
Suami Satu Malam Bagian 42
Oleh Sept
Rate 18 +
"Kalian nabung dulu, ya?" Kalandra melirik dua titik seperti biji mentimun di atas kertas kotak kecil yang kini dipegang Irene.
PLAKKK
Langsung saja Elvira memukul adiknya dengan keras.
"Aduhhhh!"
Irene terkekeh melihat suaminya kesakitan akibat pukulan Elvira. Siapa suruh, lidahnya lancar bener kalau diajak julid.
"Panas, Mbak!" protes Andra sambil mengusap lengannya.
"Makanya! Jangan asal kalau ngomong!" cetus Elvira dengan kesal.
"Kan bercanda, Mbak!" Kalandra langsung memeluk tubuh Elvira. "Selamat ya, Kimora bakal punya partner main, dua sekaligus! Keren kalian!" Andra mengusap punggung Elvira dengan sayang.
Meski dipuji secara tidak langsung, Radika tetap tersenyum angkuh. Mukanya ngeselin banget. Menyiratkan kesombongan yang hakiki. Akhirnya bisa pamer juga di depan semua keluarga istrinya tersebut.
"Selamat ya, Dik!" ucap tuan Pram kemudian.
"Selamat, sayang!" ganti mama Lina memeluk tubuh Elvira sangat erat. Akhirnya Elvira hamil juga. Dapat dua sekaligus, mama Lina sangat bangga pada anak dan menantunya itu. Sangat-sangat bersyukur, Elvira memang harus bahagia. Mama Lina rasa, kesedihan Elvira sudah saatnya berakhir. Berganti dengan hari-hari bahagia penuh kasih dengan keluarga kecil mereka.
Ketika semua sudah melihat hasil USG milik Elvira, kini orang-orang duduk bersantai di halaman samping. Sebagian di gazebo dan sebagian lagi duduk di samping kolam renang.
Sedangkan Jeandana, gadis bodyguard itu seperti sebelumnya. Meskipun duduk, sikapnya tetap siap siaga. Layaknya pengawal setia, sejak tadi matanya terus mengamati gerak-gerik Elvira. Elvira yang rebahan di gazebo sambil memainkan ponsel, sampai ditegur oleh Irene.
"Itu asisten Mbak Vira nggak apa-apa? Kok aku lihat matanya lihat ke sini terus?" Irene mulai curiga.
Elvira langsung menyimpan ponselnya, ia melihat Radika sedang bicara bersama papa dan adiknya. Duduk agak jauh dari tempatnya. Sedangkan sang mama, sedang asik main dengan Kimora yang minta dipegangi sejak tadi. Balita itu jalan-jalan terus, tidak ada capek-capeknya sama sekali.
Setelah memastikan tidak ada yang mendengar, Elvira kemudian jujur pada Irene. Irene itu saudara ipar rasa sahabat. Apa aja unek-uneknya, Elvira loss tanpa filter kalau bicara dengan iparnya tersebut.
"Jangan bilang mama, papa, apalagi Andra!"
"Hah? Emang apaan?"
"Itu ... di Jean!"
"Jangan-jangan mantan Mas Dika?"
"Ngawur!" jawab Elvira dengan muka masa.
__ADS_1
"Lah? Lalu kenapa? Cari asisten kok cantik gitu? Nggak takut dan curiga?" Irene melirik, diamatinya Jeandana dari ujung rambut sampai kaki. Dari pada asisten, ia mirip artis stuntman. Khusus adegan laga, bodinya oke, parasnya kece badai.
"Bukan sembarang asisten, Ren! Dia orang suruhan Mas Dika. Khusus ngawasi Mbak 24 jam non stop!"
"Kok kaya tahanan?" Irene mengerutkan dahi.
"Lagian untuk apa juga punya bodyguard? Mbak kan jago bela diri?" tambah Irene yang tidak habis pikir dengan Elvira yang ke mana-mana harus bersama pengawal. Mirip ratu Engresss saja!
"Tau tuh! Mbak juga merasa aneh. Katanya karena Rayyan duda!" celoteh Elvira.
"Eh iya, gila loh mbak. Masa baru nikah mereka cerai?"
[Gue dulu juga gitu kelesss]
Melihat ekpresi wajah Elvira yang berubah dingin, Irene langsung nyengir. Ia lupa, saudara iparnya juga begitu nasibnya.
"Hehehe, sorry Mbak!" sambung Irene dengan buru-buru. Takut, misal kata-katanya melukai perasaan sang kakak ipar.
