
Suami Satu Malam 118
Oleh Sept
Rate 18 +
[Aku kira dia akan sangat marah, ternyata aku keliru. Dia hanya begitu khawatir ... tatapan mata itu, nyatanya bukan berisi amarah yang aku kira sudah membuncah. Bukan, dia laki-lakiku. Sesalah apapun aku, dia pasti akan merangkulku ... Rayyan Dirgantara, pada hatimu aku sudah jatuh cinta. Anggap aku sensi, mendengar kata kau tidak bisa hidup tanpa aku, membuat hidungku kembang kempis. Jantungku berdebar, seperti saat pertama kali kau menyentuh tubuhkuu. Rai ... aku kira aku sudah dikutuk untuk takluk pada pria lemah sepertimu ... Bukan, kau bukan pria lemah. Kamu pria perkasa yang aku punya satu-satunya]
Jean terus bicara dalam hati, sembari mata jernihnya tak pernah luput dari sosok tampan yang kini juga sudah menatapnya dalam-dalam. Mungkin terbawa perasaan, perlahan wajah keduanya semakin dekat.
Ada rasa yang menghangat, disertai hembusan napas mereka yang seperti tertahan. Jean berhenti menatap sebentar, dan Rayyan langsung mengangkup wajah wanita tersebut.
CUP
Sebuah kecupann mendarat cukup lama, hanya kecupann. Namun, lumayan lama. Membuat jiwa Jean mulai bergejolak.
Kurang sabar, karena Rayyan hanya menempelkan bibir saja. Jean pun membuka mulut. Namun, kedua matanya perlahan menutup. Membiarkan lidahh mereka beradu.
"Capek tidak?" bisik Rayyan seketika saat melepaskan tautan bibir mereka. Masih dengan napas yang memburu, jakunnya naik turun. Dekat-dekat Jeandana, hanya membuatnya terbakar.
Ditanya seperti itu, Jean hanya bisa menelan ludah. Dia tahu, dia paham betul ke mana arah pembicaraan mereka berdua.
Tidak sabar mendengar jawaban dari istrinya, Rayyan langsung melepaskan pakaiannya. Apalagi dilihatnya dari tadi Jean yang memakai baju menantang. Rasanya, ia ingin membuang jauh-jauh pakaian yang membuat para pria menatap istrinya dengan tatapan mupenggg tersebut!
Sekalian, ini adalah hukuman untuk istrinya itu. Yang dengan berani pakai baju begitu seksiee. Jean hanya boleh seksiee di depannya saja. Tidak ada yang boleh menikmati tiap lekuk tubuh wanitanya itu.
__ADS_1
"Mau di sini apa di kamar?"
Jean tidak bisa menjawab, ia hanya menatap suaminya tanpa kedip.
"Bagian mana yang sudah di sentuh pria brengsekkk itu?" Rayyan menyusuri tiap jengkal tubuh Jeandana. Mungkin terdengar sedikit emosi. Bila ingat istrinya duduk di pangkuan pria lain.
"Apa ini?" tanya Rayyan.
Jean berjingkat saat Rayyan menyentuh kemudian meremass gemas kedua wadah kentut tersebut. Rayyan gemas karena berani-beraninya Jean duduk di pangkuan pria lain. Tapi juga gemas, benda yang ia pegang membuatnya malah traveling ke mana-mana.
Kenyalll, terlalu gemas, Rayyan menepuknya keras. Membuat Jean sedikit kaget.
[Sialll!]
"Jangan pakai pakaian seperti ini lagi!" ucap Rayyan sambil menengelamkan wajah di ceruk leher Jeandana.
Membuat Jean mencengkram punggung suaminya itu. Sesapan Rayyan membuat Jean semakin menghangat. Dan wanita itu tambah gelisah.
Ingin main aman, mengingat Jean sedang hamil. Rayyan lantas membopong tubuh istrinya keluar kamar mandi. Ia angkat Jean dan meletakkan di tepi ranjang.
Sedangkan ia sendiri, berdiri dengan gagah berani di depan Jean yang memandangnya heran.
[Kau sedang apa, Raiiii?]
"Kamu tahu, kan? Kamu salah?"
__ADS_1
Jean menelan ludah. Kemudian memalingkan muka yang sudah panas dingin karena melihat sesuatu yang cukup mengesankan.
Belum disentuh, samurai itu menantang ingin menebasnya. Kontan saja Jean ingin tertawa. Namun, susah payah ia tahan.
"Apa yang membuatmu tertawa? Kau meledekku, Jean?"
Jean lantas mendongak, ia menggeleng pelan.
"Aku melihatmu tertawa barusan. Katakan! Apa yang kau tertawakan?" Rayyan semakin mendesak, ia mencondongkan tubuhnya hingga berada di atas tubuh Jeandana. Menjadikan kedua sikunya sebagai tumpuan.
"Ayo jawab! Kamu tertawa karena apa?"
Jean terkekeh.
"JEANNN!" panggil Rayyan.
"Pisang! Aku mau pisang!" jawab Jean spontan sambil membekap mulutnya dengan tangan. Bersambung.
******
Hallo teman-teman, terima kasih atas semua doanya ... Maaf bila terlalu serakah meminta lagi dan lagi doa-doa tulus dari kalian ..
Semoga Dokter Anisa binti Handoko lekas pulih dan sadar, karena beliau sudah mengerakkan jari. Meski sesaat, semoga beliau segera membuka Mata. Kabar yang Sept terima, suami dan kakak dari dokter anisa juga dirawat di RS yang sama karena tidak sanggup melihat dokter anisa 4 Hari ini koma.
Mohon doanya pada pembaca semua, doa tulus dari kalian sangat berarti bagi keluarga dokter anisa. Semoga Allah balas kebaikan-kebaikan kalian semua. Aamiin ... Aamiin yaarobbal alamin
__ADS_1
Terima kasih