Suami Satu Malam

Suami Satu Malam
Menuju Hari-H


__ADS_3

Suami Satu Malam 78


Oleh Sept


Rate 18 +


Bukan istri, bukan kekasih. Hanya seorang wanita yang tiba-tiba menyeretnya dalam sebuah hubungan rumit. Rayyan pikir tidak akan mudah terpengaruh dengan apapun mengenai wanita itu. Ternyata, melihatnya menangis di depan sang kakak, hatinya mulai terusik juga.


Masih dengan tangan yang mengepal, Rayyan balik kanan dan meninggalkan La-Sorra coffee house. Pria itu berjalan tegap, anti menoleh ke belakang.


***


Satu jam kemudian


Jean yang kini sudah sendirian, sejak tadi memainkan ponsel sembari melirik angka digital di sudut kanan atas ponselnya. Sudah lama ia menunggu. Namun, Rayyan yang katanya mau bicara malah tak kunjung kelihatan batang hidungnya.


[Ke mana dia? Dia pikir aku nggak ada kerjaan?]


Jean yang sudah menghabiskan gelas kopi yang kedua, matanya melihat ke sekeliling. Sama sekali tidak ada tanda-tanda kemunculan Rayyan, calon suami yang ia dapat dari hasil malak, tapi ia yang justru merasa dipalak.


Bosan, akhirnya dengan malas ia menghubungi nomor telpon Rayyan.


Tut Tut Tut


.....


Tiga kali ia memanggil, tiga kali pula ia diabaikan.


"Apa sih maunya nih cowok?" kesal Jean.


"Sekali nggak kamu angkat! Aku tinggal!" Seperti OGJ baru, Jean bicara sendiri pada benda mati tersebut.


Tut Tut Tut


"Sialann kamu, Raiiii!" maki Jean dalam hati. Ia meremass benda pipinya itu kemudian memasukkan ke dalam tas.


Di tempat yang lain, Rayyan sedang duduk di ruang meeting. Raganya memang berada di sana, tapi jiwa pria itu berkelana. Ia masih terbayang-bayang kejadian di caffe tadi.


[Apa Elvira saja belum cukup?]


[Jangan sampai menyesal! Menyia-nyiakan berlian hanya demi emas imitasi!]


[Jean! Awas kalau kau nekat dengan ibunya Zia, Zio!]


"Pak Rayyan ... Pak!"


Rayyan tersentak, ia kaget ketika semua peserta meeting menatap ke arahnya.


"Maaf, saya rasa ... sampai di sini meeting hari ini!" Rayyan langsung bangkit, pria itu berdiri meninggalkan kursinya dan keluar dari ruang meeting dengan perasaan kacau.


Percuma meeting, isi kepalanya tidak sinkron. Hatinya di mana, tubuhnya di mana.


"Tuan, apa Tuan sedang tidak enak badan?'" tanya Krisna, sekretaris setianya selama ini.


Rayyan mengangkat tangannya, "Aku sangat sehat, Kris!" jawab Rayyan sedikit emosional.


Tap tap tap


Rayyan mempercepat langkah kakinya, pria itu kemudian masuk ke ruang kerjanya.


BRUAKKK


Ia banting pintu ruang kerjanya karena merasa kesal.


Sesaat kemudian, ada telpon masuk dari WO yang memang sudah ia pasrahkan untuk mengantur segala sesuatu yang berkaitan dengan pernikahannya.


Ya, seminggu lagi mereka akan menikah. Rayyan dan Jeandana. Rayyan sudah memutuskan sendiri tanggalnya. Rencananya, hari ini ia akan mengajak Jean melihat gaun pengantin. Tapi, moodnya berubah buruk. Hingga telpon dari Jean pun ia abaikan.


Malam Hari


Rayyan baru pulang, ia lembur sampai pulang telat. Hingga mama Sarah kembali berceloteh.


"Kenapa malam sekali? Calon pengantin harus dihemat tenaganya. Lagian apa Kris tidak bisa mengerjakan sendiri? Sampai kau harus turun tangan langsung?"


Baru pulang, mama Sarah sudah ngomel-ngomel. Rayyan pun langsung naik ke atas.


