
Suami Satu Malam 110
Oleh Sept
Rate 18 +
Bukannya pesta, makan-makan, seneng-seneng, Jean malah makan hati. Malam itu Jean begitu kesal melihat suaminya memegang wanita lain. Meskipun ia tahu, Eriska sang mantan istri suaminya itu hampir jatuh. Tetep saja, hatinya tidak terima. Jean hanya merasa kesal, rasa sakit yang datang tiba-tiba. Benar apa kata orang, cemburu menguras hati.
"Jangan cemburu pada Eriska, dia hanya bagian dari masa lalu. Namanya pun sudah lama aku hapus."
Rayyan terus saja merayu, biar Jean tidah marah-marah. Sayang, Jean sedang mode sensi. Jadi, sepertinya Rayyan butuh usaha lebih keras lagi.
"Lepasin!" seru Jeandana dingin.
"Oke ... aku lepasin. Kita selesaikan di rumah!" Rayyan pun melepaskan pelukannya. Tangannya sudah bersiap menggandeng tangan Jean lagi.
Tapi, ia sedikit terkejut saat Jean menepisnya. Wanita itu kembali melangkah, meninggalkan dirinya.
"Jean! JEANNN!" teriak Rayyan.
Keduanya sama-sama melangkah cepat, dan begitu ada taksi di luar sana, dengan bergegas Jean masuk dan menutup pintunya cukup keras.
BRUAKKK
"Jalan, Pak!" ujar Jean pada driver.
"Mau ke mana, Bu?"
"Sudah! Jalan aja dulu!"
Tok tok tok!
"JEAN!" Rayyan mencoba mengetuk kaca mobil. Namun, Jean yang sedang mode marah, enggan membuka pintu mobil untuk suaminya itu.
"Ayo, Pak! Jalan!" titah Jean karena mobil masih saja berhenti.
"Baik, Bu!"
WUSHHHH
Akhirnya mobil itu melaju meninggalkan Rayyan yang berdiri di tepi jalan. Kesal, Rayyan menendang batu kecil di depannya. Sambil berkacak pinggang, ia menghela napas dalam-dalam.
"Jeannnn!"
Rayyan pun kembali masuk ke dalam, ia bergegas mengambil mobil dan menyusul Jeandana pulang. Ia sangat yakin istrinya pasti pulang ke rumah. Ini karena ada Azzam yang sudah menunggunya.
Rayyan merasa beruntung, anak adalah penggikat kuat keduanya. Semarah-marahnya Jean, wanita itu tidak pernah meninggalkan rumah. Paling juga disuruh tidur di kamar tamu.
Pria yang kini sudah duduk di balik kemudi itu pun menghubungi rumah. Bibi yang menjawab. Ia berpesan, kalau Jean sampai di rumah, agar menghubungi dirinya.
Selang beberapa puluh menitan. Akhirnya ia sampai di rumah. dilihatnya rumah sangat sepi. Mungkin sang papa mertua sudah tidur. Sudah tua, Pak Perwira jarang bergadang seperti beberapa tahun silam.
Dengan hati yang lah karena kejar-kejaran dengan Jeandana, akhirnya ia sampai rumah. Dibuka pintu kamar perlahan-lahan.
KLEK
Rayyan harus menelan pil pahit. Kamarnya kosong, sedangkan kata bibi Jean sudah pulang.
__ADS_1
Setelah ganti baju piyama, pria itu pun pergi ke kamar Azzam. Kamar putranya itu menjadi satu-satunya tempat bersembunyi Jean darinya kalau marah.
KLEK
Bibirnya mengulas senyum dilihatnya Jean tidur sambil memeluk tubuh sang putra. Rayyan tahu, Jean belum tidur. Istrinya itu pasti hanya sedang pura-pura.
Dengan perhatian, ia selimuti Azzam.. Kemudian menculik maminya dari kamar sang putra.
"Jangan bersuara ... nanti Azzam bangun!" bisik Rayyan ketika membopong tubuh istrinya dengan paksa.
[Ish ... selalu begini!]
Jean mengerutu dalam hati.
Rayyan lantas membawa ibu hamil itu ke kamar utama. Kamar mereka yang selama ini menjadi saksi bisu di mana mereka menghabiskan malam-malam bersama.
Bukkkkk
Perlahan Ray meletakkan tubuh Jean di atas ranjangg. Diamatinya Jean yang enggan membuka mata.
"Aku tahu kamu nggak tidur."
[Kalau sudah tahu, jangan ganggu aku!]
Jean masih saja dongkol.
"Tidak apa-apa kalau kamu nggak mau melihatku. Tapi, biarkan aku dekat denganmu. Jangan jauh-jauh dari Papi, ya .."
[Pretttttttt!]
