
Suami Satu Malam 91
Oleh Sept
Rate 18 +
[Aku rasa telingaku salah dengar, apa benar kata papa? Jean sedang mengandung anak kami? Apa papa tidak mengada-ada, Jean tidak bicara apapun padaku]
"Lebih baik Jane tinggal di rumah bersama saya!"
Suara pak Perwira membuat Rayyan mengangkat wajahnya tinggi-tinggi. Pria yang tidak pernah melawan apa kata mertuanya itu, kini bersikukuh bahwa Jean akan tetap bersamanya.
"Nggak bisa, Pa. Jean harus sama Rey!"
"Cihh ... kamu mau saya kehilangan cucu saya?"
"Jeandana pasti aman sama Rayyan, Pa. Papa tidak perlu khawatir. Dan maaf, mungkin kali ini Rayyan yang salah dan teledor, hingga Jean lepas dari pengawasan Ray. Rayyan janji, hal ini tidak akan terulang. Papa bisa pegang omongan Rayyan."
Pria itu berusaha meyakinkan sang papa mertua agar tidak mengambil Jean dari sisinya. Tanpa Jean di rumah, rumah pasti seperti kuburan. Dan Rayyan tidak bisa kalau tidak tinggal dengan istrinya itu. Apalagi Jean hamil.
Astaga, ia sampai lupa. Mau balik kamar, tapi Pak Perwira kok sepertinya masih ingin bicara.
"Pa ... boleh Rayyan masuk?" akhirnya kata tanya itu lolos begitu saja.
Pak Perwira menghela napas panjang. Kemudian membiarkan menantunya itu masuk menemui Jeandana. Karena dari ekspresinya, Pak Perwira tahu, Rayyan benar-benar khawatir pada putri kesayangannya itu.
Rayyan pun berbalik, ia sudah tidak sabar menemui sang istri yang kini tengah mengandung benih darinya. Ia sudah tidak sabar menemui biji terong kukus yang mulai bersemi tersebut.
KLEK
Pelan-pelan ia melepaskan knop pintu. Dilihatnya dari jauh, Jean masih tidur. Masih tidak percaya, Rayyan mendekati ranjang. Ditariknya satu kursi, dan duduk tepat di sebelah Jeandana.
[Jean ... kamu hamil anakku, Jean?]
Wajah Rayyan masih seperti orang ling-lung, pria cerdas itu seolah tidak bisa berpikir jernih lagi, seakan akan kehilangan separuh IQ-nya. Ia tidak menyangka, Jean akhirnya hamil juga. Tapi, dia masih mau memastikan lewat bibir Jeandana sendiri. Diraihnya tangan Jean, digengam erat, kemudian diciumii berkali-kali.
"Kamu benar-benar hamil, Jean?" tanya Rayyan lirih meski Jean masih menutup kedua matanya.
Dilihatnya mata Jeandana. Kelopak matanya bergerak-gerak. Seketika Rayyan sumringah dan sangat antusias.
"Jeann!" panggil Rayyan lembut. Diusapnya rambut yang menutupi dahi wanita tersebut.
Melihat Rayyan saat membuka mata, Jean langsung mendesis dalam hati.
[Kali ini dia pasti akan mengurungku seperti di penjara!]
Jean tersenyum getir dalam hati. Belom apa-apa sudah suudzon pada suaminya. Dasar Jean.
"Makasih, Jean!" ucap Rayyan sendu. Pria itu langsung mendekapnya erat. Otomatis Jean heran, kerasukan arwah apa itu suaminya.
Jean habis trek-trekan di jalan, bahkan sampai celaka dan motor sport Rayyan tidak bersisa. Lalu terima kasih untuk apa? Hatinya jadi bertanya-tanya.
Jadi, Jean belom tahu kalau dia sedang hamil. Pertama kali yang tahu cuma Pak Perwira. Saat Pak Perwira melihat hasil general cheek up, begitu hasil keluar Jean sudah tidur. Jadi Jeandana belum tahu kalau di tengah hamil muda.
