
Suami Satu Malam 60
Oleh Sept
Rate 18 +
"Berani kau melewati batas, aku patahkan lehermu!" ujar Radika marah sembari mencengkram kera baju Rayyan.
Ucapan itu seolah bagai ancaman bagi Rayyan, bila Rayyan merebut Elvira, Rayyan mungkin akan semakin dekat menemui ajal.
"Lepaskan! Mas mau melihat anak-anak Mas Dika membenci papanya?" ancam Rayyan balik.
Mereka sudah dewasa, terlalu dewasa malahan. Bukan saatnya segala sesuatu diselesaikan dengan kekerasan. Apalagi mereka masih di sekitar rumah. Apa Radika mau memperburuk citranya sebagai seorang ayah? Emosional dan suka kekerasan.
Radika pun melepas cengkramannya, masih menatap kesal pada adik satu-satunya itu.
"Wanita apa yang kau maksud?" tanya Radika ketikan keduanya sudah terlihat tenang.
Rayyan nampak berpikir, wanita yang ia temui batusan, seperti wajahnya tidak asing. Mereka pernah bertemu tapi tidak pernah kenal. Itu adalah saat Radika dan Elvira pulang dari bulan madu dan ke rumah ini.
Jendana yang misterius memang lebih suka menarik diri. Ia seperti bayangan, yang kehadirannya tidak pernah mencolok.
"Aku inget ... dia wanita yang sama saat pertama kalian datang setelah pulang dari bulan madu!" jawab Rayyan kemudian sambil mengingat-ingat.
Kemudian bibirnya menggembang, ia ingat malam itu ia juga mendapat banyak bogem dari Radika. Sampai babak belur akibat pukulan demi pukulan dari sang kakak. Bahkan harus ke Singapore untuk operasi kecil. Ternyata, kakak yang ia anggap remeh itu pukulannya cukup maut.
Rasanya, tidak mau lagi deh ia dihajar oleh pria yang sama. Namun, ia masih penasaran. Mengapa asisten sang kakak menyimpan poto bosnya sendiri. Mencurigakan!
"Kau bertemu dengan Jean?" alis matanya menungkik tajam. Ia menatap dengan tatapan penuh selidik.
"Oh ... Namanya Jean? Aku pikir dia bukan asisten biasa."
"Tau apa kau ini!" sentak Radika jahat.
"Cih ... Mana ada asisten menyimpan poto pria dalam liontin yang dipakainya? Pasti ada alasan. Jangan-jangan itu alasan Mas Dika menghilang dan mengaku mati selama ini?"
"Tutup mulutmu, brengsekkk!" ujar Radika kasar. Ia tidak mau dituduh macan-macam. Karena selama ini ia memang tidak ada hubungan apapun dengan Jean. Keduanya pure, murni hubungan kerja professional.
"Ray hanya tidak mau Elvira dan anak-anak terluka!"
__ADS_1
Radika menghela napas dalam-dalam, kemudian menatap adiknya lekat-lekat.
"Terima kasih karena sudah menjaga mereka, tapi ... setelah aku kembali, sebaiknya jangan ikut campur."
Rayyan langsung membuang muka dan tersenyum mengejek.
"Saat Elvira sekarat di rumah sakit karena memikirkan Mas Dika! Siapa yang ada di sana? Siapa?" pancing Rayyan.
"Ray! Apa kau ingin benar-benar mati di tanganku?"
Rayyan terkekeh, kemudian menepuk bahu sang kakak sambil berdiri.
"Tenanglah! Jika aku mati, lalu siapa yang akan menjaga anak dan istri Mas saat Mas menghilang lagi?"
Wajah Radika langsung merah, padahal Radika sedang usil menggoda kakaknya itu. Rayyan masih sayang dengan anggota tubuhnya. Ia tidak mau mati saat masih menduda.
