
Suami Satu Malam Bagian 27
Oleh Sept
Rate 18 +
Eriska terlihat shock ketika mendengar mahar yang diberikan Radika pada Elvira. Ia tidak percaya sekaligus tidak terima dengan kenyataan. Hotel yang ditempati untuk acara pernikahan itu sekarang milik Elvira.
[Apa dia sedang membuat lawakan? Lelucon yang sangat konyol! Mana mungkin hotel ini milik Elvira sekarang?]
[Aku rasa dia sudah menyihir mas Dika, hingga pria itu dibuat bodohhh dan mau saja bertekuk lutut di depannya]
[Pasti ada yang tidak beres, mengapa mudah sekali Elvira mendapat segalanya?]
[Gue gak terima!]
Isi kepala Eriska hanya dipenuhi rasa iri yang membumbung tinggi setinggi puncak Everest. Jiwanya panas berkobar, seperti api abadi yang dipenuhi cemburu dan benci.
Sedangkan Rayyan, ia terus saja mengamati dari jauh. Sudut bibirnya terangkat, ada senyum getir yang perlahan mencuat. Seolah menunjukkan rasa tidak suka dan kecewa, entah kecewa dengan apa. Masih belum jelas.
Sementara itu, keluarga orang tua Elvira juga heran. Mereka kan tidak tahu perihal besarnya mahar untuk putri mereka. Radika memang selalu membawa banyak kejutan di keluarga mereka.
Saat semua fokus pada mas kawin Elvira dan Radika, kedua pengantin justru sedang mengantur degup jantung masing-masing. Radika cukup lega, karena pernikahan berjalan sesuai rencana. Namun, Elvira yang nampak lain. Ia diliputi kecemasan. Mungkin trauma, apa ia juga akan ditinggalkan saat malam pertama nanti? Seperti yang sudah-sudah.
Apa yang Elvira khawatirkan sepertinya tidak akan terjadi. Sebab, begitu akad selesai dan setelah menjamu tamu-tamunya. Beberapa saat kemudian Radika langsung menculik istrinya sendiri.
"Ma, Radika pergi duluan."
"Masih banyak tamu!" cegah mama Sarah heran.
Radika lantas mendekati sang mama. Kemudian membisikan sesuatu. Mama Sarah tidak bisa menahan senyumnya. Kemudian mengangguk pada putranya tersebut. Setelah bicara pada mama Sarah, ganti Radika menemui papa mertua.
"Pa, kami duluan!"
"Hemmm!" Wajah tuan Pram begitu datar.
"Pesta bahkan belum selesai!" sindir Kalandra.
"Aduh!" Kalandra menjerit tak kala mama Lina mencubit pinggangnya.
__ADS_1
"Silahkan, Mama titip Vira." Mama Lina memeluk tubuh Elvira dengan hangat.
"Baik, Ma."
Elvira sendiri tidak banyak berbicara, ia masih terlihat shock juga soalnya. Dan saat pamit pada keluarganya satu per satu, giliran saat pamit dengan Irene, ia malah tidak bisa menyembunyikan rona merah pada wajahnya.
"Ish, kamu!" Elvira menepuk lengan Irene karena malu.
"Beneran, Mbak. Udah aku siapin, aku taruh di dalam koper. Pakai ya!" goda Irene yang jauh berpengalaman di atas ranjang. Karena sudah terbukti dengan lahiran Kimora.
Makin malu, Elvira memilih tidak mendengar seruan dari adik iparnya itu. Karena merasa malu, ia memang janda, tapi kan sama sekali tidak ada pengalaman. Pengalaman apa, baru menikah sudah cerai.
"Ayo, Vir!" Radika langsung menggandeng lengan istrinya. Mereka menuju atap gedung. Sebuh helicopter sudah menanti, siap mengantar ke Bandara. Seperti diburu waktu, mereka nampak buru-buru.
***
"Kita mau ke mana?" tanya Elvira saat turun dari helicopters.
"Yang sepi! Tidak ada yang mengusik!"
Elvira langsung menelan ludah. Aduh, belum apa-apa pikirannya sudah jalan-jalan ke mana-mana. Dasar, janda perawan! Traveling terus.
Tengah malam, setelah melewati penerbangan lintas negara. Akhirnya mereka sampai di sebuah pulau. Sebuah pulau pribadi yang hanya ada satu bangunan yang berdiri di pulau tersebut.
"Mas Dika! Ini di mana?" Elvira semakin ngeri ketika tidak ada akses keluar pulau kecuali pakai heli.
Ditanya seperti itu, Radika tersenyum penuh arti.
"Lahirkan satu anak untukku, pulau ini milikmu!" ucap Radika enteng saat mereka masuk ke dalam sebuah rumah, bukan rumah sih. Seperti villa, besar dan megah. Satu-satunya bangunan yang ada di pulau tersebut. Dari atas kelihatan mencolok sekali. Karena kanan kiri hanya pepohonan.
Astaga! Elvira semakin dibuat takut. Mau masuk tapi sudah merinding duluan. Bukan karena tempat itu horor, karena bangunan sangat terawat. Bersih dan rapi. Lalu apa yang membuat Elvira bergidik ngeri? Hanya berdua di sebuah pulau, pokoknya ngeriii. Pikiran sudah traveling mengelilingi pulau. Lol.
"Ayo masuk!" seru Radika yang melihat Elvira mematung.
"Jangan bilang kamu takut padaku?" tambah Radika.
"Takut? Aku?" Elvira terkekeh. Namun, tawanya nampak aneh. Yaiyalah, ia kan tertawa untuk menutupi rasa gugupnya.
"Baguslah! Mas suka wanita pemberani. Ayo ... kita mandi dulu!"
__ADS_1
Mendengar ajakan Radika, lutut Elvira langsung lemas.
[Aku bohong! Aku takut, sangat takut! Ya ampun ... bagaimana ini?]
Bersambung
Hahahahaha
Like, vote, komen ya. Hihihihih ....
Selamat liburan akhir tahun, yukkk ke pulau haluuuu bareng Mas Dika dan Elvira. Wkwkwkwk. Sultan mAh bebas!
Novel lain
Rahim Bayaran
Suamiku Pria Tulen
Mencari Daddy
Dea I love you
Istri Gelap Presdir
Menikahi Majikan
Kesetiaan Cinta
Wanita Pilihan CEO
Ig : Sept September2020
Fb : Sept September
I love you terlopeeee. Heheheh
__ADS_1