"Lah! Ada apa dengan anak itu? Mau nikah kok wajahnya kusut, seperti menunggu putusan bersalah dari hakim?" komentar mama Sarah.


"Udah, Ma. Rayyan capek, jangan ganggu dia." Tuan Wira menyesap kopinya, sembari kembali nonton bola.


"Hemm!"


Sesaat kemudian

__ADS_1


Rayyan sudah selesai mandi, ia mau turun ke bawah. Tidak sengaja ia melewati kamar Radika. Samar-samar terdengar suara anak-anak tertawa, terdengar meriah dan ceria. Rayyan berhenti sejenak, menatap pintu kamar tersebut. Mematung sebentar, kemudian menghela napas dalam-dalam.


[Aku nggak akan biarin kamu merusak kebahagian mereka, Jean!]


***


Beberapa hari kemudian. Kediaman keluarga Perwira.


"Nona ... Nona Jendana ... ada kiriman paket."


Bibi mengetuk pintu kamar Jeandana. Pagi-pagi sudah banyak paket yang datang. Bibi pun memanggil Nona mudanya itu.


"Dari siapa, Bi?"


Tiba-tiba pak Perwira muncul di belakang Bibi. Hampir saja jantung Bibi copot.


"Anuu ... itu Tuan ... dari Tuan Rai."


Pak Perwira hanya mengangguk, kemudian meninggalkan Bibi. Ia pun pergi ke ruang kerjanya, sang ajudan sejak tadi juga sudah mengekor dari belakang.


"Non!" panggil bibi sekali lagi.


KLEK


"Ada apa, Bi?"


"Ada banyak paket, Non."


Alis Jean mengkerut, wanita itu kemudian menuju ke ruang tengah. Di mana sudah banyak kotak berjajar di sana.


[Apa ini?]


[Dari Rayyan? Aku pikir dia sudah lupa dengan pernikahan ini, sudah tiga hari dia tidak menghubungi sama sekali]


Sambil memasang muka masam, Jean membuka satu persatu paket yang ia terima. Ia penasaran kotak paling besar, begitu ia buka, matanya langsung menatap nanar.


Sebuah gaun pengantin putih, penasaran ia pun mengangkat gaun itu dari kotaknya yang besar itu.


"Cantik sekali, Non. Bagus bener ... ada kelap-kelipnya!" komentar Bibi spontan.


Jean hanya tersenyum tipis. Kemudian ia mengambil kertas yang tersemat di dalam kota tersebut. Pelan-pelan ia baca tulisan tangan yang tergores pada kertas warna merah hati itu.


[Pakaian cantik untuk wanita yang paling cantik]


Di perusahaan. Rayyan sedang duduk sambil memeriksa berkas. Begitu Kris masuk ruangan, ia langsung bertanya. "Sudah kau kirim paketnya, Kris?"


"Sudah, Tuan!"


"Baiklah, kamu boleh keluar."


"Baik, Tuan ... Oh iya. Saya sempat tuliskan sedikit pesan di paket tersebut, Tuan."


"Terserah!" jawab Rayyan ketus.


Kris lalu mengangguk, pria itu kemudian keluar meninggalkan Rayyan. Rupanya yang menulis pesan di paket adalah Krisna. Pria itu iseng sekali, mungkin karena Kris kasian. 5 tahun ini bosnya sama sekali tidak ada kemajuan dalam hal asmara.


Sengaja ia menulis kata yang bukan-bukan, biar si calon pengantin tersentuh. Karena Kris tahu, Rayyan tidak ada sisi romantisnya. Pantas dia jomblo lama, Kris sendiri sudah punya satu anak, istri cantik pula. Lihat Rayyan? Awet sekali dengan status dudanya.


Kris hanya ingin, ada sesuatu yang hangat bisa menyentuh dinginnya hati sang atasan tersebut. Biar bisa lentur, tidak sekaku ini karena kurang belaian dari seorang wanita. Dalam hati, Kris tertawa jahat.


***


Sementara itu, Rayyan masih saja berkutat dengan lembaran berkas serta file-file dalam laptopnya. Meski mau menikah, tidak ada gurat bahagia sama sekali.


Ting


Tiba-tiba ponselnya menyala, Rayyan pun melirik sebentar. Melihat pesan dari siapa.


