Suami Satu Malam

Suami Satu Malam
EL HOTEL


__ADS_3

Suami Satu Malam Bagian 24


Oleh Sept


Rate 18 +


"Dika serius!" Radika memegang kedua pundak mama Sarah. Dan mata keduanya pun saling bertemu.


"Kamu serius, Dika? Kamu serius dengan apa yang kamu ucapan? K-kamu mau menikahi Elvira, mantan adik iparmu? Ka-kamu sembuh?"


Terlalu banyak pertanyaan yang dilontarkan oleh mama Sarah, hingga Radika menghela napas dengan kesal.


"Ya! Sebentar lagi Vira akan jadi menantu Mama lagi. Dan Dika tidak sakit!"


"Maaaa!" teriak Radika saat melihat mamanya mau jatuh pingsan. Mungkin wanita itu terlalu terkejut. Kedatangan Radika membawa kejutan yang tidak terkira.


***


Malam harinya


Semua duduk di meja makan yang sama, semua personil lengkap, minus Rayyan. Pria itu sepertinya lembur sampai malam. Entah lembur di kantor atau lembur di tempat lain, kurang jelas. Karena bila pulang telat selalu bilang lembur. Padahal, ia selalu pulang paling awal.


"Papa seneng melihat kamu kembali," Papa Wira menatap putranya lekat-lekat. Seolah tidak percaya dengan apa yang ia lihat.


"Mama tadi saja hampir dibuat pingsan, Pa!" sela mama Sarah dengan antusias.


"Maaf, membuat kalian khawatir."


"Jangan menghilang lagi, kamu tidak tahu bagaimana hati Mama," ucap mama Lina dengan nada sendu.


"Maaf, Ma. Lagian selama Dika pergi, bukankah masih ada Rayyan."


"Ish ... adikmu itu, selalu membuat kekacauan."


"Kenapa lagi?" tanya Radika seolah penasaran, padahal ia sudah tahu semuanya.


"Eriska hamil!"


"Baguslah!" timpalnya singkat.


"Dika!!!" pekik mama Sarah marah.


Tap tap tap


Ketika ada yang datang, mereka langsung diam. Karena yang barusan digibahin telah memasuki ruangan. Tanpa menoleh, tanpa menyapa, Rayyan langsung saja naik tangga. Ia bergegas ke kamarnya. Kepalanya terasa pusing.


"Ray!" panggil mama Sarah.


"Nanti, Ma. Kepala Rayyan pusing!"


Tap tap tap


Pria itu menjawab panggilan sang mama tanpa menoleh. Langsung saja melangkah, tanpa tahu bahwa kakaknya ada di sana.


"Ray!! Kamu tidak mau menyapa kakakmu?" teriak mama Sarah sekali lagi.


[Kakak?]

__ADS_1


[Apa si cupu yang menjengkelkan itu sudah kembali? Ish!]


"Rayyan lelah, Ma!" ucapnya sambil menoleh. Namun, matanya seolah mau melompat dari wadahnya. Tak kala melihat sosok yang sangat berbeda. Mana Mr. Cupu, culun punya yang selalu ia candai dengan Eriska. Tunggu! Apa kakaknya sudah bertransformasi menjadi power ranger atau ultramenn tiga? Kenapa menjadi sangat keren dan terlihat gagah?


"Dika?" Ia menoleh lagi, kemudian memperhatikan dengan jeli.


"Panggil yang sopan!" cibir Radika yang berdiri dengan tegap sambil mengusap pakaiannya yang sedikit kusut karena duduk.


[Dia kembali!]


[Dia sudah kembali, haruskah aku senang? Haruskah aku ucapkan selamat datang? Sialll]


"Mas Dika, apa kabar? Kau sudah sembuh?"


"Aku baik-baik saja, sangat baik-baik saja. Bagaimana dengan kekasihmu?"


Keduanya malah saling melempar tatapan aneh. Seolah ada perang dingin yang sedang berlangsung.


"Baik! Sangat baik!" jawab Rayyan dingin.


