
Suami Satu Malam Bagian 41
Oleh Sept
Rate 18 +
Pagi ini Elvira sarapan dengan tidak tenang, bagaimana tidak, masa ia merasa ada yang mengawasi tiap gerak-geriknya. Mau ambil minum, Jean dengan sigap memberikan segelas jus untuk dirinya. Waktu ia berdiri mau mengambil ini itu, bodyguard cantik itu juga turut mengekor di belakangnya. Lama-lama Elvira tidak nyaman. Hingga ia mengeser duduk dan berbisik pada Radika.
"Mas! Aku nggak mau diikutin Jean terus!" protes Elvira sambil berbisik agar tidak terdengar oleh telinga Jeadana.
"Ya sudah! Nanti aku suruh dia jaga jarak 5 meter biar kamu leluasa," ujar Radika enteng.
"Ya ampun, aku bisa jaga diri. Lagian aku juga punya sabuk hitam, ijo, kuning, biru!" tukas Elvira dengan sebal.
"Kamu lagi hamil, dan Rayyan duda!" ucap Radika tegas dan terdengar ambigu di ruang dengar Elvira.
Mulut Elvira langsung ternganga.
"Lalu apa hubungannya dengan aku hamil dan Rayyan duda?" Elvira mengangkat tangan, begitu juga dengan kedua alisnya. Wanita itu merasa heran dengan isi kepala suaminya tersebut. Memang kenapa kalau Rayyan duda?
"Jangan protes, pokoknya semua demi kebaikan kamu dan calon baby kita!" kekeh Radika. Ia merasa berada di jalan yang benar. Semua keputusan Radika tidak bisa diganggu gugat.
"Aku bisa stress kalau begini!" keluh Elvira.
"Jean! Jangan dekat-dekat istriku. Ambil jarak 10 meter. Bersikaplah seolah tidak terlihat!" teriak Radika sambil menoleh ke arah Jean.
BUGH
"Aduhhh!"
Radika terkekeh saat Elvira menonyor lengannya yang kekar. Mungkin rajin fitness, jadi otot-otor suaminya itu terlihat WOW!
"Maaf, Jean! Jangan dengar suamiku!" buru-buru Elvira menatap bodyguard barunya. Radika selalu bisa menjebaknya. Kalau begini ia kan jadi tidak enak sendiri dengan Jeandana.
Sedangkan Jean, ia hanya mengangguk pelan. Posisinya masih sama. Berdiri tegak dengan sikap sempurna. Sudah mirip prajurit perang. Padahal parasnya cantik, menarik dan putih bersih. Kenapa mau jadi bodyguard? Elvira hanya bisa bertanya-tanya dalam hati.
Beberapa saat kemudian
Vira sudah menenteng tas kecil, sedangkan Radika membawa banyak paper bag, oleh-oleh untuk keluarga mertua. Untuk mama, papa mertua, untuk Irene dan Kimora. Untuk Kalandra, sengaja Radika tidak membawakan apa-apa. Ia sepertinya masih dendam. Karena selama ini yang suka main pukul kan Andra. Adik ipar yang seperti musuh.
__ADS_1
"Jean di rumah aja ya, Mas?"
"Aku bayar dia mahal khusus buat kamu, Vira! Jean! Kamu duduk depan!" titah Radika. Sedangkan ia duduk di jok belakang bersama Elvira.
"Tapi aku kan mau nginep, Mas?" Elvira merajuk. Masa bawa bodyguard ke rumah mamanya. Bisa-bisa ia diledek Irene sampai lemas.
"Aku perhatikan di rumah papa banyak kamar!" jawab Radika enteng.
Kesal karena tidak bisa membantah perkataan Radika, Elvira langsung bersandar dan melipat tangan. Mau bagaimana lagi, Radika selalu memaksa. Ia selalu kalah kalau adu debat dengan pria tersebut.
"Jangan lupa senyum! Nanti dikira kamu nggak bahagia menikah denganku. Tau sendiri, kan? Seperti apa adikmu itu?" Radika melirik lewat sudut matanya.
"Kenapa takut dihajar Kalandra? Mas lawan juga bisa. Tubuh juga sama kuatnya!" timpal Elvira sebal.
