
Suami Satu Malam 121
Oleh Sept
Rate 18 +
"Ayo bangun ... sudah pagi."
Jean hendak melepaskan jeratan lengan kekar yang telah melingkar di pinggangnya tersebut. Sudah pagi, ia mau bangun. Tapi, sepertinya Rayyan masih mau melanjutkan tidurnya.
"Pi .. !" bisik Jean lagi.
Bukannya merenggang, dekapan Rayyan malah semakin erat. Pria itu semakin menengelamkan wajah di balik punggung Jeandana. Seolah engan bangun dan membuka mata.
"Sayang!"
"Bentar ... bentar lagi, aku masih ngantuk banget." Rayyan merasakan matanya begitu lengket. Seakan sulit untuk dibuka.
Jean pun hanya bisa menghela napas dalam-dalam. Salah sendiri, dua jam yang lalu malah minta nambah. Alhasil, sekarang kurang tidur.
Bahkan matahari mulai meninggi, tapi Rayyan masih enggan bangun. Masih mau tiduran sambil memeluk sang istri karena ngantuk berat akibat bergadang semalaman.
Perlu diakui, timun itu cukup perkasa juga semalam. Mampu berdiri kembali setelah tumbang tiga kali. Jean sampai tidak bisa berkata-kata. Ia jadi curiga, jangan-jangan Rayyan mengkonsumsi obat kuatt atau sejenis gingseng yang membuat stamina suaminya on sepanjang malam.
***
Pukul delapan pagi.
Mereka telat sarapan karena baru saja keluar kamar hotel. Rayyan sedikit gusar saat mengetahui bahwa kemarin malam istrinya tidur satu kamar dengan dua pria. Saat mengantar Jean ke kamarnya sendiri, matanya terus saja menatap ke Richard dan juga Jemmy.
Tapi, setelah mendengar penjelasan Jean sebelumnya, dengan berat hati ia memeluk Richard dan Jemmy. Sambil mengucapkan rasa terima kasih karena sudah menjaga dan membantu istrinya.
"Maaf, Rich! Semalam aku emosi!" peluk Rayyan sembari menepuk punggung Richard.
Richard hanya tersenyum tipis, kemudian mengangguk. Seolah itu bukan apa-apa. Sebab Richard juga melakukan semua itu demi Jean, cinta diam-diam Richard selama ini selama menjadi pengawal Radika. Tapi mau bagaimana lagi, sepertinya Jean bukan jodohnya. Dengan berat, akhirnya Richard harus ikhlas. Apalagi dilihatnya Jean sudah sangat bahagia.
Sore harinya, mereka pun langsung bertolak dan kembali ke Indonesia. Misi selesai, target pun sudah di tangan. Kris sudah mengurusnya. Kini Rayyan pun balik bersama rombongan.
***
Tujuh bulan kemudian.
Kediaman Radika Dirgantara.
"Ma ... Mamaaa!"
Tap tap tap
Zia menuruni tangga dengan cepat, membuat semua menatapnya.
"Zi, belom ganti baju? Papi dah telpon dari tadi. Nunggu kita gak dateng-dateng!" ucap Zio yang melihat adiknya masih pakai roll di poninya yang pendek itu. Bahkan adiknya itu belum mengganti bajunya. Masih pakai piyama semalam.
"Udah deh Mas Zio! Nggak usah bawel. Cerewet .... Ma .... mama!" Setelah mengomeli sang kakak, yang merupakan saudara kembarnya itu. Zia kembali berteriak mencari mamanya.
"Maaaa!"
Ternyata sang mama ada di depan, sedang bicara dengan papanya di dekat mobil. Sepertinya mereka sudah siap, tinggal menunggu dirinya saja. Hari ini mereka mau datang ke rumah papi. Ada acara kecil, syukuran untuk kelahiran anak kedua papinya.
"Zi ... kamu kok belum ganti baju?" Karena melihat Zia datang mendekat, Elvira pun memperhatikan putrinya yang kini sudah beranjak remaja itu.
"Baju Zia mana, Ma?"
__ADS_1
"Baju apa?" Elvira mengeryitkan dahi.
"Yang kita beli kemarin, Ma!"
"Oh itu ...!" Elvira menatap Radika yang melotot ke arahnya.
Ibu tiga anak itu pun mendekati Zia. Kemudian berbisik pelan.
"Dibuang papa! Kamu gak boleh pakai baju itu."
"Ihhhh Papaaaa!" protes Zia sambil setengah berteriak.
Sedangkan Radika, ia pura-pura tidak dengar. Pria itu malah asik bicara dengan Naomi. Sebagai seorang ayah, Radika memang super duper protective. Ia sama sekali tidak suka anak gadisnya itu memakai baju yang kelihatan udelnyaaa. No! Big No.
Beneran saat kemudian
Akhirnya mereka sudah berada di dalam mobil yang sama. Zia masih terlihat gusar, gadis itu akhirnya harus terima memakai baju sesuai arahan sang papa. Leher tinggi, perut tertutup dan celana panjang.