"Bagus! Aku tidak akan mengundangnya dalam acara pernikahan ku nanti. Tapi, jika kamu memaksa dia untuk melihat pernikahanku, akan ku siapkan kursi khusus!"


[Menikah? Akan menikah dengan siapa dia? Apa selama ini dia memiliki hubungan serius dengan seorang wanita?]


Rayyan bertanya-tanya dalam hati, siapa calon kakak iparnya.


"Kita keluarga bukan? Aku pasti akan mengajaknya datang di acara penting Mas Dika!" ujar Rayyan berakting peduli.


"Dika ... biarkan Rayyan mandi dulu. Nanti teruskan bicaranya!" Mama Sarah meraih lengan Radika, memintanya duduk bersebelahan. Melihat hal itu, wajah Rayyan makin mengeras.


Pria itu kemudian melanjutkan langkahnya. Menuju kamar dan membersihkan diri. Namun, ia sangat penasaran, akan menikah dengan siapa Radika itu? Mengapa ia mendadak kepo. Sialll!


***


Rayyan sudah wangi, sudah cakep, sudah sedap dipandang. Pria itu kemudian duduk di sofa warna hitam di sebelah mama Sarah.


"Mana Mas Dika?"


Giliran Radika terlihat normal ia mau memanggil dengan lebih sopan. Padahal sebelumnya hanya panggil nama saja.


"Di kamar, sepertinya lagi telpon."


"Calon istrinya?" tebak Rayyan.


"Em ... sepertinya." Mama Sarah nampak tidak enak sendiri.


"Mama tahu siapa calon istrinya?" Lama-lama rasa penasaran itu tumbuh semakin subur jua.


"Iya, tahu."


"Siapa?"


"Itu ... nanti. Biar Dika yang bilang."


"Ish!"


KLEK

__ADS_1


Keduanya menoleh ke belakang saat melihat Radika yang bersiap. Sepertinya mau keluar.


"Sayang, mau ke mana?" Mama Sarah tidak mau anaknya pergi-pergi lagi.


"Jemput calon mantu Mama."


"Aduh!" Mama Sarah tambah gelisah.


Sedangkan Rayyan, ia tersenyum remeh.


"Dika pergi dulu, Ma. Kalau dia nggak mau ke sini, biar kita jalan aja. Mama jangan nungguin."


Rayyan tambah remeh senyumnya.


Cup


Radika mengecup pipi sang mama, tanpa menoleh pada Rayyan, pria itu pergi meninggalkan ruangan.


***


Kediaman orang tua Elvira


"Astagaaa! Kenapa lagi dia ke sini?" Vira ketar-ketir saat papanya memanggil. Katanya Radika datang.


KLEK


"Iya, Pa."


Dengan lesu Elvira membuka pintu.


"Jangan pulang malam-malam!"


"Hah?"


Elvira mendongak tidak mengerti.


"Dia ijin sama Papa mau ajak kamu keluar. Ingat jangan malam-malam, atau nggak usah pulang sekalian!" ancam tuan Pram.


"Iya, Pa." Elvira nampak pasrah.


***


Beberapa saat kemudian, Radika sudah berhasil menawan Elvira dalam mobilnya. Wajah Elvira seperti cucian kusut yang belum disetrika. Sedangkan Radika, ia begitu sumringah.


"Kita mau ke mana? Aku tuh capek! Mau istirahat!" ketus Elvira.


"Oh ... mau istirahat? Ya sudah. Kita cari tempat istirahat!" komentar Radika dengan nada enteng.


Mobil pun melaju dengan mulus, pelan namun pasti. Akhirnya mereka sampai di depan sebuah tempat.


El Hotel International


"Kita sudah sampai!"


KLEK


Radika membuka pintu di sebelahnya, kemudian turun dan membuka pintu untuk Elvira.

__ADS_1


"Ayo turun, katanya mau istirahat, kan?"


Elvira sampai tidak bisa berkata-kata, bisa-bisanya ia malah dibawah ke hotel. Ya ampun. Bersambung.


__ADS_2