"Ish! Bisa-bisa mereka bakal merebut kamu dari sisihku!" Seketika Elvira diam. Memang benar sih, bukannya kalah otot. Radika selama ini tidak membalas karena ia cenderung mengalah. Lebih tepatnya ada udang di balik peyek. Makanya diam saja waktu seisi rumah menghajar suaminya itu.
Kalau tidak begitu, mungkin mereka sekarang masih seperti orang asing. Hanya mantan ipar yang tidak terlalu dekat dan saling jaga jarak.
"Aku gak mungkin nyakitin orang-orang yang kamu sayang. Inget itu! Keluargamu, juga keluarga Mas!" Perlahan tangan Elvira diremass.
"Hemm!" Elvira yang semula masam, kini tidak bisa menyembunyikan senyumnya. Kata-kata yang Radika ucapkan, kadang terlalu banyak mengandung gula. Terlalu manis, bikin ia senyum tak jelas.
"Pelan-pelan!" Radika mengulurkan tangan, membantu Elvira untuk turun.
Mereka berdua masuk, tentunya diikuti Jeandana dari belakang. Wanita itu berjalan dengan sikap siaga. Hampir saja ia menendang seekor kucing yang kebetulan turun dari pohon.
"Ya ampun! Itu hanya Cemong! Gak apa-apa, Jean. Rileks ya, rumah papa aman kok!" ucap Elvira yang melihat betapa sigapnya Jean.
Elvira berjongkok, kemudian mengusap kucingnya yang memiliki ekor panjang tersebut.
"Ayo, masuk. Jangan main terus!"
Radika tersenyum geli melihat istrinya bicara pada seekor kucing. Lucu sih, tapi ia alergi dengan bulu kucing. Jadi saat Cemong mendekat dan mengendus ke kakinya, Radika langsung berjingkat. Pria itu merasa geli sendiri.
"Mas Dika bisanya juga main sama Cemong dulu!" Elvira menyatukan alis.
"Mas alergi!"
"Nggak mungkin, dulu sempet gendong kan?"
__ADS_1
"Hehehe ... aku tahan itu. Besoknya ke rumah sakit."
"Apa?"
"Demi dekat sama kamu!"
Elvira tidak bisa menyembunyikan hidungnya lagi. Mekar, kembang kempis karena perkataan Radika lagi.
Tidak ingin berlama-lama di halaman, mereka pun masuk rumah. Hunian yang cukup besar, bisa dikatakan paling menonjol di kawasan itu. Dan begitu masuk, mama Lina langsung menyambut dengan pelukan hangat.
"Viraaa! Astaga ... ya ampun. Mama kangen. Kamu Keterlaluan Dika! Nyulik anak kesayangan Mama lama banget!" Mama Lina menepuk bahu Radika cukup keras.
Radika hanya tersenyum tipis. Kemudian ia mengulurkan semua barang bawannya yang juga dibantu dibawakan oleh Jean.
"Siapa itu?" bisik Irene yang kepo berat.
"Oh ... assistan." Elvira bohong, malu kalau ia diikuti bodyguard. Bisa-bisa Irene dan adiknya mengolok-olok. Sabuk hitam kok punya bodyguard. Mubazir!
Irene tidak curiga, ia hanya mangut-mangut. Begitu juga dengan Kalandra, sejak tadi ia menatap Radika tanpa kedip. Barulah saat Radika menyapa duluan, pria itu tersenyum tipis.
"Sehat, Pa?" tanya Radika basa-basi.
Tuan Pram hanya mengangguk, pria itu kini sibuk dengan Elvira. Membelai rambut Elvira yang duduk bersandar di pundaknya.
"Kenapa lama sekali? Kalian cari apa di luar sana? Bulan madu kok lama sekali. Apa dia menyekapmu?" sindir tuan Pram.
Ehem ehem
Radika berdehem keras, membuat semua mata tertuju padanya.
"Bukan disekap, Pa. Kami kan sedang usaha!"
"Ish! Tidak selama itu juga!" sela Kalandra.
"Kalau nggak begitu, mungkin nggak berhasil," tukas Radika dengan sombongnya.
"Lihat aja nanti!" ledek Andra. Kalandra dan Radika kalau ketemu memang seperti tikus dan kucing. Susah akurnya, baru ketemu udah ngajak duel lewat sorot mata masing-masing.
"Sayang! Tunjukin hasil USG kemarin!" titah Radika angkuh.
__ADS_1
Mama, papa, Irene dan Kalandra seketika menatap Elvira. Bersambung.