[Terima kasih, paketnya sudah tiba]


Setelah membaca pesan dari Jean, Rayyan enggan sekali membalasnya. Hingga ia putuskan mengacuhkan saja pesan itu.


Ketika langit mulai senja merata, Rayyan pun bersiap pulang. Wajahnya nampak kusut, seperti banyak pikiran.


"Tuan, apa Tuan kurang enak badan? Saya lihat akhir-akhir ini wajah Tuan Rayyan sedikit muran?"


"Aku sehat-sehat saja, Kris!" jawab Rayyan kesal.


[Astaga, ada ya calon wajah pengantin seperti calon wajah tersangka?]


"Tuan kapan cuti? Pekerjaan bisa saya handle."


"Untuk apa cuti? Semua sudah dihandle WO!"

__ADS_1


"Oh!" Kris langsung diam. Sepertinya sang bos dalam mood yang buruk.


***


Di dalam kamarnya, Jean merasa aneh dengan sikap Rayyan. Mengapa pria itu sama sekali tidak menghubungi dirinya. Jangan-jangan ia mau main-main dengan pernikahan ini. Kalau sampai ini gagal, bisa-bisa nama papanya tercoreng. Tidak mau itu terjadi, ia mencoba menghubungi Rayyan malam itu.


"Hallo?"


Jean lega karena telponnya langsung diangkat.


"Nona Jean?" tanya Kris.


"Ini ponsel Rayyan, kan?"


"Iya, Nona."


"Mana Rayyan?"


Kris menatap calon pengantin yang sudah mabukk dan merancau di depan bartender. Kris kemudian menjelaskan situasi yang sebenarnya.


"Oke! Tetap awasi dia! Aku ke sana!"


Tap tap tap


Jeandana keluar dengan buru-buru, untung sang papa dengan ada urusan di luar. Jadi dia bisa keluar dengan leluasa.


D'Glass Club


Jean menghela napas panjang ketika melihat Rayyan sudah ambruk. Kepalanya bahkan sudah melekat pada meja.


"Apa yang terjadi, Kris?"


"Saya kurang tahu, Nona."


"Tidak bagus jika mengantarnya pulang ke rumah seperti ini."


"Iya, Nona."


"Bisa bantu aku membawanya?"


Kris mengangguk.


***


Tidak mungkin mengantar Rayyan pulang dalam kondisi mabuk, akhirnya mereka berdua malah membawa Rayyan ke sebuah hotel.


Di dalam kamar hotel, Jean sudah menenteng tas, siap untuk balik lagi ke rumah. Ia tidak mau papanya mencari.


"Kris, aku titip Ray!"


Krisna terlihat gelisah, baru saja ia dapat pesan singkat dari rumah. Istrinya sudah menunggu.


"Bisa tidak Nona menjaga sampai Tuan tersadar? Putri saya sedang demam di rumah. Istri saya panik, tidak ada orang di rumah."


"Oh ... cepatlah pulang. Jangan pikirkan Rayyan!" seru Jeandana. Ia malah merasa tidak enak dengan Krisna.


Sama-sama pernah merasakan jadi pegawai, Jean tahu betul bagaimana ketika urusan keluarga menjadi nomor sekian karena pekerjaan.


"Terima kasih banyak, Nona!" ucap Krisna tulus. Jean hanya mengangguk.


***


Pagi harinya


Terlihat bibirnya menggembang, pria itu tidur dengan nyenyak. Sepertinya sedang mimpi indah. Namun, tiba-tiba tangannya merasakan sesuatu yang aneh.


[Apa ini? Sejak kapan guling banyak rambutnya]


[Lembut sekali? Sejak kapan bibi punya sprai selembut ini]


Rayyan terus meraba, hingga sampai pada sesuatu yang kenyalll


Brukkk


"Aduhhhh!" Rayyan meringis, memegangi pinggangnya. Pria itu jatuh dari ranjang karena sebuah kaki yang menendangnya cukup kuat. Bersambung


Tolong, tangan kondisikan Rai ... belom ada stempel MUI.


Selamat pagi ...


Akan Sept pilih tebakan siapa yang kemarin bener. Tunggu ya ... Sept pilih secara acak.


__ADS_1


__ADS_2