Suami Satu Malam

Suami Satu Malam
CURIGA


__ADS_3

Suami Satu Malam 76


Oleh Sept


Rate 18 +


"Loh? Kalian katanya mau menginap di rumah kakek sama nenek?"


Turun dari mobil, mama Sarah heran si kembar juga baru keluar dari mobil yang berbeda.


Mereka berdua sama-sama baru sampai rumah keluarga Wiratmaja.


"Papiiii!" Zio langsung menghampiri Rayyan yang baru turun juga.


Hamppp


Rayyan yang hatinya sedang bagus, moodnya sangat bagus sekali, langsung memutar Zio ke atas berkali-kali. Hingga anak itu terkekeh dan tertawa lepas. Namun, tidak dengan Zia. Anak gadis itu kelihatan ketakutan.


"Zia, sini sayang!" Rayyan memanggil keponakan yang cantik itu, tapi Zia tidak mau merapat. Anak itu malah ingin menangis.


"Ya ampun, apa yang terjadi?" Mama Sarah mendekati Radika. Memeriksa wajah putranya yang babak belur.


"Kalian habis dirampok dijalan? Dibegal preman?" Rayyan ikut penasaran.


"Vir!" panggil Rayyan karena pasurti itu hanya diam.


Sedangkan Radika, pria dengan wajah lebam tersebut langsung masuk rumah. Ia bergegas menuju kamar lamanya.


"Vir! Katakan sama Mama? Apa yang terjadi?" Mama Sarah memegangi tangan Elvira. Dan akhirnya mama si kembar itu cerita apa yang sudah terjadi.


"Maafin adik Vira, Ma. Mungkin Andra terlalu emosi dan hilang kendali. Belum selesai kami jelaskan, Kalandra sudah menghajar Mas Dika habis-habisan," terang Elvira dengan perasaan tak enak.


Bagaimana pun juga Andra adiknya, dan Radika suaminya. Ia ingin keduanya damai, bukannya bertengkar setiap berjumpa.


Mama Sarah lantas membuang napas panjang, "Tidak sepenuhnya salah adikmu, Vir. Pasti mereka salah paham. Nanti Mama bantu jelaskan sama keluarga di sana."


"Makasih, Ma."


"Ya sudah. Kamu obati dulu luka Dika."


"Baik, Ma."


"Zia, sini sama Oma!"


Dipanggil omanya, Zia baru nurut. Anak itu masih takut, sebab Andra menghajar papanya tepat di depan anak-anak.


Keluarga besar Elvira sangat marah dan kecewa atas hilangnya Radika, kemudian muncul lagi begitu saja. Seolah menganggap hidup Elvira bagai mainan.


Mereka sempat bersitegang, hingga tuan Pramana dan Kalandra meminta Elvira tetap tinggal bersama mereka, akan tetapi, melihat suaminya sudah babak belur tanpa melawan, Elvira memilih ikut Radika. Bagaimana pun juga, dia adalah istri Radika. Mungkin keluarganya saat ini salah paham, sambil menunggu kemarahan mereka mereda pada Radika, Vira akan tetap ikut suaminya itu. Baru ketemu masa pisah lagi, rindur itu berat kata Dilan.


***


Di dalam kamar, sebuah kamar yang tetap rapi meski jarang ditempati. Masih sama, semua tata letak, furniture semuanya masih sama seperti sebelumnya. Tidak ada yang berubah.

__ADS_1


Elvira masuk sambil membawa kotak P3K yang ia dapat dari Bibi. Ia mau mengobati luka di wajah dan tubuh suaminya.


Saat ia masuk, Radika sedang di kamar mandi. Sepertinya pria itu sedang membasuh wajahnya. Benar dugaan Elvira, sebab beberapa saat kemudian, Radika muncul dengan wajah yang masih basah.


"Duduk sini! Biar aku obati."


"it's okay! Mas tidak apa-apa."


"Tidak apa-apa bagaimana? Lihat ...!" Elvira tidak bisa melanjutkan kata-katanya. Ia malah sibuk mengusap pipinya yang sudah basah.


"Ini hanya luka kecil! Ayolah ... kenapa menangis?"


Elvira yang sedang hamil, memang sangat sensitive akhir-akhir ini. Apa-apa dimasukin ke hati. Melihat wajah suaminya yang memar, ia pun sedihnya minta ampun.


"Harusnya Mas jangan diam, setidaknya menghindar saja!" ujar Elvira dengan suara serak.


"Kamu kaya nggak tau karakter Andra, kalau Mas menghindar ia malah semakin emosi. Biarlah! Lagian Mas yang salah. Selalu pergi ninggalin kalian."


"Tetap saja! Jangan pernah mau dipukul!" ketus Elvira. Namun, sambil menangis.


