
Suami Satu Malam 88
Oleh Sept
Rate 18 +
Rayyan pikir hidupnya akan seperti di surga setelah ia berhasil menjinakkan Jeandana. Tapi apa yang terjadi sekarang, pria itu harus merasakan tersiksanya sebagai seorang pria. Ketika sedang ingin, tapi tidak ada lawan main.
Seperti saat mereka habis makan malam. Suasana yang harusnya hangat jadi dingin dan kaku. Jean langsung masuk kamar, bukan kamar mereka. Tapi kamar di sebelah kamar utama.
Sedangkan si bibi, asisten rumah tangga yang baru tiba tadi sore, terlihat sibuk merapikannya seisi rumah. Rumah Rayyan dan Jeandana kini kedatangan 3 asisten rumah tangga dan 2 security.
Jadi, sebenarnya kediaman mereka sudah gak sepi-sepi banget. Mungkin hati Rayyan yang terasa horor karena ditinggal oleh penghuninya.
***
Malam berikutnya. Sudah pukul delapn malam, Jean makan malam seorang diri. Dalam hati ia bertanya-tanya, ke mana suaminya itu? Kenapa belum pulang. Mana di luar hujan deras.
Mau telpon, tapi gengsi. Akhirnya ia hanya memutar-mutar ponselnya di atas meja.
Drettt Drett ...
Jantungnya hampir copot, karena melamun. Ia terkejut saat ponsel yang ia mainkan bergetar.
"Hallo," sapa Jean di telpon.
"Jean, Zio demam. Sepertinya aku nginep di rumah mama."
"Oh ...!"
"Gak apa-apa, kan?"
"Hem ...!"
"Ya sudah, aku cuma mau ngabari itu saja."
"Ya."
Tut Tut Tut
Huufffh
Jean memejamkan kedua matanya, sambil memegangi kepala.
[Mau tidur di luar? Terserah!]
Wanita itu kemudian masuk kamar, mencoba untuk tidur. Tapi malah tidak bisa memejamkan mata. Guling ke sana, guling ke sini, sudah seperti dadar guling tapi tetep tidak bisa tidur.
[Arrrghh ... RAYYANNN!]
Jean mendesis kesal, tidak bisa tidur di kamarnya ia pergi ke kamar utama. Di sana ia merebahkan tubuhnya di tengah-tengah ranjang. Merentangkan kedua tangan, menatap langit-langit kamar.
[Kenapa aku jadi tidak bisa tidur begini?]
Jean kemudian meraih guling, memeluknya. Berharap bisa terlelap dengan segera. Tanpa ia sadari, ia juga sudah kangen dengan aroma serta sentuhan suaminya itu.
***
Kediaman keluarga Wiratmaja
Zio sudah lelap tidur sambil memeluk Rayyan. Tadi sore sempat demam, mungkin karena habis main air dan hujan-hujan di tepi kolam renang. Alhasil jadi demam karena gejala flu.
__ADS_1
KLEK
Radika masuk, dilihatnya Rayyan hanya diam saja sambil bersandar pada kepala ranjang. Dengan tangan yang terus mengusap kepala Zio.
"Kamu nggak pulang? Kasian Jean sendirian."
Rayyan langsung memasang ekpresi datar.
"Tenang saja, dia tidak takut apapun!" tutur Rayyan kemudian.
Radika tersenyum tipis.
"Tetap saja dia itu wanita, Ray!"
Rayyan hanya menghela napas panjang.
"Zio sudah tidak apa-apa, dokter juga sudah memeriksanya. Kamu pulang saja."
Rayyan menatap jam Micky mouse di dinding kamar Zio. Sudah jam sebelas malam. Apa lebih baik ia pulang saja?
Tap tap tap
Elvira masuk, ia mau menemani Zio tidur.
"Pulang saja, Ray. Masa pengantin baru ditinggal-tinggal," sela Elvira. Rupanya, sang kakak ipar juga sempat menguping.
Rayyan pun beranjak, baiklah ... sepertinya ia memang harus pulang sekarang.
"Aku pulang dulu, Mas."
Radika mengangguk. Ia mengantar adiknya itu sampai ke depan. Dan setelah mengantar Rayyan, Radika kembali masuk menyusul Elvira.
"Aku rasa ada masalah dengan keduanya," ucap Radika sambil mengunci pintu kamar.
"Biasalah, Mas. Namanya juga rumah tangga. Apalagi kan pernikahan mereka masih baru banget. Butuh penyesuaian," timpal Elvira.
"Kamu benar, Vir ... apalagi Jeandana. Wanita itu hampir tidak pernah dekat dengan pria. Dia pasti butuh waktu untuk menyesuaikan diri."