Jean selalu menjawab ucapan Rayyan. Ia sejak tadi menimpali kata-kata suaminya. Namun, sekedar dalam hati semata.
[Gombal mukiyo! Dasar Playboy cap badak!]
"Jean ... lihat aku dong!" pinta Rayyan yang lama-lama lelah mengoceh sendirian.
Dilihatnya ddadaa Jean yang naik turun dengan teratur. Ia jadi penasaran, Jean ini pura-pura tidur atau memang tidur beneran? Penasaran, Rayyan mencoba testing.
Pria itu menurunkan wajahnya, perlahan hingga ia merasakan hembusan napas Jean yang hangat. Mungkin, Jean juga merasakan hal yang sama. Karena wajah keduanya sangat dekat.
[Dasar mesummmmm! Kamu mau melakukan apa?]
Jean mencoba tetap menutup mata.
[RAYYANNN!]
Jean teriak kencang, sebuah teriakan yang tertahan di dalam tenggorokan. Ia kesal karena Rayyan malah menempelkan bibirnya.
"Aku tahu kamu nggak tidur, sayang!"
Cup ...
Lidahnya memaksa menerobos masuk, meski sulit, Rayyan terus saja mendesak. Tidak mau Jean berlarut-larut marah padanya. Dengan keahliannya membuai Jeandana selama ini, akhirnya Rayyan keluarkan jurusnya satu persatu.
[Ishhh ... RAIII!]
Jean makin kesal saat tangan Rayyan langsung masuk bajunya.
__ADS_1
[Dasar pria meesummm!]
Kalau sudah begini, tubuh Jean tidak bersahabat. Tidak berkutik, tidak sinkron dengan isi kepala Jean. Wanita itu mengeliat sesuai mau Rayyan. Mana tahan bila tanggan suaminya sudah meremass-rmas bukit barisan.
"Kita lihat, sejauh mana kamu bisa bertahan?" gumam Rayyan dengan seringai bagai srigala kelaparan.
[Plisssss, hentikan!]
Jean makin tak berkutik ketika Rayyan mulai dari bawah. Jean paling tidak bisa bila disentuh pusat intinya. Apalagi ia sedang hamil, tanpa sadar, bibirnya malah mendesis. Ya .... gagal deh. Pertahanan Jean roboh saat mulutnya mengumpat dan mendesaaahh secara bergantian.
"Ishhhhh ..."
Rayyan tersenyum penuh kemenangan. Dengan santai ia lepas kancing piyama miliknya satu persatu. Sambil matanya terus mengamati Jean yang sudah ada dalam kuasanya.
"Kalau kamu marah-marah seperti ini, maka akhirnya akan begini ... Ayo buka matamu ... apa perlu aku matikan lampunya seperti biasa?"
Blakkkkk
Jean langsung membuka Mata seketika itu juga. Ia menatap tajam ke arah Rayyan. Dengan napas yang sudah memburu tentunya. Buaian Rayyan sesaat lalu, sudah membuat Jean kocar-kacir.
Apalagi kini dilihatnya sang suami tinggal pakai bawahan. Atasannya sudah melayang entah ke mana.
"Anak Papi sepertinya mau dijenguk ... jadi, jangan galak-galak."
Bibir Jean seketika mengerucut.
Gemas, Rayyan malah langsung merampasnya.
"Jangan marah ... kalau marah, aku malah ingin memakanmu!"
"Aku ngantuk!"
"Iya, habis ini kita langsung tidur kok."
Mata Jean langsung mendelik.
Apalagi Jean tanpa beban berarti langsung melepas semua pakaiannya.
"Astaga!" Jean tahu, sekeras apapun ia menghindar, kalau baju Rayyan sudah hilang semua. Maka ia pasti akan berakhir malam ini.
Tuh, terong kukus sudah mulai menunjuk aksinya. Bukannya mengantung dengan hormat. Kini ia seolah menantang Jean dengan berani.
[Dasar mesummmmm. Istri marah sempat-sempatnya ON!]
Jean semakin mengerutu. Apalagi Rayyan semakin mendekat. Hingga tubuh keduanya benar-benar tidak ada dinding pemisah. Wanita itu bisa merasakan sesuatu yang keras tersebut.
Cup
Rayyan mulai menciiumi wajah Jeandana. Semua ia absen seperti biasa. Hingga masuk pada bagian bibir. Jean masih saja jual mahal, padahal Rayyan sudah obral dan diskon gede-gedean.
Lihat, bahkan ia sudah menanggalkan semuanya. Rayyan sudah tidak memiliki apa-apa lagi. Yang tersisa hanya miniature roket yang siap meluncur.
"Eh!"
Pekik Jean. Bersambung.
Instagrammm : Sept_September2020
__ADS_1