Suami Satu Malam

Suami Satu Malam
Allosaurus


__ADS_3

Suami Satu Malam 57


Oleh Sept


Rate 18 +


Elvira kaget, suara piring pecah membuat ia spontan menoleh, kemudian terkekeh.


"Mas! Jangan buat bi Surti takut!" pinta wanita tersebut. Ia melihat wajah bi Surti yang pucat. Elvira jadi ingat cerita suaminya tadi pagi. Yang pasti, jelas sang suami dikira arwah gentayangan oleh asisten rumah tanggannya itu.


Ia kemudian menepuk bahu suaminya, seneng banget suaminya ngerjain bi Surti. Radika yang semula menatap Bibi dengan tajam, kini melihat ke arah Elvira.


"Dia pagi-pagi nyembur mukaku, Vir! Udah mirip dukun?" cetus Radika mengingat kejadian pagi tadi.


"Eh ... Manusia ... Nyona?" potong bibi yang masih diam terpaku di depan pecahan piring yang berserakan di depannya. Saat mendengar Radika bisa bicara, ia jadi sedikit paham. Bahwa mungkin orang itu sebenarnya manusia, bukan hantu seperti ia sangka.


"Saya manusia! Bukan hantu!" ketus Radika. Elvira tidak bisa menyembunyikan tawanya, ia terkekeh kemudian bi Surti hanya bisa merasa tidak enak. Pasalnya, ia sudah menyembur ke muka bosnya itu.


"Sudah ... sudah, bi Surti beresin pecahan piring itu. Nanti kena kaki anak-anak," Elvira melerai keduanya. Bisa habis nanti si Bibi atau malah bisa dipecat oleh suaminya. Kan Radika pendendam.


"Baik, Nya!" Bibi lantas langsung ke belakang, mengambil sapu dan cetok untuk membersihkan lantai dari serpihan piring yang pecah.


Beberapa saat kemudian


Bibi muncul lagi dengan piring baru, ia curi-curi pandang. Ingin memastikan, bahwa Radika memang manusia. Diliriknya kaki Radika. Oh ternyata, menapak ke lantai marmet warna gading tersebut. Hampir saja ia salah paham.


Selesai makan, anak-anak duduk di ruang keluarga, satu sebelah kiri dan satunya lagi sebelah kanan. Mereka begitu antusias ketika sang papa mulai membual.


"Papa harusnya sembunyi dalam gua, biar tidak dikejar Allosaurus," seru Zia saat Radika bilang bahwa selama ini ia dikejar-kejar kawanan Dino. Jadi, sang papa harus sembunyi di tempat rahasia.


"Terus Papa ketemu Brontosaurus, tidak?" Zio yang mulahnya ogah-ogahan mendengar cerita sang papa, perlahan mulai excited.


Radika hanya nyengir, kemudian mengambil buku bacaan anak-anak yang ada di rak di dekatnya. Pria itu kemudian membuka lembar lembar, guna mencari bahan untuk membual.


"Nah, Papa ketemu yang ini!" Radika menunjukkan salah satu dino yang paling besar.


"Hebat!" ucap Zia spontan.


"Benarkah? Papi Rayyan malah pernah berburu babbii hutan liar, Gedeee banget. Papa cuma ketemu aja. Papi langsung tangkap. Dimasukin mobil!" celetuk Zio dengan lugas.


"Ish!" Radika langsung mendesis kesal.


"Sayangggg!!" Pria itu lalu memanggil Elvira.


Tap tap tap


"Iya, bentar ...!" teriak Elvira sambil berjalan dan menenteng tas.


Hari ini mereka mau ke rumah mama Sarah. Wanita itu pasti senang mendengar kabar putranya masih hidup.


Setelah itu, rencananya mau ke rumah mama Lina juga. Pokoknya mau kasih tahu ke keluarga kalau Radika masih hidup.


"Ada apa, Mas? Jangan teriak-teriak.


"Ma ... Mama! Papa hebat, pernah ketemu Dino!" sela zia yang menatap kagum pada papanya.


"Cuma ketemu, Papi malah nangkap!" celoteh Zio.


Radika langsung melotot tajam ke arah Elvira. Dan Elvira hanya bisa tersenyum garing.

__ADS_1


[Zio! Jangan pancing-pancing Papa! Nanti mama yang ujung-ujungnya kena amuk Papa]


"Iya, kan Ma? Papi yang berburu waktu itu sama opa. Papi hebat!"


[Stop Zio ... jangan bicara lagi sayang]


Dahi Elvira langsung mengkerut.


"Ehem ... ehem!!!"


Radika langsung berdehem dan menunjukkan rasa tidak suka. Sepertinya Zio sudah tercuci otaknya. Hingga cuma ada Rayyan ... Rayyan dan Rayyan, itu adalah prasangka Radika karena jealous.