[Ini gak modis banget]
[Apa-apaan ini! Papa gak asik]
[Lagian baju begitu saja nggak boleh! Kan aku tutupin pakai sweater ... pakai cardigan]
[Papa Keterlaluan]
Sepanjang jalan Zia mengomel. Tapi cuma berani dalam hati. Karena ia takut bila sunggut sang papa keluar. Bisa pecah dan perang.
Ketika Zia memasang muka sebal dan masam, lain halnya dengan Zio. Anak itu sedang asik dengan gawai yang sejak tadi ada di tangannya.
Lain lagi dengan Naomi, anak itu sejak tadi terus saja bicara sepanjang jalan. Batrenya full, seperti allkulin. Tahan lama dan awet. Tidak ada capek-capeknya, membuat kedua orang tuanya gemas dan tambah sayang.
Tidak terasa mereka tiba setelah melewati banyak gedung-gedung tinggi menuju kediaman Rayyan dan Jeandana.
"Cantik sekali, mirip ibunya," puji Elvira saat mau menggendong putri Jean yang baru beberapa hari tersebut.
"Lucu ya, Mas. Munggil banget." Elvira menatap suaminya yang kala itu sedang menggendong Naomi.
"Bisa persis sama kamu banget ini, Jean!" komentar Radika.
Jean hanya tersipu malu, sembari memegang tangan Rayyan yang kini mengusap kepalanya.
Tap tap tap
Zia datang ingin menciumm baby juga.
"Zia ... apa itu?"
Dahi Elvira mengerut. Ketika melihat Zia akan menciumm baby Jeandana. Masalahnya, tangan si Zia memegang sesuatu.
"Sini, Ma ... Zia mau sunnnn ponakan Zia yang cantik!"
Elvira mundur selangka, kemudian buru-buru memberikan baby kecil itu pada Rayyan kembali.
Tap tap tap ....
Elvira langsung lari, ia mencari kamar mandi. Panik, Radika menurunkan Naomi dari gendongan.
"Sayang, sama kak Zia dulu!" pesan Radika.
Zia hanya bengong. Gadis yang beranjak remaja itu pun memakan lagi potongan kue rasa duren yang masih satu suapan tersebut.
__ADS_1
Di belakang.
Tap tap tap
"Sayang!"
Tok tok tok
"Vira ... kamu baik-baik saja kan."
"Vira ...!"
"Viraa ....!"
Tok tok tok
Radika mengetuk berkali-kali pintu kamar kecil.
KLEK
Setelah beberapa saat, Elvira muncul dengan wajah yang basah. Sepertinya istrinya itu habis membasuh muka.
"Kamu kenapa?"
"Mas ...!"
"Kamu kurang enak badan? Ayo ke rumah sakit."
Radika jelas panik, istrinya yang semula sehat bugar kenapa jadi pucat. Melihat kecemasan sang suami. Mendadak Elvira maju dan langsung memeluk Radika erat.
"Aku rasa Naomi akan punya adik," bisik Elvira sambil memeluk suaminya dengan erat.
"Hah ...?"
Seketika wajah Radika tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya. Ia gendong Elvira. Mereka berputar sama-sama, saking bahagianya, Radika sampai tidak bisa berkomentar. Ia kecupiiii seluruh wajah Elvira, sebagai salah satu bentuk rasa terima kasihnya.
"Terima Kasih, karena sudah menjadi ibu dari anak-anakku!"
CUP
Sebuah ciumann panjang menutup kisah bahagia mereka.
***
Terima Kasih. Tanpa kalian, novel ini akan tengelam. Terima Kasih pembaca di manapun kalian berada, di negara manapun kalian berpijak. Doa terbaik untuk kalian semua. Sehat selalu, diberikan limpahan riski dan rahmat dari-Nya.
Terima Kasih, teruntuk dokter Anisa. Novel ini untukmu .. terima kasih sudah bangun dari komamu, hingga aku mampu melanjutkan menulis novel ini yang aku kira akan aku biarkan menggantung karena kau tinggal lama.
Bagiku, pembaca adalah nyawa dari tulisan yang aku ketik. Big thanks untuk pembaca di manapun kalian berada. Salam hangat dari Sept. Semoga tulisan ini, bisa diambil baiknya dan buang jauh-jauh segala keburukan yang ada di dalamnnya. LUV U!
Sampai jumpa di novel selanjutnya ... sebuah novel perterongan generasi ketiga keluarga Wiratmaja Dirgantara. Heheheh
TAMAT
Heheheh.... Terima Kasih sudah mengikuti kisah mereka..... Makasih banyak supportnyaaaa selama ini. Terima Kasih .... kalian semua the best. Terlopeeee!!!!!
IG Sept_September2020
Fb Sept September
Jangan lupa, baca novel Sept yang lain... di foto ini semua sudah TAMAT. ALHAMDULILLAH ....
__ADS_1
Pokoknya Terima Kasih buanyakkk