
Suami Satu Malam 62
Oleh Sept
Rate 18 +
Malam itu Jean memang sedikit berontak, ketika di atas jembatan, matanya terus saja menatap ke bawah. Entah mengapa tiba-tiba saja ia ingin memacu adrenaline. Derasnya air membuat ingin ia menaklukan arus tersebut.
BYURRR
Jean menjatuhkan diri ke dalam air, ia kemudian memejamkan mata. Lalu muncul ke permukaan. Membiarkan arus membawa tubuhnya. Namun, tiba-tiba saja ia dikejutkan oleh sesuatu.
Seseorang melompat dari atas, pria itu sempat melambaikan tangan. Kemudian hilang, tengelam bersama arus air yang deras.
Jean yang memiliki kemampuan bak atlet renang professional, ia langsung menyelam. Dicarinya pria yang barusan bundir itu. Beberapa saat kemudian, ia muncul ke permukaan bersama seorang pria
Jendana menarik pria itu dan membawanya ke tepi. Ia kaget saat melihat siapa pria yang ia selamatkan.
[Kenapa dia bodohhh sekali? Apa yang dia lakukan hingga ingin mengakhiri hidup]
Jendana terus berjibaku dengan pikirannya, sembari melakukan CPR. Ia tekan berulang kali bagian atas tubuh Rayyan, kemudian mendekatkan telinganya, hendak memeriksa apa pria itu masih bernapas.
Dilihatnya Rayyan sudah lemas, Jean mendesis. Kemudian dengan enggan mendekatkan bibirnya. Wanita itu mau melakukan napas buatan. Satu kali percobaan, dua kali, dan baru ke tiga kali Rayyan terbatuk-batuk.
"Kalau mau mati, jangan menyusahkan orang!"
Baru juga sadar, Rayyan sudah kena omel. Ia saja belom 100 persen, Jendana main emosi saja. Karena belom loading sempurna, Rayyan tidak membalas.
Tiba-tiba saja turun hujan dengan deras, Jeandana pun buru-buru berteduh. Namun, dilihatnya Rayyan berjalan sangat lamban.
[ASTAGA! Pria seperti apa ini? Lembek sekali]
Jean menatap remeh Rayyan yang berjalan ke arahnya. Keduanya pun berteduh di gubuk yang ada di sekitar sana. Sama-sama diam, menunggu sampai hujan reda. Apalagi petir menyambar-nyambar. Membuat keduanya lebih baik berteduh terlebih dahulu.
__ADS_1
"Kenapa mau mati?"
Tiba-tiba Jendana penasaran, ia pun bertanya sambil menikmati dinginnya malam karena hujan angin disertai petir.
"Itu pertanyaan yang ingin aku tanyakan padamu sejak tadi?"
"Aku?"
"Ya, kenapa pendek sekali cara pikirmu!" ujar Rayyan kesal sambil mengigil.
"Yang benar saja!" Jean berdecak.
Jean lalu berpikir, apa jangan-jangan Rayyan ikut terjun ke bawah jembatan untuk menyelamatkan dirinya?
"Jangan katakan kau pikir aku ingin bundir?" tambah Jendana.
"Kau salah paham!" ucap Jean menjelaskan kesalahpahaman di antara mereka berdua.
"Lalu untuk apa kau menceburkan diri ke dalam sana? Kau bukan wanita bodohhh, kan?"
"Hey! Hanya karena menolongku sekali, jangan sombong. Siapa yang bilang tidak bisa berenang, ini kanya karena arusnya yang deras!" salak Rayyan yang tidak mau disindir pria lemah.
"Sudahlah, aku tahu betul tentangmu." Jendana menatap dengan senyum mencibir. Hal itu membuat Rayyan tersinggung dan langsung menekuk wajah.
"Tahu apa kau tentangku? Kita bahkan tidak mengenal!"
Sambil melipat tangan, dengan sinis Jendana kembali berujar. "Sudahlah! Untuk apa meladeni pria sepertimu. Kau hanya duda kesepian."
[Kenapa dia tahu banyak tentangku? Siapa dia?]
"Hey! Jaga mulutmu!"
"Apa urusanmu! Mulut-mulutku sendiri!" ketus Jeandana yang sama kesalnya.
__ADS_1
DUARRRR
terdengar petir menyambar pohon tidak jauh dari sana, Rayyan begitu kaget hingga ia memeluk Jeandana.
"Lepaskan tanganmu!" sentak Jendana saat tersadar ada lengan asing yang menyentuh kulitnya.
Rayyan menelan ludah, "Sialll!" gumamnya dalam hati.
Beberapa saat kemudian
Hujan sudah reda, Jeandana meninggalkan gubuk itu terlebih dahulu, sedangkan Rayyan, pria itu menyusul di belakang. Mungkin karena licin, tiba-tiba kaki Jeandana terpeleset. Wanita kuat itu akhirnya jatuh, bergulung-gulung hingga ke tepi sungai.
"Jean! Jean!" teriak Rayyan panik. Pria itu kemudi turun sambil berpegang pada ilalang agar tidak terperosok. Licinnya jalan karena hujan, membuat ia kesulitan menuruni semak-semak di bawah.
"Kau tidak apa-apa? Jean ... Jean!"
Rayyan panik saat tangannya merasakan sesuatu yang lengket. Merasa ada yang tidak beres, ia langsung mengendong Jean di belakang tubuhnya. Pria itu dengan susah paya membawa Jean ke atas. Sampai di atas, ia kemudian mencari kunci mobilnya. Sayang, kuncinya hilang.
Akhirnya ia mencegat kendaraan yang lewat. Sebuah truck yang mengangkat sayuran. Mereka pun langsung dibawa ke rumah sakit terdekat.
UGD
Wanita itu pun langsung ditangani, sedangkan Rayyan, dia menunggu di depan ruangan.
Di tempat lain, Elvira sudah lelap dalam dekapan Radika. Malam ini mereka menginap di rumah orang tua Elvira. Melepas rindu dan juga menikmati waktu bersama keluarga.
Mereka tidur berempat. Satu ranjang untuk empat orang. Zio tidur sambil memeluk mamanya, sedangkan Zia, sejak awal dia memang sangat antusias dan lebih condong pada papanya.
Pagi hari, matahari malu-malu menampakan sinarnya, setelah hujan deras semalam. Satu persatu semua terbangun. Sarapan bersama. Masih terlihat normal, hingga Radika mendapat sebuah pesan singkat. Radika pun berbisik pada Elvira, memintanya untuk ke kamar. Ada yang ingin ia katakan.
Sedangkan di rumah sakit, Rayyan dibuat terkejut. Pasien yang semalam ia jaga. Ia tunggu di dalam ruangan, malah kini lenyap bak ditelan bumi.
Bersambung.
__ADS_1