam, pria itu mana pernah menangis lagi. Tapi, karena satu kesalahan Jean hari ini, pria itu kembali harus menumpahkan air mata buayanya. Eh .. bukan! Bukan air mata buaya. Rayyan sudah bertaubatan nasuha sejak lama. Sejak ia menjadi duda kesepian. Sejak itu pula dia sudah tidak berani main-main dengan hati. Apalagi hati wanita, yang terkenal rapuh dan lembut tersebut.


"Jangan buat aku panik lagi!"


Jean mengangguk pelan.


"Janji!" ucap Jean yakin.


CUP


"Ini pasti sakit?" Rayyan mengecupp lengan Jean yang dibalut perban.


"Sedikit!"


Pria itu mendesis, kemudian kembali merengkuh pinggang Jeandana. Menengelamkan wajah Jean, agar merapat dan merasakan hangat dekapannya.


"Sakit!"


"Tuh, kan!"


Jean pun hanya tersipu.


"Ish!"

__ADS_1


***


Esok harinya


Pagi-pagi Radika Dirgantara sudah dibuat ketar-ketir oleh mama si kembar.


Ini adalah hari pertama Elvira mau turun tangan. Biasanya ia tidak begitu peduli pada Hotel miliknya tersebut, hotel hasil dari mas kawin yang diberikan oleh Radika Dirgantara.


Hal yang membuatnya mau terjun langsung adalah salah satunya anak-anak sudah besar. Zio dan Zia sudah masuk SMP. Masing-masing sudah kelas 3. Meskipun baru berusia 12 tahun, mereka rupanya ikut kelas akselerasi.


Kelas akselerasi adalah program atau strategi yang memungkinkan siswa untuk menjalani dan menyelesaikan masa sekolah lebih cepat dari biasanya, dan memulai belajar lebih muda dari usia umumnya.


Karena si kembar termasuk anak dengan IQ di atas rata-rata, tentunya semua terasa mudah. Apalagi si Naomi, adik si kembar itu malah tidak kalah istimewanya.


Naomi yang kini sekolah di international School, sudah duduk di kelas tiga. Padahal baru 7 tahun lebih beberapa bulan. Anak-anak Radika emang sedikit jenius. Mungkin terlalu sering dibawa ke mana-mana untuk kunjungan bisnisnya di luar negri, Naomi jadi fasih 3 bahasa asing, salah satunya bahasa Rusia. Itu kan termasuk bahasa tersulit.


Kini, saat anak-anak sudah disibukkan dengan sekolahnya masing-masing. Elvira mencari kegiatan.


Pagi-pagi, setelah anak-anak sudah berangkat. Ia sudah terlihat rapi dengan setelan warna baby pink yang stylist. Cantik, anggun, dan elegant.


"Berangkat sama sopir, ya?" ucap Radika.


"Jauh ... nanti tanganmu pegel!"


"Ish!"


"Apa berangkat bareng aku aja?"


"Lah ... kantor Mas Dika kan beda arah?"


Radika jadi murung, harusnya ia jual saja hotel itu. Dari pada endingnya ia makan hati seperti ini. Ketar-ketir, takut ada yang naksir istrinya. Tambah umur, Elvira tambah mempesona. Maunya istrinya itu dikurung saja di dalam rumah. Aduh ... bucin.


"Bagaimana kalau ikut kerja bareng aku aja? Tetep digaji kok!" bujuk Radika yang tidak suka Elvira kembali berkarir. Meski hanya ngurus hotelnya sendiri.


"Ngapain?"


"Jadi sekretaris!"

__ADS_1


"Di rumah sudah ngurusi Mas, masa di kantor lagi."


Elvira kemudian mengambil tas yang semula ia letakkan di atas meja. Wanita itu sudah siap untuk mengemparkan EL Hotel.


"Vir ... pikir lagi, ya?"


Elvira hanya tersenyum tipis, kemudian mengecupp pipi Radika. Setelah itu mengambil kunci mobil dan melambai pada suaminya.


Radika hanya bisa menghela napas panjang, melepas Elvira kerja seperti mengijinkan istrinya itu dilirik para buaya.


"Rich ... kamu ikuti diam-diam. Tidak usah ikut aku ke kantor!"


Richard mengangguk, pria itu masih setia pada keluarga Radika. Dan juga masih membujang sampai sekarang setelah ditinggal Jeandana menikah. Ia memilih jadi bujang selama-lamanya. Mungkin Richard salah satu pria gagal move on.


***


El Hotel


Begitu membuka mobil, Elvira sudah disambut oleh para pegawai. Di belakangnya juga sudah ada Richard yang mengintai diam-diam.


Semua berjalan normal, hingga sosok manager hotel menyapa Elvira dengan hangat. Ia memberikan bucket bunga cantik pada wanita yang terlihat cantik dan mempesona tersebut.


Sebagai ucapan selamat datang maksudnya.


Sedangkan Richard, ia sempat kaget karena ada panggilan masuk.


"Iya, Tuan."


"Apa dia sudah sampai?"


"Sudah, Tuan."


"Lalu sedang apa dia sekarang."


"Sedang ...!"


Richard bingung, karena Elvira sedang tersenyum manis di depan seorang pria sambil memegang bucket bunga. Richard paham, bosnya itu macam suami possessive. Jadi apa yang harus ia laporkan?

__ADS_1


Bersambung.



__ADS_2