Suami Satu Malam

Suami Satu Malam
KAGET


__ADS_3

Suami Satu Malam 56


Oleh Sept


Rate 18 +


"Mas," ucap Elvira sembari menoleh ke belakang. Dilihatnya Radika sudah berdiri di ambang pintu. Pastinya suaminya itu sudah cakep, ganteng dan wangi. Lima tahun rupanya tidak ada yang berubah dari fisik pria tersebut. Elvira malah merasa, bahwa Radika lebih perkasa dan tidak bisa dijelaskan dengan untaian kata-kata.


Sedangkan Radika, pria itu kemudian melangkah masuk, mendekati Elvira yang kini bersama anak kembar mereka.


"Zia ... Zio ... itu papa!" seru Elvira.


Baik Zia dan Zio hanya saling memandang, mereka tidak percaya orang yang sudah disurga bisa pulang ke rumah. Apa papanya itu punya ilmu sulap?


Settttt


Tanpa pendekatan terlebih dahulu, Radika langsung saja mengambil Zia dari ranjang. Ia menggendong Zia menciiumnya. Aneh, anak gadis yang imut-imut itu diam saja tidak menolak. Ia malah terus saja mengamati wajah sang papa. Mungkin Zia masih merasa aneh dan terkejut. Papa yang tidak pernah ia lihat, bahkan kini bisa dipegang. Dan malah menggendong dirinya.


Setelah itu, Radika melirik ke arah Zio. Zio yang paling dekat dan CS kentel dengan Rayyan. Sebenarnya agak BT, karena Zio putranya itu sangat dekat dengan omnya yang dipanggil papi tersebut. Kan Radika sangat cemburuan. Namun, karena sudah sangat rindu sekali, ia langsung saja menggendong putranya itu dengan lengan yang sebelahnya lagi. Alhasil, kanan kiri dipenuhi oleh Zia dan Zio.


Tidak hanya Zia, Zio pun dihujani kecupann penuh rindu dari sang papa. Tidak bisa melihat langsung tumbuh kembang si kembar, itu adalah penyesalan terberat dalam hidup Radika. Meskipun mereka semua tidak pernah lengah dari pengawasannya, tapi tetap saja. Interaksi langsung seperti ini sangat ia impikan.


"Bau asem! Ayo ... Papa mandiin!"


Lagi-lagi Zia dan Zio hanya saling menatap, melihat si kembar masih kaku, Radika langsung saja ke kamar mandi. Masih sambil mengendong keduanya.


"Sayang, siapin handuk mereka!" seru Radika.


"Eh, iya!" Elvira buru-buru mencari perlengkapan mandi untuk anak-anaknya. Tentunya dengan perasaan penuh haru, syukur dan kelegaan. Akhirnya hari itu tiba, di mana selama ini ia hanya bisa memimpikan dalam tidurnya. Bisa melihat Radika bertemu dengan putra putri mereka yang sedang lucu-lucunya itu.


Di dalam kamar mandi


"Papa ... papa Zia, kan?" tanya Zia saat sang papa sedang menyampohi rambut panjangnya yang lebat.


"Iya. Betul sekali!" jawab Radika sembari tersenyum.

__ADS_1


"Apa setelah mandiin Zia Papa pergi lagi?" tanya Zia polos. Bisa saja kan, sang papa datang dan pergi lagi?


"Apa Papa mau balik ke surga lagi?" sela Zio yang sedang mengosok gigi.


[Apa mereka ingin aku mati]


Bibir Radika langsung merekah, pria itu pun tersenyum saja. Kemudian kembali bicara sambil menyirami Zia dan Zio bergantian.


"Papa akan tinggal bersama kalian, yang antar kalian ke sekolah, yang akan main dan mandi bola bersama kalian."


Zio dan Zia reflect saling menatap.


"Benarkah?" ucap keduanya serempak. Membuat Radika terkekeh. Apa anak-anaknya itu sama sekali tidak percaya padanya? Ish, harus butuh bukti biar mereka percaya. Rupanya Zia dan Zio sangat mirip sifatnya dengan mama mereka. Meskipun wajah keduanya sangat mirip dengan Radika.


"Ayo sayang, jangan lama-lama. Nanti masuk angin!" Elvira datang sambil membawa handuk kimono untuk keduanya. Akhirnya yang satu digendong sang papa, satunya lagi digendong mamanya.


"Baju yang ini saja, Zia cantik kalau pakai ini, aku melihatnya sangat manis sebulan lalu saat liburan di villa bersama Kalandra dan Irene," ucap Radika ketika melihat Elvira memilih dress lucu untuk putri mereka.


Elvira pun mengeryitkan dahi, sepertinya suaminya itu benar-benar mengamati tanpa jeda selama ini.


"Benarkah?"


"Dan Zio, pakai ini saja! Dia sangat keren dengan setelan ini," saran Radika.


"Oh, yang ini ... ini dibelikan Rayyan beberapa waktu lalu."


"Ganti! Baju ini jelek!" cetus Radika tiba-tiba.


Semua orang di dalam ruangan pun saling melempar pandangan. Ini kali pertama mereka semua melihat wajah jutek dan galak Radika. Sebuah wajah yang diliputi dendam salah alamat. Pria itu cemburu, karena selama ini yang berada di sisi keluarganya adalah Rayyan, bukan dirinya.


Mendadak penyakit jealous akut Radika kambuh, dan itu membuat Elvira gemas. Itu adalah salah satu alasan, mengapa ia sangat merindukan sosok Radika. Pria pencemburu yang sangat membuatnya gemas!


CUP


"Jangan galak-galak, nanti mereka takut pada Mas. Ingat, selama ini mereka dekat dengan Rayyan," bisik Elvira setelah memberi kecupann singkat di pipi Radika, agar prianya itu meredam egonya. Belum apa-apa sudah ketus.

__ADS_1


"Zio mau pakai ini, Ma!" Anak laki-laki itu menatap tajam papanya. Seolah musuh.


"Iya, pakai saja. Nanti Papa belikan yang lebih bagus dari ini," ucap Radika sambil memasang senyum penuh keterpakasaan.


***


Semua sudah siap, sudah rapi, ganteng, cantik dan wangi. Mereka pun keluar kamar untuk sarapan.


"Bi, piringnya nambah satu, ya," pinta Elvira sambil menata makanan di meja yang sudah siap.


Ia mengambilkan lauk pauk untuk Zia dan zio.


Di dapur


"Mengapa satu lagi? Mereka kan bertiga saja?" gumam bi Surti.


"Bi," panggil Elvira.


"Iya, Nya!" jawab bi Surti sambil mencari satu piring lagi.


Tap tap tap


Begitu sudah hampir sampai di meja makan, mata bi Surti malah tertuju pada sosok pria yang dengan tajam langsung menatapnya.


"Astaghfirullahaladzim!" pekik bi Surti.


KROMPYANGGGG ....


Bi Surti dibuat terkejut oleh sorot mata yang menghujam tembus jantung tersebut, hingga piring dalam tangannya lepas dan jatuh meluncur ke lantai ...


Bersambung.



Iklan dulu ... hihihihih

__ADS_1


__ADS_2