"Ish!"


Radika pun meraih tubuh Elvira, kemudian menenangkan istrinya itu.


"Ini tidak seberapa, Vira ... tidak sebanding luka di hatiku yang selama ini harus menahan rindu."


"Tolong jangan gombal! Aku serius, Mas. Aku bolehkan Mas hajar balik Andra kalau dia memukul Mas lagi!" ucap Elvira masih sambil menangis.


Radika lalu terkekeh.


"Aduhhhh!" Radika meringis. Ia mengadu sakit karena Elvira mencubit kecil pinggangnya.


Radika kemudian melepaskan pelukan mereka, meski bibirnya terluka, Radika masih saja sempat-sempatnya nyosor duluan.


Settt


"Pintunya nggak dikunci!" baru beberapa sesapan, Elvira menarik wajahnya. Takut si kembar melihat.


Dengan cepat, Radika menuju pintu. Pria itu mengunci pintunya sebelum anak-anak datang menciduk mereka.


"Mas Dika mau apa?"


"Eh!" Elvira panik saat tubuhnya langsung dibopong seperti pengantin baru, ala-ala bride style.


Pria itu kemudian berbisik, dan mengambil remote. Seketika kamar menjadi gelap. Semua tirai tertutup hanya dengan satu tombol.


***


Malam Hari


Saat makan malam, Rayyan menatap aneh pada kakaknya. Tadi siang terlihat masam, sekarang wajahnya sudah berubah sumringah. Dari tadi tersenyum, pokoknya kelihatan happy meski wajahnya penuh handsaplas.


[Cepat sekali moodnya berubah]

__ADS_1


"Ray! Kenapa kau menatapku seperti itu! Nanti matamu bisa copot!" ledek Radika yang sudah tahu sejak tadi Rayyan memperhatikan dirinya.


"Ish!"


Mama Sarah hanya tersenyum, ia senang sekarang anak-anaknya terlihat rukun dan bisa hidup damai.


"Oh ya, Dika. Mama tadi habis ketemu sama keluarga ...siapa itu ... asisten kamu."


Radika menatap mama Sarah.


[Untuk apa mereka bertemu Jeandana]


Alis Radika mengkerut.


"Ada apa kalian bertemu Jean?" tanya Radika kemudian.


Rayyan kelihatan salting, pria itu mau menjelaskan, tapi kedahuluan sang mama.


"Tadi siang sudah lamaran, meski gak resmi, sih. Pokoke adikmu akan melepas masa dudanya." Mama Sarah terlihat sangat senang.


"Jean dan Rayyan?"


Radika menatap adiknya lekat-lekat.


Sedangkan Rayyan, ia malah pura-pura makan.


"Sejak kapan mereka memiliki hubungan?" Radika semakin curiga.


"Cinta bisa datang kapan saja! Itu nggak penting. Yang penting bagi Mama, adikmu gak sibuk main sama Gundam! Sudah, waktunya serius berkomintmen. Sudah tambah usia juga. Mau kapan jadi duda? Kamu saja mau punya anak ke tiga, kan? Adikmu satu aja belom. Mama kadang malu, dikira punya anak nggak laku kalau arisan ngumpul sama temen. Gara-gara jadi duda dua kali, katanya Rayyan kena kutukan. Heran itu Ibu-ibu arisan teman Mama itu, kalau ngomong kadang Mama pikir selalu bener, sih," Mama Sarah terus saja bicara, tanpa peduli wajah Rayyan yang sudah merah.


Kenapa semua bernegative thinking pada status dudanya? Rayyan jadi kesal sendiri. Banyak stempel buruk dicap pada dirinya. Jujur, dia kan merasa tidak buruk-buruk amat. Pekerjaan mapan, uang tidak akan pernah kurang. Jabatan? Dia seorang CEO terkenal, tampang? Nicholas saputraa lewat! Semua hampir sempurna. Dia hanya punya satu kelemahan, satu-satunya kelemahan Rayyan adalah selalu gagal dalam persoalan cinta.


Ketika Rayyan harus bete karena mendengar komentar miring tetang statusnya. Beda lagi dengan Radika, ia kini memikirkan sesuatu. Merasa curiga kenapa tiba-tiba Jeandana mendekati adiknya.


[Ada yang tidak beres]


***


Esok harinya


Saat Elvira sudah turun ke lantai bawah, Radika diam-diam menghubungi nomor Jeandana.


"Jean!" sapa Radika di ujung telpon.


[Aduh ... bagaimana ini]


Jean gelisah mengangkat telpon dari bosnya itu.


"Iya, Tuan."


"Temui aku di tempat biasa."


"Baik."

__ADS_1


Tut Tut Tut


Bersambung.


__ADS_2