Lagian baru telat dua hari, Jean mana peka. Kalau masalah penjahat, dia sangat cepat. Kalau urusan seperti ini, Jean hampir tidak memiliki pengalaman di bidang hamil menghamilii dan perterongan seperti ini.
"Kamu nggak marah?" suara Jean terdengar ragu. Ia sepertinya siap menerima kemarahan sang suami.
"Sangat! Sangat marah ... berani sekali kamu mengendara seperti itu. Bagaimana kalau kalian celaka?" tatap Rayyan dengan wajah cemas.
Jean nampak berpikir.
[Kalian? Emang aku bonceng siapa?]
"Aku tidak mau sampai kalian celaka lagi, apa aku harus seperti Mas Dika. Sepertinya harus mencarikan bodyguard khusus untuk kalian."
"Kalian ... kalian apa sih, Ray?" Jean lama-lama jenggah. Dari tadi kok Rayyan membahas kata kalian. Memangnya ada siapa lagi selain dirinya?
Rayan langsung saja mengusap perut Jeandana. Membuat wanita itu beringsut karena merasa geli dan panik.
"Papi sepertinya harus cari bodyguard buat jagain kalian!" tambah Rayyan. Pria itu mengusap dan mengecupp perut Jeandana dengan hangat.
"Aku hamil?"
Saat Rayyan masih menciium perutnya, Jean masih tercengang. Ia tidak tahu kalau kini sedang berbadan dua.
"Ray! Kata siapa aku hamil? Aku bahkan belum pernah mengeceknya."
"Udah diperiksa sama dokter kata papa."
"Jadi aku hamil?" Jean tetap belum percaya sepenuhnya.
__ADS_1
Rayyan mengangguk pelan, dengan bibir yang merekah.
Jean kelihatan bingung. Sesaat kemudian ia tersadar, dan tubuhnya jadi lemas. Pasti semua kegiatan kedepannya akan lebih dibatasi.
[Aduhh]
....
"Mulai sekarang nggak usah nyetir sendiri, biar diantar sopir kalau aku nggak di rumah. Jangan pergi ke mana-mana sendiri! Dan satu lagi ... mulai sekarang tidak boleh naik motor. Samsak aku turunkan dulu. Kita pindah ke lantai bawah ...!" Rayyan berhenti sebentar, memikirkan apalagi daftar list larangan bagi ibu hamil tersebut.
"Ray! Jangan keterlaluan ... aku cuma hamil, tapi ini sangat berlebihan!" protes Jeandana.
"Ini assets aku, Jean! Kalian hartaku yang berharga!" cetus Rayyan. Pokoknya Jean harus nurut dengannya.
Sedangkan Jean, ia diserang dilema. Apakah dia sangat berharga bagi pria tersebut? Atau hanya anak yang ia kandung?
Ini semua karena Rayyan tidak pernah bilang cinta padanya. Jean kan jadi gamang dengan kabar kehamilan yang mengejutkan ini. Masa anaknya lahir tanpa ada cinta? Wajah Jean berubah sendu. Mungkin efek hormon kehamilan, wanita itu jadi sensitive dan mudah baperan.
"Jean!" panggil Rayyan.
Jean menoleh, menatap suaminya.
"Mikirin apa?"
Jean menggeleng. Padahal banyak pikiran banget.
"Ya sudah ... rebahan aja. Aku pijitin ya kakinya!"
Jean tersenyum getir, Rayyan jadi sangat baik pasti karena dia hamil. Bukan karena pria itu mencintai dirinya dengan tulus.
***
Lima hari sudah Jean dirawat di rumah sakit, pagi ini dokter sudah mengijinkan Jean pulang.
Pulang ke rumah bukannya senang, Jean merasa akan dimasukan dalam sel tahanan. Mau kabur saja, tapi tangan Rayyan terus saja menggengam jari-jarinya. Baik sepanjang jalan sampai masuk rumah. Sudah mirip truck gandeng.
KLEK .....
"TARAAAAA ...."
Jean kaget, begitu pintu rumah terbuka, banyak orang di dalam rumah. Ada Pak Perwira, papa Wira, mama Sarah, Elvira, Radika, dan si kembar di rumahnya.