"Gak apa-apa, lagian udah jadi mantan." Elvira menghela napas panjang. Karena memang Rayyan sudah tidak berkeliaran dalam kepalanya semenjak ada Radika yang selalu ada di dekatnya.
"Bener sih, tapi ... nanti kalian kan bakal ketemu, bagaimana? Bagaimana pun juga kalian sekarang kan sudah jadi saudara ipar."
"Ya biasa aja, Ren. Lagian semuanya udah selesai."
Iren mangut-mangut.
Tiba-tiba terdengar suara berat yang khas milik Radika. Seketika, Elvira dan Irene bohong. Tidak mungkin mereka jawab bahwa habis gibahin Rayyan.
"Bahas kehamilan Mbak Vira, Mas Dika tokcer banget! Langsung dua!" puji Irene. Hal itu tambah membuat Radika menjadi besar kepala.
Dengan percaya diri, pria itu terus saja tersenyum. Irene jadi inget beberapa tahun terakhir, bagaimana sosok Radika di matanya. Pria itu sering berlarian tidak jelas ketika mereka bertemu. Bermain dengan Elvira seperti anak kecil.
[Astaga! Penipu ulung]
Irene ikut tersenyum, sebuah senyum yang syarat akan ledekan. Namun, Radika tidak mengerti maksud senyum Irene padanya tersebut.
***
Malam harinya
Ini adalah malam pertama kali Radika bermalam di rumah mertua. Baru kali ini ia merasakan tidur di (PMI) Pondok mertua indah.
"Akhirnya bisa rebahan di sini juga!" ucap Radika sembari merentangkan kedua tangan.
Sedangkan Elvira, wanita itu masih di depan meja rias. Sebelum tidur, Vira membersihkan wajah terlebih dahulu.
"Ayo sini ... Vira! Jangan lama-lama!"
__ADS_1
"Bentar."
Ditunggu, tapi Elvira masih saja asik membersihkan wajah. Membuat Radika tidak sabar. Pria itu kemudian bangkit, turun dari ranjang dan menghampiri Elvira.
"Ayo tidur, sudah malam," bisik Radika sambil membungkukan badan.
Cup
Dikecupnyaa pucuk kepala Elvira, kemudian memeluknya dari belakang. Karena Radika terus saja merangsek, akhirnya Elvira menyudahi rutinitas sebelum tidurnya itu.
Mereka pun sama-sama berangkat tidur. Di kamar milik Elvira, kamar yang belum sempat Rayyan tempati. Dan Radika menjadi pria pertama yang tidur di kamar bersamanya.
Tidak hanya sekedar tidur, karena baru beberapa saat berbaring, Radika sudah membuang semua baju mereka. Sepertinya papa Dika mau berkunjung. Mau menengok dua buah cintanya yang masih kecil-kecil tersebut.
Pagi Hari
Mentari bersinar cerah, cahayanya masuk menerpa kulit wajah Radika. Pria itu kemudian mengerjap, kemudian menatap sosok yang tidur sambil memeluk tubuhnya. Masih seperti semalam, pakaian mereka tercacar di lantai kamar. Keduanya masih polos di balik satu selimut yang sama.
Masih jelas sisa-sisa pertemuan semalam, karena Radika tidak bisa menahan untuk tidak menyentuh Elvira setiap malam.
Cup
Sambil mengusap rambut Elvira, ia jiga mengecupnyaa lembut. Hingga membuat wanita itu terbangun. Sadar tidak memakai apa-apa, Elvira merapatkan kain selimutnya.
"Sudah bangun?"
"Hemmm!"
"Capek, nggak?" tanya Radika lembut.
Elvira mendongak. Kelopak matanya bergerak-gerak. Membuat Radika gemas dengan tatapan yang sangat polos tersebut.
Tidak tahu mengapa, sesuatu yang tadi tidur, kini kembali bangun.
[Astaga]
Elvira dibuat terkejut ketika ada yang mengeras di balik selimut.
Padahal semalam sudah sampai puas, pagi-pagi baru bangun kok suaminya menundukkan pertanda alam yang luar biasa.
"Mas, Vira ke kamar mandi dulu," ucap Vira yang mau kabur.
Radika tersenyum, kemudian mendekapnya.
"One more!" bisik Radika penuh rayu.
Bersambung.
__ADS_1
GASSSS Babang!!! Losss dolll rem blong. Hehehe ... Tetep kalem! Main cantik ya!