Suami Satu Malam

Suami Satu Malam
Duda Berumur


__ADS_3

Suami Satu Malam 109


Oleh Sept


Rate 18 +


[Aduhhhh ... kenapa harus dia yang jadi istrinya? Ish ... Jean kan sensitive sekali tentang apapun mengenai dirinya. Aku harap kamu tidak terpengaruh, Jean!]


Bibir Rayyan hanya bisa komat-kamit, berdoa dalam hati. Semoga Jeandana, istrinya itu tidak merajuk dan kembali baper.


Pertemuan istri dan mantan istri memang sepertinya sesuatu yang harus dihindari. Percaya atau tidak, setelah pertemuan itu berakhir, pasti menimbulkan percik api. Entah api cemburu, api amarah atau api-api yang lain.


"Perkenalkan, Ray ... ini istri saya. Eriska Kazoe."


Suami baru Eriska memperkenalkan istrinya itu pada rekan bisnisnya. Ia dengan bangga menunjukkan istrinya yang cantik jelita. Ya, memang Eriska terlihat jauh berbeda. Lain saat mereka bertemu beberapa tahun silam.


"Eris," Eriska mengulurkan tangan, hendak menyapa Jean.


Hati Rayyan mulai ketar-ketir. Saat melihat Jean yang lama sekali tidak membalas uluran tangan sang mantan.


[Pasti marah nanti kalau di rumah! Kenapa aku tidak selidik dulu. Mana aku tahu dia sekarang menikah lagi? Aduhhhh ... sialll!]


"Jean!" Wanita itu menyebut namanya, kemudian melingkarkan lengannya pada tangan Rayyan. Seolah pertanda, jangan ganggu-ganggu suaminya. Kan sudah sama-sama punya suami.


Melihat sikap Jean yang sepertinya dingin padanya, Eriska hanya tersenyum tipis. Ia balas sikap possessive Jean dengan mengengam tangan suami barunya.


Sudah tua sih, malah cocok jadi bapak atau omnya. Mau bagaimana lagi, asal sayang padanya dan juga putri semata wayangnya. Tua-tua sedikit pun tak apa. Anggap saja sugars daddy.


Daripada suami keduanya, Gio sangat kejam. Ringan tangan dan mudah sekali tersulut amarah bila ia melakukan satu kesalahan yang tidak seberapa.


Untung ada Tommy Adam. Pria yang 20 tahun lebih tua dari pada dirinya. Tapi tajir, mapan, kaya raya. Eriska tidak perlu khawatir dengan masa tuanya. Apalagi pria itu juga masih terlihat gagah. Masih bisalah semalam satu ronde.


Tanpa sadar, bibir Eriska tersenyum getir. Dan Jean melihatnya. Mungkin benar-benar sensi. Jean merasa Eriska sedang mengejek dirinya.


"SAYANG, aku mau ke kamar kecil dulu!" ucap Jean, dengan menekan keras kata sayang agar Eriska dapat mendengarnya.


Rayyan mengangguk, kemudian kembali berbincang dengan Tuan Tommy Adam, si juragan batu bara yang menguasai ekspor-impor di negeri ini. Mantan Duda berumur, tapi tajir.


"Honey, kamu temani Tuan Rayyan sebentar. Aku akan menyapa beberapa tamu kita di sana."

__ADS_1


Eriska mengangguk, kemudian meraih segelas minuman yang ada di sebelahnya.


"Bagaimana kabarmu?" Eriska membuka suara.


"Seperti yang kau lihat. Aku sangat baik-baik saja."


Eriska seperti bingung mau bicara apa. Kemudian ia mendapat ide untuk bahan pembicaraan.


"Waktu itu ... terima kasih banyak. Aku dengar dari petugas keamanan, kalian langsung melapor. Hingga Gio langsung bisa dikejar dan tertangkap."


"Oh ... itu. Sama-sama."


"Dan ... Maaf Rey ... Maaf sudah mengecewakanmu."


"Jangan pikirkan lagi. Aku lihat Tuan Tommy Adam juga sayang padamu. Jadi ... mari lupakan masa lalu."


"Thanks, Ray. Kamu memang pria terbaik yang pernah aku kenal."


Rayyan hanya mengangguk, tidak mau lama-lama mengobrol berdua dan membuat istrinya salah paham. Rayyan pun pamit.


"Aku ke sana dulu, Ris. Mau menyapa yang lain."


Settttt


Reflect Rayyan menangkap mantan istrinya itu. Ia rengkuh pinggang langsing Eriska bak gitar Spanyol tersebut.


"Hati-hati!" seru Rayyan.


Mendengar suara Rayyan lagi, apalagi pria itu bersikap hangat dan memintanya untuk hati-hati, tiba-tiba mata Eriska terasa perih. Barang kali ia menyesal sudah menghianati Rayyan.


"Terima kasih," ucap Eriska sambil menundukkan wajah.


Drettt Drett ....


Rayyan langsung merogoh saku, dilihatnya ada pesan singkat. Matanya langsung mau keluar saat membaca pesan singkat tersebut.


Ting


[Aku pulang naik taksi. Nggak usah pulang malam ini. Reuni aja sama mantan kamu itu!

__ADS_1


Rayyan auto panik.


Settttt ...


Pria itu bergegas keluar mencari keberadaan Jean.


Tap tap tap


Rayyan seperti mengejar pencuri, ia berlari melihat sana sini. Namun, bayang-bayang Jeandana tidak ia temui.


Tut Tut Tut


Sambil terus berlari kecil, ia mencoba menelpon istrinya tersebut.


[Angkat sayang!]


[Jean! Angkat dong!]


Lobby DE' LUNA HOTEL


Setelah keluar dari lift, akhirnya Rayyan bisa bernapas lega. Dilihatnya Jean berjalan di lobby. Perlahan ia dekati wanita paling cantik bagi Rayyan tersebut.


"BERHENTI!" seru Rayyan dengan suara lancang dan terdengar berat.


Marah, kesal, sebal, benci, cemburu karena melihat Rayyan menyentuh atau bahkan hampir memeluk tubuh Eriska di dalam tadu, Jean pun mempercet jalannya.


"Aku bilang berhenti!"


Jean seolah tidak peduli, ia terus melangkah meninggalkan Rayyan. Ia masih sangat merasa kesal dan dongkol.


Rayyan pun mempercet langkah kakinya, begitu jarak mereka sudah sangat dekat. Rayyan langsung memeluk Jean dari belakang.


Bersambung.


Dimaafkan nggak? Apa langsung disikut sama Jeandana?



__ADS_1



__ADS_2