"Selamat datang, sayang!" Mama Sarah langsung memeluk Jean dan mengucapkan selamat. Dan disusul yang lain. Jean benar-benar terharu dan merasa disayangi.
Setelah mengobrol sebentar, ganti Rayyan mengantar Jean ke kamar di lantai satu. Kamar baru yang akan ditempati saat masa kehamilan Jeandana.
KLEK
"Selamat datang, Sayang!" Rayyan membuka pintu kamar baru yang sudah direnovasi. Terlihat rapi, wangi dan benar-benar bergaya feminim. Jean sampai heran. Mengapa suaminya memilih kamar bernuansa merah muda, ini bukan gaya Jean. Dan lagi, ia juga tertegun. Sejak kapan Rayyan menyapa dengan embel-embel sayang? Prettt!
[Sayang? Siapa yang dia panggil sayang? Mungkin anak yang aku kandung]
"Sekarang ini kamar kita. Jadi kamu nggak perlu naik turun tangga."
"Hemm!" jawab Jean malas. Hamil membuatnya masam dari kemarin. Jujur, Jean sedang banyak pikiran. Merasa disayangi banyak orang. Tapi sepertinya sayangnya hanya untuk janin dalam perutnya. Bukan untuk dirinya. Wanita itu mudah sekali berkecil hati gara-gara tidak dapat kata I LOVE YOU dari sang suami.
[Kenapa dia murung sekali? Apa karena kecakepan?]
Ganti Rayyan yang berjibaku dengan pikirannya.
"Rebahan dulu, aku buatin minuman hangat," pesan Rayyan sebelum pergi.
Setelah Rayyan meninggalkan kamar, Jean memindai seluruh ruangan. Capek rebahan sejak di rumah sakit, Jean pun melihat-lihat kamar barunya.
Beberapa saat kemudian
"Jean ... jangan banyak gerak! Udah dia atas ranjang saja!" Rayyan datang sambil membawa minuman hangat dan banyak aturan untuk mendisiplinkan Jeandana.
"Ray! Kamu aja yang hamil kalau caranya begini!" ketus Jean marah.
"Iya ... kalau bisa, aku aja yang hamil, biar kamu gak sakit," jawab Rayyan tulus. Namun, terdengar seperti bualan bagi Jeandana yang hatinya sedang galau.
Jean tiba-tiba bad mood, ia pun berbaring dan menutupi tubuhnya dengan selimut.
[Kenapa jadi uring-uringan? Apa aku salah ucap?]
***
Malam Hari
Semua anggota keluarga Dirgantara dan keluarga Perwira sudah pulang. Sekarang hanya tinggal Rayyan yang duduk di tepi ranjang sambil mengamati Jean yang pura-pura tidur. Rayyan merasa sikap Jean sedikit dingin.
__ADS_1
"Kamu kenapa?"
"Aku ngantuk, bisa tinggalkan aku sendiri?" jawab Jean malas.
"Jean ... katakan! Ada apa sebenarnya? Apa kamu tertekan karena banyak larangan yang aku berikan?" Rayyan merasa penyebab istrinya murung mungkin karena aturan-aturan darinya.
"Oke ... kamu bebas ngapain saja sekarang. Tapi, pastikan anak kita tidak kenapa-kenapa," tambah Rayyan yang ingin melihat wajah cerah istrinya. Ia juga kepikiran kalau Jean kelihatan lesu, masam dan tidak bahagia.
"Jeann!" panggil Rayyan karena Jean hanya diam. Perlahan ditariknya selimut yang menutupi wajah Jeandana.
[Astaga ... ada apa dengannya?]
"Jean, apa aku melakukan kesalahan? Pukul saja bila aku salah. Jangan diam dan menangis begini, Jean." Rayyan panik, menghadapi istrinya yang biasanya super cuek, kaku, galak kini malah menangis. Kalau sudah begini, ia bingung bagaimana caranya menghadapi Jeandana dengan sisi lemahnya.
Srottt ....
Jean menyusut hidung, wanita itu kemudian membetulkan posisi duduknya. Sambil bersandar, ia meraih tisu di atas nakas.
"Jean ... ceritakan ... ada masalah apa sebenarnya?"
