
Suami Satu Malam Bagian 39
Oleh Sept
Rate 18 +
Karena sudah terlanjur ketemu, apalagi pemilik Salim Group itu mengajak untuk makan bareng, akhirnya Radika dan Elvira pun duduk satu meja dengan Akio Uwais tersebut.
"Sudah lama sekali ya kita tidak bertemu?" tanya Kio basa-basi sembari membuka percakapan.
Radika hanya menjawab dengan sebuah senyuman. Ia kan beberapa tahun ini memang menyembunyikan diri. Ini semua ia lakukan setelah kecelakaan yang menimpanya dulu.
"Ya, cukup lumayan lama."
"Oh ya, aku dengar Rayyan sudah menikah lagi. Maaf, kami tidak bisa hadir waktu itu. Waktu pernikahan pertama, kami sekeluarga sedang di Los Angeles. Dan pernikahan ke duanya, kami sangat repot."
Radika melirik Elvira, ia memperhatikan ekpresi istrinya itu. Sebab yang dibahas adalah mantan suami dari Elvira. Yang juga adiknya sendiri.
"No problem. Tidak apa-apa, kalian pasti sibuk." Radika bersikap sangat biasa. Padahal ia sedikit tidak suka karena malah bahas Rayyan. Memang sih, ketika ia menarik diri dari perusahaan Dirgantara, yang memegang tongkat kepemimpinan Dirgantara Group selama ini adalah Rayyan.
Jadi, sudah pasti banyak yang mengenal wajah adiknya itu sebagai pimpinan besar Dirgantara Group. Sementara ia sendiri sibuk sembunyi, tentunya tidak berdiam saja.
Karena diam-diam ia menjalankan perusahaan lain. Sebuah perusahaan yang dikira sudah pailit oleh keluarganya. Karena yang mereka tahu, perusahaan itu sudah dibeli oleh orang asing.
Radika memang begitu, sengaja menyamarkan aset pribadinya. Pasca tragedy kecelakaan. Ia memang berhati-hati. Lebih selective memilih orang kepercayaan.
Semua saham yang ia dapat dari sang kakek, ia jual. Namun, dibeli lagi olehnya sendiri lewat nama fiktif. Ia kembangkan diam-diam. Tanpa sepengetahuan keluarga besarnya.
Jadi, tuan Wira dan mama Sarah tidak kaget, kalau Radika menyimpan banyak aset yang disembunyikan selama ini dari mereka. Pasalnya, dari muda Radika memang sosok pekerja keras. Darah pengusaha sudah mengalir dalam darah anak itu sejak remaja. Sayangnya, ada saja yang mengincar pewaris Dirgantara yang sesungguhnya itu.
"Papaaaa!"
Radika yang sempat melamun, seketika menoleh. Ia melihat seorang anak laki-laki usia 5 tahun mendekat ke meja mereka. Di belakangnya, ada seorang wanita berjalan dengan anggun. Cantik, senyumnya meneduhkan.
"Jangan lari!" seru Kio pada putra semata wayangnya.
"Sini! Beri hormat sama Om Dika sama tante Vira."
Elvano yang sering disapa Vano itu lantas menyapa Radika dan Elvira dengan imut dan sopan.
"Kamu pasti sudah kenal istri saya, perjalanan bisnis memang paling menyenangkan bila ditemain keluarga. Bukankah seperti itu, Dik?"
__ADS_1
Kio merangkul pundak Batari, memperkenalkan wanita itu pada Elvira. Karena Radika pasti sudah mengenal.
"Tari!"
"Vira!"
Kedua istri-istri sultan itu pun cipika dan cipiki.
Mereka pun bicara santai, bicara mengenai ini dan itu. Dari masalah bisnis sampai hal kecil, sampai akhirnya Radika harus pamit karena penerbangan mereka akan dilanjutkan lagi.
"Senang bertemu kalian!" Mereka saling berpelukan satu persatu.
"Kalau tiba di Indonesia, sepertinya kita harus ngopi bareng!" canda Kio.
"Pasti!" jawab Radika yakin.
Kio menepuk pundak Radika, kemudian mereka pun berpisah di salah satu Bandara paling teramai di dunia tersebut.
***
Di dalam pesawat menuju JKT.
"Rayyan sudah cerai!"
"Jadi, Mas mau kamu jangan ketemu dulu dengannya."
"Kenapa cerai? Bukankah mereka pasangan yang begitu dekat?"
"Eriska tidur dengan pria lain!" jawab Radika malas.
[Astaga! Lalu kenapa dia cerita padaku?]
"Benarkah?"
"Benar! Jadi Mas tekankan. Meski dia adik Mas, dan mantan suamimu. Tolong jangan dekat dengannya."
"Maksudnya? Seperti Mas Dika tahu dan paham betul, Rayyan kan memang kurang suka dengan Vira. Jadi Mas Dika nggak usah khawatir. Lagian urusan kami sudah selesai. Tidak ada yang perlu dibicarakan."
"Bagaikan kalau baginya belum selesai?"
"Mas Dika bicara apa sih? Vira sama Rayyan kan usah selesai."
__ADS_1
Radika diam sesaat, matanya menatap kosong ke samping. Dilihatnya awan yang menggantung di langit lepas. Bagaimana pun juga ia tetap khawatir. Bila mana Rayyan mengusik wanitanya.
***
Bandara SH, Jakarta.
Mereka langsung dijemput oleh sopir pribadi Radika. Tidak pulang ke rumah orang tua Elvira, ataupun ke rumah keluarga Radika. Mereka berdua langsung menuju mansion milik Radika.
"Ayo masuk!"
Elvira melangkah sambil melihat sekeliling, sebuah tempat yang besar dan terlihat terawat. Sampai sekarang, ia penasaran. Apa pekerjaan suaminya itu. Bisa berleha-leha cukup lama saat mereka honeymoon. Tapi, ia enggan bertanya. Ingin Radika sendiri nantinya yang cerita sendiri.
Malam hari.
"Mas masih capek, kita ke rumahmu besok pagi-pagi saja, ya?"
"Iya, gak apa-apa. Tadi siang Vira juga sudah VC sama mereka."
"Ya sudah, Mas istirahat dulu. Perut Mas mulai nggak nyaman lagi."
"Vira gosokin, ya?"
"Nggak ... nggak usah. Malah mabok sama bau minyaknya." Radika langsung menolak.
"Ish! Ya sudah. Vira bikinkan minuman hangat, ya?"
"Tidak usah. Udah, sini! Temani Mas tidur saja!" Radika meraih tubuh Elvira. Kemudian merebahkan tubuhnya, sambil memeluk Elvira.
***
"Brengsekkk!!!!"
BUGH
Radika menghajar Rayyan sampai bibirnya mengeluarkan darah.
Radika semakin menyalak marah, ketika melihat Elvira malah mendekati Rayyan dan mencoba membangunkan Rayyan yang tersungkur akibat ulah pria tersebut.
"Cukup Mas!"
"Singkirkan tanganmu darinya!" salak Radika dengan mata yang sudah merah karena menahan amarahnya.
__ADS_1
Bukannya mematuhi titah sang suami, Elvira malah mengusap wajah Rayyan dengan cemas. Di tambah lagi, Rayyan tersenyum penuh kemenangan, seolah sedang meledek kakak kandungnya tersebut.
Bersambung.