Dahi Elvira mengkerut seketika, kok sepertinya Radika tahu betul tentang Jeandana. Tapi, ia berusaha positive thinking.
[Pasti tahu banyak lah, selama ini daripada aku, sepertinya ... waktu bersama Jean lebih banyak]
"Vir ... Elvira sayang!" panggil Radika karena istrinya itu malah melamun.
"Eh, iya!"
"Mikin apa? Sampai melamun begitu."
"Bukan apa-apa," jawab Elvira sambil berusaha tersenyum.
"Ya sudah, ayo tidur!"
Radika lantas pindah posisi, ia merangsek dan memilih sempit-sempitan di belakang Elvira. Tidur sambil memeluk Elvira dan calon anak.
Tangannya mengusap lembut perut Elvira yang mulai sedikit buncit.
"Kapan jadwal periksa?" padahal matanya sudah terpejam, tapi Radika terus saja mengajak bicara.
"Minggu depan."
"Ingatkan, Mas ya. Biar aku kosongkan semua jadwalnya hari itu."
__ADS_1
"Iya," jawab Elvira lirih karena sudah dikuasai rasa kantuk.
"Maaf ya, Vir ..."
Elvira langsung membuka mata, "Maaf apa?"
Kalau Radika mengucap kata maaf, belum apa-apa Elvira sudah parno. Pasti ada sesuatu.
"Maaf ... maaf karena melewatkan kehamilan pertamamu." Radika mempererat dekapannya. Menyisahkan rasa hangat untuk Elvira dan juga calon baby mereka. Sepertinya ia menyesal karena tidak ada di sisi Elvira saat hamil si kembar.
Seketika Elvira bernapas lega, hampir saja ia curiga yang bukan-bukan.
Elvira kemudian berbalik, kini keduanya saling menatap. Ada rona sendu di wajah mereka ketika ingat masa lalu.
Perlahan tangan Radika terangakat, ia sentuh wajah Elvira dengan lembut. Sepertinya ia hutang banyak maaf pada istrinya itu. Diusapnya kening Elvira, kemudian ia kecupp ... lama sekali.
[Aku bisa membayangkan, betapa hancurnya kamu dulu, Vira]
Tanpa sadar, tiba-tiba saja pipi Vira basah. Bukan dari matanya. Tapi bulir bening itu bersumber dari pria yang kini mendekapnya.
Elvira pun menarik wajahnya perlahan, tangannya ikut mengsuap pipi Radika.
"Aku yang hamil, kenapa Mas Dika yang emosional dan sensitive?"
Radika tersenyum, ia Ingat bagaimana kehamilan si kembar. Bagaimana ia harus mengalami mual muntah menggantikan Elvira.
"Itu karena aku sayang banget sama kamu."
Elvira langsung manyun, seolah mencibir. Malam-malam gombal!
"Beneran, nggak percaya?"
Elvira kembali tersenyum manis, membuat Radika gemas.
"Jangan tersenyum seperti itu kalau malam!"
Seketika Vira menelan ludah. Ia langsung berbalik. Namun, sangat terlambat. Karena pria itu langsung merampas bibir ranumm Elvira.
[Maaf, Sayang. Bukannya apa-apa. Kamu diam saja sudah sangat menggoda. Apalagi tersenyum manis seperti sekarang?]
"Pindah ke kamar kita bentar, ya?" bisik Radika saat tautan bibir mereka lepas.
Seperti kelinci imut, Elvira mengangguk pelan. Malam ini, papa mau berkunjung ke gua. Biar tidak terlalu horor. Sekalian silaturohim pada si kecil. Butuh disiram agar cepat besar.
***
Saat Radika mau melakukan kunjungan dengan semangat 45, ada hati lain yang sedang kosong pikirannya. Hingga ia mengemudi tidak hati-hati. Hampir saja menerobos lampu merah karena tidak fokus di jalan.
Rayyan berhenti sejenak, ia menepi untuk menyejukkan pikiran. Dilihatnya ada mini market, ia berhenti sejenak. Kemudian membeli minuman. Setelah sudah rileks, ia kembali mengemudi. Lebih hati-hati daripada sebelumnya.
Pukul dua belas malam, Rayyan sudah sampai di rumah. Pria itu masuk dengan langkah gontai. Dengan malas-malasan, membuka pintu kamarnya.
Rayyan tidak fokus pada gundukan di atas ranjangnya, mungkin ia pikir hanya guling. Namun, saat balik dari kamar mandi, barulah ia terkejut.
"Jean?" ucap Rayyan lirih.
Bibirnya langsung merekah. Wajahnya jadi sumringah.
[Astaga! Kamu kangen aku ya?]
Tidak mau buang-buang waktu, Rayyan langsung masuk dalam selimut.
__ADS_1
Bersambung.