Jean yang tidak pernah menangis di depan Rayyan secara langsung, malam ini air matanya tumpah. Wanita itu menunjukkan sisi lainnya.
Rayyan lantas mendekat, diraihnya tubuh Jean.
"Apapun itu ... maafkan aku. Maaf ... Jean. Jangan menangis. Hatiku sakit sakit melihatmu menangis ... apa kamu marah, karena aku sudah membuatmu hamil?"
Jean menggeleng dalam pelukan Rayyan.
"Lalu ada apa? Katakan ...! Aku tidak bisa membaca apa yang ada dalam hatimu hanya dengan melihatmu menangis?"
Jean menarik diri, kemudian mengsuap wajahnya.
[Hamil membuatku gampang menangis, astaga ... ada apa denganku. Kenapa terasa sesak sekali?]
"Katakan! Apa yang kamu pikirkan?" tanya Rayyan sembari memegang kedua bahu Jeandana.
"Sudahlah, Ray. Akhir-akhir ini aku merasa kacau." Jean menepis tangan suaminya. Kemudian beranjak turun dari ranjang. Sepertinya ia butuh udara segar untuk membuatnya bisa bernapas.
Rayyan tidak menghalangi, dilihatnya Jean berjalan meninggalkan dirinya.
[Pasti ada sesuatu yang kamu sembunyikan darimu ... apa kamu masih menyimpan rasa sama kakakku?]
Settttt
Jean terhenyak, ketika merasakan pelukan hangat dari balik tubuhnya. Seketika ia mematung.
"Jean! Bisahkan hanya aku saja yang ada di hatimu?" tanya Rayyan yang salah paham atas sikap Jean yang dirasa dingin padanya.
Ganti wanita itu yang tertegun. Keduanya tetap di posisi seperti itu hingga Jean mengeluarkan suara.
"Lalu bagaimana denganku? Adakah aku di dalam hatimu, Ray?" tanya Jean kemudian.
"Pertanyaan bodohhh apa ini? Tanpa aku jawab, kamu pasti paham. Sejak aku menyentuh tubuhmu ... sejak tubuh kita menyatu ... aku selalu memikirkanmu ... Bohong bila aku bilang itu bukan nafsuu ... Tapi, Jean ... aku hanya ingin kamu tahu. Aku menyukai apapun darimu ... Semua. Seperti candu, aku tidak bisa bila tidak denganmu .... Jadi jangan pikirkan pria lain ... aku bisa gila Jean. Bagaimana nasibku dan anak Kita nanti? Bisahkan hanya ada aku dihatimu? Seperti aku, hanya ada namamu di sini!"
Rayyan memutar tubuh Jeandana, meraih tangan istrinya itu. Meletakkan telapak tangan Jean tepat pada jantungnya yang berdegup karena seorang wanita bernama Jeandana Mahayu Djangkaru.
"Jadi aku ada di sini?" tanya Jean dengan suara lirih.
Rayyan mengangguk yakin.
"Lalu bagaimana denganku? Adakah aku di hatimu?"
BUGH ...
Jean menonyor dadaa bidang kotak-kotak tersebut. Kemudian memeluknya erat.
"Kenapa tidak pernah bilang cinta padaku? Kamu pria tidak punya perasaan!"
Jean terus memukuli tubuh bidang tersebut, tangannya baru berhenti ketika Rayyan mengengam tangannya, meremass lembut jari-jarinya.
"Aku pikir kamu tidak butuh kata seperti omong kosong itu ... aku pikir kamu sudah paham ... harusnya kamu tahu, cinta ini tidak perlu dikatakan ... Karena kita sudah membuktikannya!" Rayyan melepas tautan tangannya dengan Jeandana. Perlahan mengusap perut Jean lembut.
"Love you!" bisik Rayyan sembari memegang tengkuk Jeandana. Alunan kata cinta akhirnya keluar dari bibir tipis Rayyan. Bersamaan dengan ciumann yang dalam, terasa menghangat dan perlahan membuat wajah keduanya memanas.
Klik
Lampu pun dimatikan.
Bersambung
__ADS_1