[Aduh]


Elvira pura-pura tidak melihat, ia menghindar dari tatapan suaminya tersebut.


Drettt Drett


Elvira terselamatkan dari rencana amuk Radika, ketika ponsel pria itu berdering.


"YA!" jawab Radika ketus di ponsel.


"Tuan, mereka masih di Norwegia. Tuan Marco masih liburan tahun baru di sana bersama keluarga kecilnya."


"LALU?" masih dengan nada dingin.


"Situasi masih aman, kami juga sudah mengusahakan untuk keselamatan Tuan dan keluarga. Sekedar saran, sebaiknya Tuan tidak di sana terlalu lama. Mengingat keamanan Kita masih terbatas."


Radika langsung masam, ada dia di sini saja Zio membanggakan Rayyan, bagaimana kalau ia pergi lagi? Jangan-jangan Zio malah pilih Rayyan jadi ayahnya.


"Ish!" Ia mendesis lagi.


"Nanti aku hubungi!"


Radika mematikan ponsel, padahal Richard belom selesai bicara.


***


HOTEL


"Jean! Ikuti mereka. Ambil tugas tim B. Aku percayakan mereka padamu."


Jeandana mengangguk, kemudian memakai topi hitam dan jaket kulit, sepatu boots dan juga sembua senjataa di selipkan dibalik pakaiannya.


"Go!" titah Jeandana pada tiga orang pria berpostur tinggi besar, tegap, atletis dan tampan. Hahahaha


***


"Besok buang mobil ini!" ujar Radika yang duduk di balik kemudi.


Elvira hanya diam, sepertinya Radika masih marah.


"Zio suka mobil ini, kan baru beli dianter papi!" celoteh Zio yang duduk di jok belakang. Radika minta ganti mobil karena ia juga tahu. Mobil itu yang bantu milih di showroom kan Rayyan.


Radika hanya bisa menghela napas panjang, kemudian menepi. Ia tahu sudah diikuti oleh orang-orangnya.


"Ayo, turun semua!" titah Radika.


Chittttt

__ADS_1


Jeandana menginjak pedal rem mendadak. Waniat itu kemudian berhenti di belakang mobil Radika dan keluar.


"Ada kendala, Tuan?" tanya Jendana kemudian. Ia khawatir mobil Elvira kenapa-kenapa, sebab mobil itu belum diperiksa keamananya.


"Jean!" pekik Elvira kaget.


Bila tadi pagi bi Surti seperti melihat hantu, kini ganti Elvira yang seperti melihat arwah.


Jeandana hanya mengangguk pelan, sedikit menundukkan wajah.


"Mana kuncinya!" pinta Radika yang membuat Elvira tersadar.


Jean pun memberikan kunci mobilnya, sedangkan Elvira terus saja menatapnya.


"Kamu masih hidup?" wajah Elvira masih tak percaya.


"Sebaiknya Nona masuk! Sangat bahaya di luar seperti ini bersama Tuan."


Jean langsung masuk ke mobil Elvira, meninggalkan Elvira yang masih shock.


"Ayo Vir!" ajak Radika sambil menggandeng tangan Zia dan Zio.


"Tapi ..." Elvira enggan melangkah.


"Ayo!"


Akhirnya Elvira pun masuk mobil yang lengkap dengan segala peralatan serta anti peluruu tersebut.


WUSHHHH ...


"Papa keren, bisa balap mobil, truk sama bus!" seru Zia. Sedangkan Zio merasa itu sudah biasa.


"Jangan kenceng-kenceng, Ma!" pinta Elvira.


"Hemm!"


Setengah jam kemudian, akhirnya mereka sampai di kediaman keluarga Wiratmaja.


Saat itu, Rayyan baru saja akan masuk mobil. Namun, melihat gerbang terbuka, pria itu menajamkan mata.


"Siapa yang datang?" gumam Rayyan yang merasa tidak asing dengan jenis mobil yang kini mulai mendekat dan berhenti tidak jauh dari tempatnya berdiri.


KLEK


Zio begitu antusias melihat sang papi, dengan bersemangat ia melepas sabuk pengaman dan membuka pintu. Anak kecil itu langsung berlari dan menghambur ke pada Rayyan.


"Papiiiii!"


Radika masih duduk di balik kemudi, masih duduk terdiam menikmati pemandangan yang mengaduk hatinya tersebut.


"Vira ...!" panggil Radika tanpa melihat sang istri yang juga mau turun dari mobil.


Di telinga Elvira, suara suaminya kali ini bak seperti raungan Allosaurus yang akan mengamuk.


[Mati aku!]


Ampun tuan pencemburu.


__ADS_1



Mengandung Iklan. Heheeheh


__ADS_2