Rayyan rasa, ini adalah kutukan. Setelah cerai dari Elvira, ia merasa nasib percintaannyaa tidak pernah mulus. Gagal dan tidak pernah berakhir di pelaminan. Mama sudah mengenalkan dia dengan anak pengusaha kaya raya dari kalimantan.
Seorang janda ditinggal mati, cantik mereka sempat jalan sebulan malahan. Sayang, janda itu ternyata genit. Rayyan memergoki perempuan itu sedang holiday ke Maldives dengan seorang pria. Pria itu adalah rekan kerjaan. Jelas Radika tahu, ia bisa melihat dari unggahan di sosial media si pria.
Sejak saat itulah, ia lebih nyaman jadi duda. Apalagi kalau weekend, Zio dan Zia sudah menyita waktunya. Sampai lima tahun, ia lupa nikah. Lupa cari pasangan, karena trauma kecewa.
"Lagi ngobrol apa kalian? Serius sekali?" tanya Elvira yang muncul dengan membawa kripik kentang.
"Sekarang?"
Radika mengangguk.
"Kalian baru ke sini, masa mau pergi. Mama pasti masih kangen," sela Rayyan.
Radika hanya menatap adiknya sebentar, kemudian berbisik ke Elvira.
"Oh ... baiklah!" Elvira langsung meninggalkan keduanya.
***
Sesaat kemudian
Di dalam mobil.
__ADS_1
"Mana penjahatnya?" Elvira memindai sekeliling saat semua sudah masuk mobil.
Sedangkan Radika, pria itu malah tersenyum tipis. Kemudian mengengam jari-jari Elvira. Lalu menoleh ke belakang, dilihatnya anak-anak sedang memegang mainan dari rumah oma mereka.
"Mas bohong?"
Radika kembali tersenyum.
"Astaga!" Elvira hanya geleng-geleng.
***
Setelah menempuh perjalanan beberapa puluh kilo, akhirnya mereka sampai di rumah tuan Pramana. Rumah orang tua Elvira. Dan anak-anak malah sudah tertidur. Mungkin lelah di jalan.
Vira mengendong Zia, sedangkan Zio yang posture dan berat badan lebih besar, digendong sama papanya. Mereka masuk sama-sama. Karena tidak menghubungi terlebih dahulu, di sana cuma ada Irene dan Kimora.
Papa dan mama sedang pergi ke pernikahan anak rekan bisnis tuan Pram. dan Kalandra juga sedang ke kantor. Jadi di rumah hanya ada Irene serta Kimora. Anak itu sudah besar, cantik, cubby dan sangat manis.
"Moraaa!" Elvira langsung mengusap rambut Kimora yang dikepang seperti ekor kuda.
"Kok nggak kasih kabar Mbak kalau mau datang?" tanya Irene saat melihat siapa yang datang.
"Ya Allah ... itu Mas .... Mas ... Mas Dika?" Irene kesusahan menelan ludahnya.
Sedangkan Elvira, ia hanya tersenyum cerah pada adik iparnya tersebut.
"Apa kabar, Ren?" sapa Radika.
Wajah Irene terlihat shock, wanita itu masih diliputi rasa keterkejutan yang mendadak. Orang yang mati, tiba-tiba hidup lagi. Jelas Irene sangat kaget.
"Ayo, Mas. Zio tidurin di kamar aku."
Mereka berdua masuk melewati Irene yang masih shock.
Sementara di luar pagar, tidak jauh dari sana. Di dalam mobil, Jeandana terus mengintai dari jauh. Kemudian tangannya membuka liontin miliknya, dikeluarkannya photo Radika, kemudian menyalakan korek. Ia bakar foto itu hingga jadi abu. Bersambung.
Baca juga kisah Kudanil yang kocak bersama Dea.... anak kuliahan sama sugar daddy... apa om-om ya? Hehhehhe ngikik di pojokan.
__ADS_1
Dea I Love you
TERIMA KASIH