
Suami Satu Malam 99
Oleh Sept
Rate 18 +
Di sebuah taman rumah sakit, Rayyan sedang bicara serius pada istrinya.
"Sayang, kamu tunggu di sini. Ingat, jangan ke mana-mana. Aku akan cari petugas keamanan rumah sakit. Awas kalau aneh-aneh. Duduk manis di sini, ingat jaga anak kita." Rayyan mengusap perut Jeandana dengan sayang.
"Terus ngapain aku di sini?"
Mendengar Jean mau protes, Rayyan menatap tajam.
"Iya ... iya!" jawab Jean malas. Sebenarnya tidak takut dengan tatapan pria tersebut, Jean hanya malas mendengar siraman rohani dari Rayyan yang pasti panjangnya berjilid-jilid.
"Pokoknya jangan ikut! Dan mana itu tadi?"
"Itu apa?" Jean pura-pura polos.
"Sini!" Rayyan mengulurkan sebelah tangannya.
"Apa sih?"
"Jean! Aku sama sekali tidak suka kamu menyimpan benda-benda seperti itu, Jean!"
Huufffh ...
Jean membuang napas panjang
"Ini untuk melindungi diri, Raiii!"
"Nggak ... nggak ada! Sekarang nggak boleh bawa-bawa benda begituan."
Rayyan bersikukuh melarang Jean membawa senjataa api ke mana-mana. Jujur ia kaget, mana pernah mengira istrinya selalu membawa benda itu. Bagi Rayyan itu sangatlah mengerikan.
"Ayo sini!" ganti Rayyan yang mengintimidasi Jeandana.
Dengan setengah hati, Jean mengambil benda yang Rayyan maksud dari dalam tas. Ia pun memberikan senjataa yang ia punya. Di depan Rayyan ia terlihat kecewa. Namun, dalam hati ia tersenyum meledek.
__ADS_1
Rayyan pikir ia hanya memiliki satu, padahal Jean memiliki banyak candangan yang ia sembunyikan di banyak tempat, di bawah ranjang. Di bawah brankas miliknya, di bawah lemari sepatu dan di tempat paling tak terduga, di balik sandaran ranjang. Rayyan saja yang tidak cerdas. Tidak tahu di mana sang istri meletakkan barang-barang berbahaya tersebut.
"Aku simpan, ya!"
Jean hanya mengangguk.
***
Beberapa saat kemudian
Rayyan yang sudah menghubungi pihak keamanan, ikut bersama mereka melihat rekaman CCTV. Tentunya Jean memaksa ikut. Kalau berhadapan dengan dunia kriminalitas, semangat Jeandana langsung berkobar.
Padahal sudah diajak Rayyan pulang, tapi wanita itu kepo berat. Penasaran apa yang terjadi pada mantan istri sang suami. Lagian ia juga ingin semua beres, karena tidak mau Eriska menghubungi suaminya.
Dalam rekaman CCTV, terlihat GIO menarik paksa anak perempuan. Anak itu terus meronta hingga selang infus terlepas. Sedangkan Eriska, ia berusaha menahan anak tersebut.
Sekali lihat saja, Rayyan sudah dapat menduga bahwa anak itu pasti putri Eriska. Wajahnya sekilas mirip meski nampak samar di layar.
Sedangkan Jean, ia ingin memperbesar gambaran si bocah. Sepertinya Jean curiga siapa anak itu. Apa mungkin dia mengira bahwa anak itu adalah anak suaminya?
"Tolong diperbesar gambarnya, yang itu!' tunjuk Jean pada petugas.
Dasar ibu hamil, baperan. Pikirannya sudah macan-macam saja.
Setelah dari melihat dengan mata kepalanya sendiri, Jean malah bad mood. Wanita itu tiba-tiba jadi masam dan gusar.
"Jean! Sayangggg ... mau ke mana?"
Rayyan bergegas menyusul Jean. Ia tidak tahu mengapa istrinya jadi dongkol begitu.
"Jean! Mau ke mana?"
"Pulang!" jawab Jean ketus.
"Hei ... kamu kenapa?" Rayyan langsung meraih lengan istrinya. Menatap wajah Jean lekat-lekat.
[Ish .. Ada apa lagi dengannya?]
"Katakan! Aku gak bisa baca hatimu kalau kamu cuma diam, Jean!"
__ADS_1
"Anak itu mirip sekali denganmu!" cetus Jean sambil melengos.
"Kamu kurang jeli!"
"Bisa jadi kan .... iya Kan? Kamu udah tidur dengannya Kan?"
Rayyan menelan ludah dengan kasar. Apes lagi.
"Tapi ...!"
"Udah, aku mau pulang!"
***
Sepanjang jalan Jean sama sekali tidak mau bicara. Sampai rumah ia langsung masuk kamar dan menutup pintunya keras.
BRUAKKK
"Astaga!" Rayyan hanya bisa memegangi dadanyaa karena kaget.
Klik
[ALHAMDULILLAH tidak dikunci]
"Jean! Jangan begitu ... dia bukan putriku. Aku juga sempat khawatir. Tapi setelah anak itu lahir, aku pernah menemuinya sekali. Betul-betul hanya sekali. Itu hanya tes DNA, aku tahu ... hal semacam ini pasti akan terjadi di kemudian hari. Aku dan mama sendiri yang meminta pada Eriska untuk tes DNA. Jadi dia bukan anakku."
Rayyan memegang tangan Jeandana, tapi istrinya itu tidak mau menatapnya.
"Beneran?"
"Iya!"
"Tapi kamu udah tidur dengannya, kan?"
Rayyan hanya bisa tepok jidat. Menghadapi Jeandana yang hamil, membuatnya jadi pria gampangan. Gampang stress dan gampang salah.
"Itu kan masa lalu, Jean. Dan sekarang kan cuma ada kamu ... Maaf, karena aku tidak bisa menghapus masa laluku yang mungkin menyakitimu. Kalau boleh aku putar waktu, aku akan memilih bertemu kamu lebih dulu."
Digombali sedikit, Jean langsung melempem. Bersambung.
__ADS_1