
Suami Satu Malam 87
Oleh Sept
Rate 18 +
"Jean! Jeannn!" panggil Rayyan.
BRUAKKK
Kesal karena Rayyan bertanya sesuatu yang menurut Jean tidak enak didengar. Wanita itu langsung keluar kamar. Membanting pintu cukup keras. Jean kini sedang marah, ia memilih tidur di kamar sebelah.
"Ish .... Jeannnn!"
Rayyan berdiri menatap pintu yang sudah dikunci dari dalam. Ia kemudian tersenyum kecut. Gara-gara pertanyaan tadi, sepertinya ia harus puasa malam ini.
Tok tok tok
"Jean! Buka pintunya!"
Jeandana menarik selimut, memakai bantal untuk menutupi telinganya. Biarlah Rayyan menunggu di luar kamar, salah sendiri pakai tanya macan-macam.
***
Pagi Hari
Kebetulan lagi weekend, Rayyan pun masih cuti. Mungkin lusa ia baru kembali ke rutinitas seperti biasa. Pria itu sejak tadi menunggu Jean keluar dari kamarnya. Namun, istrinya itu tidak nampak batang hidungnya.
"Apa masih tidur, Jean?" gumamnya.
Bosan juga, berdua di dalam rumah sebesar itu tapi seperti tinggal sendirian. Penasaran, ia pun kembali mengetuk pintu kamar Jean.
"Jean! Sudah pagi ...!"
"Jeandana ... buka dong!"
"Oke ... aku salah. Aku minta maaf ... Jean!"
"Huufffh!"
Rayyan berbalik, sepertinya istrinya sedang marah beneran padanya sekarang.
Ting Tung
[Siapa pagi-pagi sudah bertamu?]
Dengan malas-malasan, Rayyan membuka pintu rumahnya.
KLEK
[Jangan bilang Jean yang sudah menelponnya!]
"Pa ... pagi sekali?" Rayyan mencoba memaksa bibirnya untuk tersenyum dalam rangka menyambut papa mertua.
__ADS_1
Pak Perwira langsung saja masuk tanpa disuruh, diikuti ajudan yang setia menemani dari belakang.
"Mana Jean?" tanya Pak Perwira sambil duduk.
"Ada, Pa ... bentar. Rayyan panggilin."
Buru-buru pria itu berjalan dengan cepat. Begitu sampai di depan kamar, tangan Rayyan sudah diangkat, siap mengetuk pintu. Namun, pintu keburu kebuka sebelum ia menyentuh papan kayu tersebut.
Jean muncul, bibirnya manyun. Ekspresinya begitu kesal. Tapi aneh, terlihat sangat manis di mata Rayyan.
"Ada Papa."
"Uda tahu!" Jean langsung nyelonong, melewati suaminya.
Settttt
Takut Jean mengadu macan-macam sama papanya, Rayyan menarik tangan Jendana. Ia menyudutkan tubuh Jean hingga menyentuh pintu.
"Kenapa papa datang? Kamu telpon, ya?" Rayyan curiga.
Sedangkan Jean, wanita itu enggan menjawab, ia malah memalingkan muka.
"Jean!" Rayyan terlihat menahan napas. Ia kesal karena Jean pakai acara ngambek segala. Sudah besar masa merajuk. Ia kemudian semakin mempererat tangannya. Memaksa Jean untuk segera menjawab.
"Bukan! Memang Papa telpon tanya alamat, mau lihat aku aja!" jawab Jean ikut kesal.
"Benarkah?"
"Hem!"
"Jangan ngadu sama papa, ya!"
Jean menoleh, "Lihat nanti!"
Gemas dengan sikap istrinya, Rayyan kemudian merengkuh saja pinggang Jean. Menempelkan bibirnya dengan paksa. Biar Jean tidak merajuk lagi. Apa berhasil? Tentu saja!
[Dasar pria mesumm!]
Settt
"Nanti papa lihat!" Perlahan Jean mendorong dadaa bidang yang kotak-kotak tersebut.
Jean langsung pergi, tadi sempat kesal. Tapi, setelah Rayyan tiba-tiba menciiumnya, rasa kesalnya mendadak luntur.
Tap tap tap
"Paaaa!"
Jean langsung duduk di samping papanya.
"Lagi apa? Lama sekali?" tanya Pak Perwira curiga.
Jean melirik suaminya yang muncul dari dalam rumah.
__ADS_1
"Oh ... itu, habis mandi, Pa!" Jean mencari alasan.
"Bentar ya, Jean buatin minuman dulu."
"Nggak usah! Papa cuma mau mampir sebelum berangkat ke Aceh. Papa cuma mau lihat kabar kamu setelah menikah."
Pak Perwira mengusap kepala Jean yang kini bersandar pada pundaknya.
"Jean baik-baik aja, Pa. Papa nggak usah khawatir."
"Syukurlah, tadinya Papa sempat cemas."
"Cemas kenapa?"
"Barangkali Rayyan macan-macam!"
Rayyan yang mendengar pembicaraan keduanya, hanya tersenyum tipis.
[Kalian berdua, kalau ngumpul bikin aku spot jantung!]
Rayyan mendesis dalam hati. Pak Perwira dan Jean di meja yang sama, sungguh bagai ancaman bagi seorang Rayyan. Salah dikit, mungkin ia akan habis.
***
Satu jam kemudian
"Ray! Papa titip Jean."
"Iya, Pa."
Pak Perwira menepuk pundak Rayyan, kemudian berpaling dan memeluk Jeandana.
"Papa bakal seminggu di sana, nanti kalau pulang Papa bakal mampir ke sini."
"Iya, Pa. Jean tunggu."
"Papa pergi dulu!" Pak Perwira terlihat berat meninggalkan putrinya.
"Hati-hati, Pa!"
Pak Perwira mengangguk dan meninggalkan kediaman Rayyan dan Jeandana.
Setelah papa mertuanya pergi, Rayyan kini mendekati Jeandana.
"Jean ...!" panggil Rayyan. Namun, Jean langsung masuk kamar lagi.
BRUAKKK
"Astaga!" Rayyan mengusap tengkuk lehernya pasrah. Sepertinya malam ini ia harus puasa lagi.
"Ish ... tega kamu Jean!"
Bersambung.
__ADS_1
Heehehehe